
Sore hari di rumah Dinata tengah terjadi keributan, Siska mengamuk karena kartu kreditnya di blokir oleh suaminya.
"Daddy, kenapa Daddy memblokir kartu mommy, mommy malu Dad tak bisa membayar belanjaan mommy" marah Siska kepada David.
"Maaf mom, Daddy terpaksa harus melakukan ini karena perusahaan sedang mengalami kerugian besar, karena ada karyawan perusahaan yang melakukan penggelapan uang." terang David berharap istrinya itu mengerti dengan keadaan nya.
"Mommy tidak mau tahu Dad, itu semua urusanmu...Mama minta sekarang juga Daddy pulihkan kembali kartu mommy" tekan Siska kepada suaminya. Siska memang egois dia tak mau memikirkan keadaan suaminya , dia hanya memikirkan popularitasnya di antara teman-teman sosialitanya.
"Tidak bisa mom, apa kamu mau kita benar-benar bangkrut hah. Kamu hanya memikirkan belanja, belanja, dan belanja saja. Bahkan untuk saat ini Daddy harus menjual beberapa aset milik kita untuk menutupi semua kerugian perusahaan, apa kau mengerti ha" bentak David.
Siska terlonjak kaget sambil memegang dadanya, ia kaget karena baru kali ini suaminya berani membentaknya. Dan dia juga kaget mendengar keadaan keluarga Dinata.
"Kau berani membentakku Dad" lirih Siska dengan mata yang berkaca-kaca.
David tak peduli dengan drama istrinya, dia lebih memilih naik ke atas dan masuk kedalam ruang kerjanya.
"Tak mungkin, tak mungkin kalau perusahaan Dinata akan jatuh bangkrut aku harus berpikir sesuatu" gumam Siska seraya mondar mandir kesana kemari
Siska tak rela kalau harus kehilangan kehidupan mewahnya. Nanti apa kata teman-teman nya kalau dirinya berubah menjadi orang miskin.
"Ya, aku harus menemui Viona untuk membantu keluarga Dinata. Ya aku benar hanya Viona yang bisa membantuku" racau Siska yang tak jelas.
"aku akan menghubungi nya lebih dulu, aku akan mengajak dia ketemuan" gumam Siska.
Ia mengambil tasnya dan mengambil ponselnya yang ada di dalam tas, Siska memencet nomor Viona mencoba menghubunginya.
"Hallo Viona" sapa Siska.
"Iya, Hallo tante" sapa Viona dari sebrang telpon.
"Tante ingin bertemu denganmu sekarang juga, tante tunggu kamu di restoran X" ucap Siska langsung
"Hmmmm" hanya itu yang keluar dari mulut Viona, ia sebenarnya malas bertemu Siska pasti ada sesuatu yang dia inginkan.
Akhirnya Siska memutuskan ponselnya. Lalu dia keluar dari rumahnya pergi ketempat yang sudah ia sepakati dengan Viona.
Di sebuah restoran terlihat dua wanita dewasa beda usia itu terlihat duduk saling berhadapan.
"Apa yang tante inginkan" tanya Viona to the point, ia tahu tabiat calon mama mertuanya itu. Viona duduk sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi seraya menyilangkan tangannya di depan dada, matanya lurus ke depan menatap Siska.
"Mmm....ini Viona, tante ingin" jawab Siska tak jelas sehingga membuat Viona kesal.
"Katakan tante, jangan bertele-tele karena waktuku tak cukup banyak" tekan Viona.
"Apa kamu bisa membantu perusahaan Dinata lagi Viona" cicitnya membuat Viona mengeryit.
Viona memang mencintai Erik, tapi bukan berarti mereka bisa memanfaatkannya, sama saja keluarga Dinata ingin memeras dirinya.
"Maksud tante apa" tanya Viona penasaran dengan keadaan perusahaan Dinata. Bagaimanapun juga kalau perusahaan itu bangkrut dia juga akan mengalami kerugian, karena dia kemarin tengah menginvestasikan uangnya ke sana.
"Perusahaan sedang mengalami kerugian karena kasus korupsi yang di lakukan oleh pegawai perusahaan." jawab Siska menghela nafas berat.
"Jadi tujuan tante mengajak ku ketemuan di sini itu karena ini? Apa tante pikir aku akan mengeluarkan uangku untuk perusahaan tante lagi? Tak semudah itu tante" sinis Viona.
"Kalau kamu tidak bisa membantu perusahaan Dinata tante akan menyuruh Erik untuk memutuskan pertunangan kalian, dan tante akan menjodohkan Erik dengan wanita lain yang mau membantu keluarga kami" ancam Siska tak tahu diri.
"Lakukan jika kalian mampu" tantang Viona.
Dengan kondisi keluarga Dinata yang sedang krisis akan mudah bagi Viona untuk menjatuhkannya.
Viona tak mau di manfaatkan oleh keluarga Dinata, sedangkan Viona tahu kalau selama ini Erik masih suka bermain wanita di belakangnya.
"Sialan, dia tak bisa di ancam rupanya" umpat Siska.
Siska kesal karena penilaian dia tentang Viona ternyata salah, Viona bukan gadis lugu yang mudah di ancam dan di manfaatkan.
*
*
*
Sedangkak di rumah Arsen dia sedang duduk bermesraan dengan istrinya di sofa, sedangkan putrinya sedang sibuk membantu omanya membuat cemilan.
"Baby, apa kamu tidak mau pergi honeymoon hmm" tanya Arsen sambil mengelus rambut istrinya yang lagi bersandar di dadanya sambil menonton tv.
"Tidak honey, di rumah saja kau menggempurku terus apa lagi nanti kalau bulan madu, aku masih sayang sama pinggangku" tolak Alisya, karena kalau untuk urusan membuat Arsen junior suaminya itu selalu semangat dan gak mau di tolak keinginnanya.
Arsen tertawa kecil kalau mengingat istrinya merengek minta untuk di lepaskan, tapi ketika sudah di sentuh tetap saja istrinya akan men de sah.
"Biar cepat jadi baby, supaya Reva ada temannya nanti aku tak mau kalau Reva terlalu dekat dengan Reynand, nanti dia akan mengabaikanku" ucap Arsen tak berdasar. Dia malah cemburu sama ponakannya sendiri.
"Biarkan saja mereka dekat, toh mereka hanya anak kecil yang masih butuh bermain. Kamu ini posesif sekali" kesal Alisya.
Arsen yang tak terima di katai posesif dia malah mer*mas dada Alisya dengan kasar.
"Awwwww...sakit honey" pekik Alisya seraya berusaha menyingkirkan tangan Arsen dari da danya namun percuma tenaga suaminya lebih besar dari tenaganya.
Arsen terus mer*mas kedua da da Alisya sesekali ian menjepit pu*ing, membuat Alisya men de sah.
"Ahhhhh...." de sah Alisya, Alisya merutuki mulutnya yang tak bisa di ajak kompromi. Arsen tersenyum licik.
"Tadi katanya sakit, sekarang malah men de sah" ledek Arsen yang belum melepaskan tangannya dari da da Alisya.
"Lepas honey, nanti Reva melihatnya" protes Alisya. Pasalnya mereka masih di ruangan Tv.
Arsen tak menggubris ucapan Alisya, ia malah menurunkan satu tangannya lalu menyingkap dress yang di kenakan Alisya. Ia mengelus bagian bawah tubuh Alisya.
"Kau sudah ba sah baby" goda Arsen.
"Ahhh...honey pleas" ucap Alisya memohon untuk di puaskan. Arsen bisa melihat mata sayu istrinya yang sudah berga*rah
Tapi Arsen bukannya menuruti istrinya, tapi dia malah kabur meninggalkan istrinya yang sudah berha*rat. Arsen tertawa keras karena berhasil menggoda istrinya, dia berlari menghindari amukan dari Alisya, ia memilih menyusul putrinya yang ada di dapur.
"Honeyy.....awas kamu, aku akan membalasnya" teriak Alisya tak terima karena sudah di permainkan suami mesum nya itu.
Bersambung
Happy reading guys🙏
Bantu follow akun otohor guys🙏😘