Baby Girl

Baby Girl
BAB 161



Ketika semua orang sedang asik berdebat. tanpa sepengetahuan mereka Reynand diam-diam mendekati Snow.


"Buat Rey saja Snow nya" pinta Rey tiba-tiba seraya mengelus bulu lembut Snow.


Reagan menepuk jidatnya.


"Tidak! itu punya Reva" tolak Reva tegas.


"Kan om Arsen tidak ngbolehin Snow tinggal di sini, Jadi buat Rey saja.. dari pada di buang ke hutan lagi" Sahut Reynand.


"Reva bilang tidak ya tidak, itu punya Reva" kekeuh Reva.


"Tidak, Snow sekarang punya aku" ucap Reynand ngotot.


"Sayang, biarkan saja Reynand bawa pulang Snow ya, mama takut kamu di gigit Snow" bujuk Alisya lembut.


"Gak boleh, itu punya Reva mama, Reva sudah jauh-jauh pergi ke hutan sama om Max, masak si Snow nya malah mau di kasih Rey" rengek Reva.


Dia tidak rela kalau harimaunya di minta Reynand, pasalnya dia sudah susah-susah merengek kepada Max, giliran dapat malah mau di minta orang lain.


"Tapi kamu perempuan sayang, nanti kalau kamu di gigit Snow gimana? mama tidak bisa melihat kamu terluka, nanti mama nangis" Alisya masih berusaha membujuk Reva.


"Snow baik mama, tidak mungkin Snow gigit Reva" ujar Reva seraya melepaskan diri dari pelukan papanya, lalu dia mendekati snow dan memeluknya, bahkan dia menyingkirkan tubuh Reynand yang sedang mengelus elus bulu halus Snow.


Alisya menghela nafas pasrah.


Reynand merajuk lalu, menghampiri Daddy nya.


"Ayo kita ke hutan Dad, Rey mau harimau seperti punya Reva" rengek Reynand sambil menarik narik tangan daddy nya.


Melihat situasi yang sudah tidak kondusif, akhirnya Max diam-diam memilih melarikan diri, sebelum dirinya kena sembur oleh tuannya nya itu.


Arsen dan Reagan menunduk memijit pelipisnya yang terasa berdenyut melihat kedua bocah itu memperebutkan anak harimau.


"Max, kau bawa anak harimau itu pergi, cepat" pekik Arsen sambil menunduk, dia belum tahu kalau Max sudah lebih dulu kabur dari rumah Arsen.


Merasa tidak ada yang menyahut, akhirnya Arsen mengangkat wajahnya. dia mengedarkan pandangannya ternyata bodyguard putrinya itu sudah lebih dulu pergi dari rumahnya.


"Kemana dia" tanya Arsen


"Max sudah pergi pa" ucap Alisya memberitahu.


"Dasar Max sialan, setelah membuat onar malah kabur begitu saja" umpat Arsen.


Sekarang giliran Rachel dan Ravin mulai berontak dari pelukan mamanya. sejak tadi mereka memperhatikan kakaknya yang bermain dengan Snow, sepertinya Mereka juga mulai tertarik dengan keberadan Snow yang terlihat lucu di matanya.


"Tulun mama tulun" pinta Ravin dan Rachel.


Karena tak mau anaknya jatuh, akhirnya Alisya menurunkan anaknya dari pangkuannya.


Setelah turun Rachel dan Ravin langsung berjalan ke arah Snow.


"Minggil ata' minggil, Lavin mau liat" pinta Ravin yang sudah mulai bisa berbicara meskipun belum begitu jelas.


"Nda oleh, Chel dulu" cegah Rachel galak.


"Kalian berdua main sama Molly saja," ucap Reva.


"Da mau" tolak Ravin dan Rachel secara bersamaan.


Alisya meringis melihat anaknya yang saling berebut anak harimau. Berbeda dengan Revan yang sama sekali tak bergeming di pangkuan omanya, bayi itu seolah tak tertarik dengan anak harimau itu.


"Ya tuhan, kenapa anakku berbeda, bagaimana bisa mereka juga ikut-ikut berebut anak harimau" keluh Arsen frustasi.


"Sabar Ar, kau dulu juga begitu, bahkan kamu tidak mau pulang dari kebun binatang, sebelum ayahmu berhasil membawa Singa yang ada di kebun binatang" ceplos Belinda.


"Mana pernah Arsen begitu" sahut Arsen.


"Tentu saja kamu lupa, bahkan ayahmu juga tidak menurutinya" ujar Belinda.


Arsen tidak mengingatnya, karena dulu kejadian itu Arsen masih berumur 3th.


*


*


Besok dia berencana ingin menemui Max untuk bertanggung jawab, karena dia lah biang masalahnya.


"Sekarang kalian tidur ya, ini sudah malam... besok lagi main sama Snownya" perintah Alisya.


"Baik ma" sahut Reva patuh. Dia juga sudah lelah setelah seharian bermain ke hutan.


"Reva bawa Snow ke kamar Reva ya ma" pinta Reva dengan tatapan memohon.


"Boleh, tapi nanti kalau kandangnya sudah jadi, Snow tidak lagi boleh tidur di kamarmu" ucap Alisya sambil menghela nafas panjang.


Sebenarnya dia takut anaknya tidur bareng sama harimau, nanti kalau pagi-pagi anaknya sudah ilang bagaimana.


"Terima kasih mama" balas Reva dengan senyum lebar di bibirnya.


"Chel mau bobo ama ata' "pinta Rachel.


"Rachel bobo sama papa mama saja yang sayang," rayu Arsen.


"No, Chel mau tidul cama ata' Leva" tolak Rachel galak sambil melipat kedua tanganya.


Hal itu membuat Arsen gemas, melihat bayi nakalnya tengah merajuk.


"Vin Judha" timpal Ravin ikutan.


Alisya benar-benar harus mempunyai kesabaran lebih supaya tetap waras, ketika menghadapi tingkah anak-anaknya yang keras kepala. Anaknya kalau sudah punya kemauan susah untuk di bujuk.


"Revan mau tidur di mana sayang" tanya Alisya kepada putranya yang sejak tadi hanya diam saja.


"Di kamal Lepan ja" jawab Revan. menurutnya ini kesempatan dia bisa tidur sendiri di kamar tanpa gangguan dari saudara kembarnya.


Alisya bernafas lega mendengar jawaban Revan, akhirnya masih ada anaknya yang normal, meskipun dia cenderung pendiam minimal tidak membuat Alisya frustasi.


"Bagaimana ini pa" tanya Alisya bingung.


"Biarkan saja ma, mau bagaimana lagi... anak mu kan keras kepala semua" jawab Arsen membuat Alisya mencebik.


Giliran yang jelek-jelek di bilang anaknya, giliran yang baik-baik suaminya itu akan lebih dulu mengakuinya.


"Dan itu benihmu kalau kamu lupa pa" ketus Alisya. Setelah itu ia menggiring anaknya masuk ke kamar Reva.


Setelah berada di kamar Reva, Alisya langsung membantu mereka untuk menggosok gigi serta cuci tangan dan kakinya.


Arsen cengengesan melihat istrinya merajuk, dia menggendong Revan lalu membawanya ke kamarnya.


"Kamu kenapa ngga ikut tidur di kamar kak Reva boy" tanya Arsen seraya menurunkan Revan dari gendongannya.


"Meleka belisik" jawab Revan singkat.


Arsen mengangguk mengerti, Revan memang lebih suka suasana yang sepi dan tenang, dia tidak suka suasana yang ramai.


*


Sedangkan di kamar Reva, perkara posisi tidur saja membuat mereka adu mulut.


"Nda mau, Chel mau di tenah" pinta Rachel yang sudah merebahkan tubuhnya di tengah ranjang.


"Nda oleh, ata' ja yang di tenah," sahut Ravin tak setuju.


"Vin di bawah ja, cama Cnow" balas Rachel.


"Kalian kenapa gelut mulu sih, kalau mau gelut jangan tidur di kamar kak Reva, kalian tidur di kamar kalian saja sana." kesal Reva.


Alisya memijat keningnya yang terasa pusing.


"Nda mau, Chel mau tidul di cini" sahut Rachel cepat.


"Kalau begitu diam jangan pada berantem. sekarang biar adil kak Reva yang tidur di tengah" ucap Reva.


Akhirnya keduanya pun menurut, Rachel menggeser tubuhnya ke samping, dan membiarkan kakanya tidur di tengah.


Bersambung.


Happy reading guysjangan lupa like, koment, vote, gift🙏