
waktu berlalu bergitu cepat, makin hari perut Reva semakin membuncit. Hari ini dia merengek minta ke rumah orang tuanya mau menemui adiknya.
"Ayo, honey aku ingin ketemu Ravin" rengek Reva.
"Ngapain ketemu Ravin?" tanya Reynand heran, pasalnya istrinya itu jarang sekali merengek minta ketemu adiknya itu, kalaupun ketemu mereka biasa aja.
"Nanti aja tanya-tanyanya" ucap Reva memaksa, sambil menarik-narik tangan suaminya yang sedang tiduran di atas ranjang, ibu hamil itu seperti anak kecil yang merengek ke bapak ya minta di belikan mainan.
Reynand menghela nafas pelan, kalau sudah begini dia tidak ada cara lain selain menurutinya, padahal dia lagi mager mumpung hari libur dia ingin bermalas-malasan di ranjang king size nya.
Semenjak hamil istrinya itu banyak maunya. dan tak jarang ngidamnya itu membuat pusing semua orang yang ada di rumah.
Calon anaknya itu masih di dalam perut aja udah sering berbuat ulah.
Mereka siap-siap pergi kerumah Arsen. Reva begitu antusias saat tahu suaminya mau menuruti kemauannya.
Mobil yang di kendarai Reynand meluncur menuju ke rumah Arsen.
"Assalamualaikum, papah, mama" teriak Reva saat memasuki rumah Arsen.
"Waalaikum salam, kalian kesini sayang" sahut Alisya.
"Mamah Ravin mana" tanya Reva sambil clingak clinguk mencari keberadaan Ravin.
Reynand sudah was-was, dia bisa menebak kalau istrinya ini sedang menginginkan sesuatu. Namun dia sedikit lega karena yang jadi targetnya kali ini adalah adik iparnya bukan dirinya.
"Ngapain kamu cari Ravin, dia lagi di kamarnya" sahut Alisya.
"Reva ada perlu sama Ravin" ucap Reva sambil melenggang melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya Ravin.
Sementara di bawah Alisya bingung sambil menatap menantunya.
"Ada apa Rey?" tanya Alisya.
"Kita lihat aja mah, pasti sebentar lagi anak Rey berulah, dia pasti ingin mengerjai om nya" sahut Reynand.
"Istrimu sedang ngidam?" tanya Alisya lagi.
"Mungkin mah, tapi ngidamnya selalu buat orang pusing, sepertinya anak Rey punya dendam pribadi mah, dia suka sekali ngerjain orang" keluh Rey.
Alisya menahan tawa mengingat foto menantunya yang di dandani seperti perempuan.
Baru juga bilang, dari lantai atas sudah terdengar suara gaduh antara Ravin dan Reva sedang berdebat.
"Denger kan mah, baru juga di bilangin mereka sudah ribut, itu pasti Reva sedang memaksa Ravin untuk melakukan sesuatu" ucap Reynand menghela nafas pelan.
"Ayo kita lihat" ajak Alisya.
Di kamar Ravin, Reva sedang meminta Ravin untuk memanjat pohon kelapa yang ada di halaman belakang rumah, dia ingin minum air kelapa tapi harus dari pohonnya langsung dan yang metik buahnya harus Ravin.
Memang ada-ada aja kelakukan wanita hamil satu itu.
"Ayo Vin, kamu memangnya mau punya keponakan ileran" pinta Reva memohon.
"Kak Reva kan punya uang, mending kak Reva beli aja sih kan ada yang jualnya juga" tolak Ravin.
"Tapi debay nya pingin kamu yang memetik nya langsung Vin,"
"Makanya bilang sama anaknya ngga usah minta aneh-aneh, masih di perut aja nyusahin" kesal Ravin langsung dapat jitakan dari Reva.
"Kamu kan om nya, jadi wajar saja dia manja sama om nya, lagian cuma manjat pohon aja apa susahnya sih" oceh Reva.
Ravin tercengang mendengar perkataan kakaknya, cuma katanya.
Astaga itu pohon kelapa tinggi banget bukan kek pohon tauge, jerit Ravin dalam hati frustasi.
"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Alisya ketika melihat anaknya sedang berdebat.
"Reva ingin minum kelapa muda mam, debay nya minta Ravin yang metikin langsung dari pohonnya, tapi Ravinnya menolak" sahut Reva dengan wajah memelas.
Reynand mengelus dadanya, untung bukan dirinya yang di suruh manjat. bisa tremor dia kalau di suruh manjat pohon kelapa setinggi itu. Tinggi pohon kelapa di rumah Arsen mencapai tiga puluh meter.
"Mah kan itu ada kak Rey, kenapa harus Ravin kan yang buat anak juga kak Rey bukan Ravin"
Reva memukul mulut adiknya kesal, mulutnya kalau ngomong tidak di filter.
"Kak Reva kenapa mukul-mukul Ravin sih. sakit tahu" dumel Ravin.
"Petikin atau mama.. "
"Iya-iya Ravin petikin. Cucumu belum lahir saja sudah meresahkan mam" sela Ravin sebelum mamahnya mengancamnya.
Reva tersenyum penuh kemenangan, akhirnya sebentar lagi keinginannya akan terpenuhi.
Mereka bertiga berjalan menuju ke halam belakang, terlihat di sana ada Arsen, Rachel, Revan dan Gavin yang sedang berlatih beladiri sama Arsen.
"Sayang kamu kesini" panggil Arsen menghentikan latihannya dan langsung menghampiri sang putri.
Arsen memeluk Reva dan mencium kening sang putri.
"Gimana kabar debay nya" tanya Arsen sambil mengelus perut buncit putrinya.
"Dedek bayina sehat kek" sahut Reva menirukan suara anak kecil.
Ravin langsung tertawa keras saat mendengar papanya di panggil kakek oleh kakaknya.
"Hahaha... sebentar lagi papah udah mau jadi kakek-kakek" ledek Ravin puas.
"Enak aja, papah masih muda tidak mau di panggil kakek, nanti suruh anakmu panggil papah aja sama seperti kalian" protes Arsen tidak terima di panggil kakek.
"Papah kan emang kakeknya masak di panggilnya papah, anak kak Reva kan cucu papah bukan anak papah" sahut Ravin.
"Sayang.." rengek Arsen mencari pembelaan kepada istrinya.
"Kakek Alsen" cletuk Gavin mengundang gelak tawa semua orang yang ada di situ.
Arsen pergi sambil menghentak hentakan kakinya seperti anak gadis yang sedang merajuk, anaknya pada iseng membully bapaknya sendiri.
Diam-diam Ravin juga mau iku pergi nyusul papahnya namun keburu ketahuan sama kakaknya.
"Eitss.... mau kemana kamu? jangan bilang kamu mau kabur" ujar Reva sambil menarik kaos adiknya.
"Siapa yang mau kabur, Ravin cuma mau ambil minum" sahut Ravin bohong.
"Ngga usah banyak alasan, cepat panjat pohonnya" perintah Reva galak.
Ravin pasrah, akhirnya dia memanjat pohon kelapa yang tingginya kurang lebih mencapai tiga puluh meter.
Sampai di atas Ravin berkeringat dingin ketika melihat kebawah.
"Cepat Vin petik kelapanya pilih yang masih muda" teriak Reva dari bawah pohon.
Ravin memetik banyak kelapa tanpa memilihnya lebih dulu, Ravin tak peduli itu kelapa tuda atau muda yang penting tugasnya selesai dan ingin cepat-cepat turun, kakinya sudah gemeteran di atas pohon.
Dengan hati-hati Ravin turun dari atas pohon karena takut jatuh kebawah.
Sementara di bawah para saudara dan juga orang tuanya sudah berpesta minum air kelapa tanpa menunggu Ravin yang masih belum turun dari atas pohon.
Definisi keluarga tidak ada akhlak memang.
"Kak Reva punya Ravin mana" tanya Ravin ketika sudah turun kebawah.
"Nih, tapi tinggal kelapanya aja, airnya sudah kakak minum" sahut Reva santai tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Ravin di buat melongo dengan kelakuan saudaranya itu, untung saudara kalau bukan sudah Ravin tenggelemin ke dasar kolam.
Bersambung
Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏