
Tiga tahun kemudian
Sekarang Cherry sudah berusia tiga tahun, gadis kecil itu tumbuh menjadi anak yang cantik dan juga barbar, tak jauh berbeda dengan Reva dulu saat masih kecil.
Dengan kaki kecilnya gadis kecil itu melangkahkan kakinya masuk kedalam Mansion sang opa.
"Opa, Chelly cantik sudah datang ini" teriak Cherry memenuhi seluruh Mansion.
Arsen yang mendengar suara cucunya pun bergegas menghampiri cucunya.
"Cherry sama siapa kesini sayang" tanya Arsen saat melihat cucunya seorang diri, tanpa putrinya dan juga sang menantu yang ikut serta.
"Diantal sopil opa, Chelly sebal sama momny" sahut Cherry dengan wajah sebalnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Arsen terkekeh melihat cucunya yang justru terlihat menggemaskan saat sedang kesal.
Arga mengangkat cucunya dan mendudukkannya diatas pangkuannya dengan posisi menghadap kearahnya.
"memangnya mommy Cherry kenapa sayang?" tanya Arsen sambil merapihkan rambut cucunya yang sedikit berantakan.
"Mommy selalu panggil Chelly buah-buahan opa, Chelly nda suka. Memangna siapa yang kasih nama Chelly sih? Nda kleatip" dengus Cherry.
"Yang kasih nama Cherry itu om Gavin dan di setujui oleh momnya Cherry" kata Arsen.
Cherry meronta minta di turunkan dari atas pangkuan sang opa. "Tulunin Chelly opa" pinta Cherry.
"kamu mau kemana hmm" tanya Arsen masih menahan sang cucu.
"Mau ketemu om Gavin, Chelly halus kasih pelajalan om Gavin na" sahut Cherry menggebu gebu, ia sudah tidak tahan ingin segera memarahi om nya itu, ia tak terima om nya memberinya nama Cherry. Sebenarnya naam Cherry itu bagus, hanya saja mommy nya sering memanggilnya dengan sebutan buah, makanya membuat gadis kecil itu tidak suka dengan nama Cherry.
Arsen menghela nafas melihat tingkah cucunya, sifat Cherry mengingatkan Reva saat masih kecil dulu.
Brakkk....
Gavin yang sedang mengerjakan PR di kamarnya di temani sang mamah pun terlonjak kaget.
"Kaget Gavin" ucap Gavin sambil mengelus dadanya.
"Cherry ada apa sayang? Kenapa kamu ngagetin oma hmm" tanya Alisya sembari melihat wajah marah cucunya.
"Chelly mau plotes oma" seru Cherry.
"Mau protes sama siapa?" tanya Alisya, dan Cherry menunjuk kearah Gavin.
Gavin yang di tunjuk pun merasa bingung, karena setahu dia, dia tidak membuat masalah dengan keponakannya.
"Kenapa protes sama Gavin, Gavin kan nda ngapa-ngapain Cherry" bingung Gavin.
"Nda napa-napain gimana, om Gavin kan yang kasih nam Chelly" seru Cherry tidak terima.
Gavin menggaruk kepalanya bingung, lalu apa masalahnya.
"terus kenapa kalau om Gavin yang kasih nama kamu?" tanya Gavin.
"Memamngna om Gavin nda puna nama lain selain Chelly? Gala-gala om Gavin mommy suka panggil Chelly buah-buah, menyebalkan" kesal Cherry sambil melipat tangannya didepan dada.
Kini Alisya baru paham dengan kekesalan cucunya itu, putrinya memang suka cari perkara, sudah tahu anaknya tidak suka di panggil buah-buahan masih saja memanggilnya itu.
"Sini sama oma sayang, nanti oma marahin mommy kamu" ucap Alisya sembari menarik lengan cucunya pelan dan membawanya keatas pangkuannya.
"Oma janji halus malahin mommy ya" ucap Cherry sembari mengulurkan jari kelingkingnya didepan sang oma.
Alisya tersenyum dan menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking sang cucu.
"Ntal Chelly juga bilang kakek, bial mommy tahu lasa" Cherry juga berencana memberitahu Erik sang kakek, berharap kakeknya itu jugan akan memarahi mommy nya.
Alisya menggelengkan kepalanya, ternyata cucunya sangat perhitungan.
****
Sementara di tempat lain Reva sedang sibuk mencari putrinya kesan kemari, dia mencari ke kamarnya tidak ada, ke ruang mainnya juga ngga ada.
"Kemana perginya anak itu" dumal Reva.
Reva mencari putrinya ketempat lain, ia tak sengaja berpapasan dengan suaminya yang baru saja keluar dari ruang kerjanya.
"kamu mau kemana sayang" tanya Reynand.
"Mau mencari Cherry, dia hilang" jawab Reva
"Tidak usah di cari, dia ada di rumah papamu, tadi papamu menghubungiku" ujar Reynand, tadi Arsen memberitahu Reynand kalau Cherry ada di rumahnya.
"Kebiasaan, pasti dia ngadu sama papah" gerutu Reva.
Tidak baik terlalu sering mengejek anak dan membuatnya marah, karena hal itu bisa memicu emosi anak dan lama kelamaan si anak akan balik menyerang kita.
"Iya-iya" ucap Reva
"Ayo kita jemput dia" ajak Reynand.
"Males ah, biarkan aja anak itu di sana, nanti juga dia pulang sendiri" tolak Reva, dia ingin menikmati kesendiriannya tanpa ada sang putri, tingkah putrinya itu sering membuat sakit kepala.
Namun Reynand tetap memaksa istrinya ikut menjemput putrinya, kebalikan dari Reva Reynand justru lebih suka ada putrinya, suasana di Mansion menjadi ramai dengan celotehan putrinya itu.
Reynand mengendarai mobilnya menuju ke Mansion mertuanya.
Tidak sampai satu jam mobil mereka sudah sampai di pelataran Mansion milik Arsen.
Reynand berjalan beriringan dengan Reva masuk kedalam Mansion.
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" balas Alisya mewakili.
Reynand dan Reva menyalami kedua orang tuanya terlebih dahulu setelah itu mereka duduk di sofa.
"Mana Cherry ma" tanya Reva mencari keberadaan putrinya.
"Pergi ketaman sama Gavin" jawab Alisya.
"Naik motor lagi" tebak Reva.
Alisya hanya mengangguk pasrah, dia juga kecolongan, Alisya tidak melihat kalau putranya itu pergi menggunakan motornya, ia mengira Gavin akan menggunakan sepeda bersama Cherry, tapi kata penjaga di depan mereka berdua pergi menggunakan kotor kecilnya.
"Anak itu kebiasaan, pasti mereka berdua sedang tebar pesona di taman" kata Reva yang sudah hafal betul kelakuan mereka berdua.
sementara di taman Cherry dan Gavin sedang bermain dengan teman-temannya yang mereka temui di taman.
"Belhenti dulu mainna, Chelly mau beli es klim dulu" ucap Cherry menghentikan permainan, mereka sedang bermain kejar-kejaran.
"Mau kak Gavin antar ngga" tawar Gavin.
Kalai sedang di luar Gavin tidak mau di panggil om, dia selalu memanggil dirinya kakak, menurut dia terlalu tua di panggil om.
Cherry berlari menuju ke tukang penjual es krim, karena tidak hati-hati Cherry pun terjatuh.
Brughh...
"Aduhhh.... " ringis Cherry sambil meniup lututnya yang berdarah.
Tiba-tiba datanglah seorang anak laki-laki penjual tisu menghampiri Cherry.
"Kamu tidak apa-apa" tanya anak itu yang usianya sekitar sepuluh tahun.
"Satit kakina Chelly" jawab Cherry menahan tangis.
Anak itu tersenyum dan mengusap kepala Cherry, "jangan menangis, semua akan baik-baik saja" ucapnya.
kemudian anak itu mengambil plester dari saku celananya, dia menempelkan plester itu ke lutut Cherry.
"Sudah, lain kali hati-hati" anak itu menasihati Cherry.
"Telima kasih kakak danteng" ucap Cherry malu-malu.
Lalu Cherry memberikan gelang miliknya yabg bertuliskan Cherry, lalu memberikannya kepada anak itu.
"Chelly nda puna uang, Chelly bayal pakai ini ya" ucap Cherry sembari memberikan gelangnya pada anak itu.
"Tidak usah, simpan saja" tolak anak itu.
"Kata mommy nda baik nolak lejeki, ntal kalau kakak nda puna uang, kakak jual aja gelangna" kekeuh Cherry. "Kata mommy halga gelangna mahal" bisik Cherry sambil cekikikan.
Anak itu tertawa kecil sambil mengacak rambut Cherry gemas.
"Terima kasih" ucap anak itu dan pamit pergi sambil melambaikan tangannya menatap Cherry.
Cherry juga ikut melambaikan tangannya sambil melihat anak itu yang kian jauh.
TAMAT.
Besok kisah Cherry akan othor up.
Untuk novel Narendra sama Max nanti dulu, soalnya othor lupa alurnya, nanti kalau sudah ingat othor sambung lagi, tapi tidak janji. 🙏