
"Kapan daddy mau menemui Listy" tanya Brian setelah menyelesaikan makan siangnya.
Reno hanya diam dan mengendikkan bahunya, Brian menghela nafas melihat daddynya yang masih aja mempertahankan egonya.
"Bukan untuk Listy dad, tapi ini demi anak kalian, kasihan Fathan dia juga butuh ayahnya" ucap Brian.
"Nanti saja" sahut Reno.
"Terserah daddy, yang penting Brian sudah kasih tahu daddy" ucap Brian lelah membujuk daddy nya yang masih keras kepala.
"Kapan kalian akan kembali" tanya Reno.
"Besok" jawab Brian singkat.
"Apa kamu tidak mau tinggal di sini saja Bri" tanya Reno.
"Tidak, karena Brian memiliki pekerjaan yang tidak bisa ditinggal terlalu lama" sahut Brian.
"Kamu bisa bekerja di perusahaan daddy Bri" bujuk Reno.
Bukan tidak mau menetap di kota J, namun dia memiliki tanggung jawab dengan pekerjaannya, apalagi sekarang dia hanya seorang karyawan.
Brian juga tidak suka dengan sikap daddy nya yang msih belum mau menemui Listy dan putranya, dia mengira daddy nya akan sadar setelah ia tinggal, namun nyatanya masih sama seperi dulu.
"Maaf, Brian tidak bisa dad" ucap Brian.
Reno mengangguk, menghargai keputusan putranya, meskipun sebenarnya dia kecewa namun dia tidak ingin memaksa putranya untuk tetap tinggal. Putranya sudah mau memaafkannya saja sudah cukup, karena dia tidak mau hubungan dengan putranya kembali renggang.
"Atau daddy mau ikut Brian" tawar Brian.
"Tidak, daddy di sini saja" jawab Reno tersenyum.
"Yasudah kalau begitu, nanti Brian sering-sering pulang kesini" ucap Brian.
Brian lalu meliihat kearah Nadin yang sedang sibuk dengan poselnya, ia tidak mau ikut campur obrolan mereka berdua.
"Baby, ayo kita jalan-jalan" ajak Brian.
"Kamu sudah selesai" tanya Nadin sambil melirik kearah Reno.
"Sudah baby" jawab Brian di balas anggukan oleh Nadin.
"Baiklah, ayo, aku juga ingin tahu kota ini" ucap Nadin dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Kami jalan-jalan dulu dad" ucap Brian pamit sama orang tuanya.
"Hati-hati" sahut Reno.
Brian dan Nadin menuju ke garasi untuk mengambil mobilnya, Brian menggunakan mobil milik daddy nya.
Brian mengendarai mobilnya menuju ke sebuah pusat perbelanjaan yang ada di kota J.
Nadin melihat kearah luar jendela sambil menatap bangunan tinggi yang berjajar di sepanjang perjalanan.
"Apa yang kamu lihat" tanya Brian membuka percakapan.
"Hanya melihat orang yang berlalu lalang dan gedung tinggi di sepanjang jalan" jawab Nadin sambil menoleh ke arah Brian yang masih fokus menyetir.
"Apa kamu ingin tinggal di sini hmm" tanya Brian sambil mengusap puncak kepala Nadin.
"Terserah kamu saja, karena aku akan ikut kemanapun kamu tinggal" gombal.
"Ck, kamu sudah bisa menggombal ternyata" ucap Brian sambil menekan kepala Nadin gemas.
"Bukankah kamu yang mengajarinya" goda Nadin sambil mengerlingkan matanya nakal.
Brian yang gemas dengan tingkah wanitanya pun langsung menarik bahu Nadin dan memeluknya.
"Kamu boleh menggombal tapi cuma sama aku" ucap Brian sambil mencium puncak kepala Nadin.
"Siap bos" sahut Nadin dengan hormat ala polisi, membuat Brian tertawa dengan tingkah Nadin.
🌹🌹🌹
"Papi mau bawa anak Reva kemana" tanya Reva saat melihat putrinya di dandani sedemikian rupa oleh maminya.
"Kita mau jalan-jalan, Cherry bosan di rumah terus sekali-sekali di ajak ngeceng biar gaul" sahut Erik.
"Kalau begitu Reva juga harus ikut" ucap Reva.
"Ethan ikut pi, Ethan mau beli sepatu" sahut Ethan.
"Gavin juga, Gavin nda mau di tinggal sendili di sini" sahut Gavin, membuat Erik menghela nafas, niatnya ingin ngajak jalan cucunya sama istrinya saja tapi yang lain juga pada ikut.
"Kenapa kalian pada ikut, papi kan ngga ngajak kalian, papi cuma mau pergi sama mami dan Cherry saja" ucap Erik.
"Ingat papi, Cherry itu anak Reva jadi kalau mau ajak Cherry juga harus ajak Reva, nanti kalau Cherry haus terus mau nyusu bagaimana" ucap Reva alasan.
"Lalu kamu ngapain ikut, biasanya juga pergi sendiri sama teman-teman kamu" tanya Erik pada putranya.
"Kak Reva ikut, jadi Ethan juga harus ikut karena Ethan juga anak papi" jawab Ethan.
"Dan Gavin adikna kak Leva, jadi juga halus ikut" sela Gavin tak mau kalah.
Erik menatap sang istri, Namun Viona hanya menaikkan bahunya.
"Ya sudah ayo" ucap Erik akhirnya terpaksa mengijinkan mereka ikut.
Reva dan yang lainnya bersorak girang, mereka juga merencanakan sesuatu untuk menguras saldo rekening papinya.
Reynand hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah mereka yang seperti bocah, apalagi istrinya yang tak mau kalah dengan putrinya.
Mereka akhirnya pergi enam menuju ke pusat perbelanjaan dengan menggunakan satu mobil.
Reynand yang menyetir mobilnya menuju ke sebuah mall yang ada di kota itu.
Sesampainya di mall mereka semua turun dari mobil.
Erik dan Viona jalan lebih dulu di susul yang lainnya dari belakang.
"Ayo kak kita habisin uang papi, sudah lama kita tidak shopping bareng seperti ini" ucap Ethan mengajak kakak nya bersekutu.
"Ide bagus, kakak juga sudah lama tidak di kasih uang jajan sama papi" sahut Reva.
"Kamu tanggung jawabku sayang, makanya papi tidak lagi memberikanmu uang jajan" sela Reynand.
"Iya honey, tapi sesekali tidak apa kan minta di belanjain papi" sahut Reva mempelihat mata kucingnya kepada Reynand.
Kalau sudah seperti itu Reynand tidak mungkin tega melarangnya.
"Boleh, tapi jangan sering" ucap Reynand sambil merangkul bahu istrinya.
Sebagai seorang pria tentu harga diri hal utama bagi Reynand. Karena saat ini Reva merupakan tanggung jawabnya, bukan tanggung jawab orang tua atau mertuanya lagi.
"Kita kemana dulu sayang" tanya Erik kepada istrinya.
"Kita beli baju dulu untuk Cherry sayang" sahut Viona.
Sedangkan Reva dan Ethan merotasi bola matanya malas, selalu saja Cherry yang di utamain, apalagi Cherry merupakan cucu pertama untuk mereka.
"Lihatkan kak, mereka selalu saja lebih ngutamain Cherry dari pada kita" ucap Ethan.
"Kak Ethan ini aneh sekali, Chelly kan masih bayi pasti semuanya lebih sayang sama Chelly, dulu juga Gavin begitu, tapi sekalang tidak lagi mamah sama papah malah seling malahin Gavin kalena Gavin nakal" sela Gavin.
"Tidak, mereka harus adil tidak boleh melupakan kita, iya kan kak" sahut Ethan minta dukungan sama Reva.
"Betul itu, kita harus demo" seru Reva memanasi adiknya.
"Maksud kak Leva kita demo sama papi Elik" tanya Gavin.
"Iya Gav, kalau Cherry di beliin baju kita juga harus minta di beliin" sahut Reva.
"Kak Leva miskin ya, sampai beli baju aja halus minta sama papi Elik" cetus Gavin membuat Reva melotot
"Gaya elit ekonomi sulit" sindir Gavin.
Bersambung
Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏
Happy reading 🙏