Baby Girl

Baby Girl
BAB 78



Usai mengobrol dengan Max, Arsen memutuskan menyusul putrinya yang ada di kamarnya. Arsen ingin mengajak istrinya memeriksakan kandungannya sekalian mengajak putrinya itu, dia ingin melihat reaksi Reva ketika akan mempunyai Adek.


Ceklek...Arsen membuka pintu kamarnya.


Dia tersenyum melihat pemandangan yang begitu mengharukan, istrinya tak hanya menyayangi Reva saja namun juga menyayangi Reynand sang keponakan yang sekarang ada di pelukan Alisya, Arsen merasa kalau dirinya tidak salah memilih istri.


"Baby, ayo kita ke rumah sakit sekarang" ajak Arsen melangkah menghampiri mereka yang sedang berbaring di ranjang sambil berpelukan.


"Napain ke lumah sakit papa" tanya Reva.


"Kita harus ke dokter untuk melihat calon adeknya Reva yang ada di perut mama" jawab Arsen tersenyum sambil duduk di tepi ranjang.


"Di pelut mama ada adekna Leva pa" tanya Reva yang langsung bangun dan duduk di sebelah Alisya.


"Iya sayang" sahut Arsen tersenyum lembut.


"Holeee....Leva mau puna adek balu Ley, Ley nda usah cedih nanti Leva pinjami adekna Leva ya" sorak Reva.


Arsen menjatuhkan rahangnya, bagaimana bisa anaknya mau di pinjamkan ke Reynand udah kek barang saja.


"Tidak, Reynand minta saja sama Daddy" protes Arsen.


"Om ini pelit sekali, Leva aja boleh kenapa om ngga boleh" kesal Reynand.


"Karena anak om bukan barang yang bisa di pinjam-pinjam" ucap Arsen tak mau mengalah.


Alisya merotasi bola matanya malas, suaminya ini tak pernah mau mengalah meskipun dengan anak kecil.


"Sudah jangan terus berdebat, jadi tidak periksanya" lerai Alisya.


"Jadi" jawab mereka bertiga kompak membuat Alisya menggelengkan kepalanya.


Kedua bocil itu sangat antusia, mereka lebih dulu keluar dari kamar Alisya. Sayang Belinda tidak bisa ikut dan juga belum tahu kabar kehamilan Alisya, tadi seusai mengantarkan Reva dia langsung pergi ke butiknya. Arsen sengaja akan memberi tahu bundanya setelah memastikan kalau Alisya memang hamil.


Alisya bangkit dengan di bantu Arsen, Arsen beranjak dari tepi ranjang yang tadi ia duduki, dia perjalan ke ruang ganti untuk mengambil jaket istrinya.


Setelah mendapatkannya Arsen memakaikan jaket tersebut ke tubuh Alisya. Usai memakaikan jaket Arsen mencuri ciuman singkat di bibir istrnya. Membuat Alisya manyun Arsen pun terkekeh melihatnya.


"Sudah jangan manyun, nanti aku cium lagi lho" goda Arsen.


Arsen membukakan pintu kamar untuk Alisya, dengan hati-hati dia berjalan menuruni anak tangga sambil merangkul pinggang ramping Alisya.


"Aku ini hanya hamil sayang, kenapa kau memperlakukanku seperti orang penyakitan" dumal Alisya.


karena menurut dia sikap Arsen terlalu berlebihan, karena dulu dia ketika hamil Reva masih tetap bisa bekerja dan tidak ada masalah, ini hanya jalan saja mesti di tuntun sama suaminya.


"Biarin saja, aku tak ingin istri dan calon anakku kenapa napa, jadi kamu tidak boleh protes baby" ucap Arsen membuat Alisya makin kesal.


"Cepat papa, kalian lama cekali" teriak Reva ketika melihat papa dan mamanya sudah berada di depan pintu rumah.


"Iya sayang" sahut Arsen.


Arsen dari tadi melarang Alisya berjalan terlalu cepat, makanya mereka lama keluarnya.


Arsen membukakan pintu mobil untuk Alisya, dia membantu Alisya duduk di jok mobil, setelah di rasa posisi Alisya sudah nyaman barulah Arsen menutup pintu mobil setelah itu ia berjalan mengitari mobil dan masuk ke bagian kemudi.


"Sudah siapa semuanya" tanya Arsen sambil melihat ke belakang lewat spion.


Arsen pun menginjak pedal gasnya, mobil yang mereka tumpangi mulai melaju meninggalkan pekarangan rumah. Arsen melajukan mobilnya dengan sangat hati-hati, dia tidak ingin terjadi sesuatu dengan kandungan Alisya.


Empat puluh menit berlalu mobil yang di kemudikan Arsen tiba di rumah sakit. Arsen keluar dari mobil terlebih dahulu, setelah itu dia membukakan pintu untuk Alisya.


Arsen mengulurkan tangannya untuk Alisya, dengan senang hati Alisya langsung saja meraih uluran tangan tersebut.


Dengan perlahan Alisya turun dari mobilnya. Arsen berjalan memasuki rumah sakit dan langsung menuju ke poli kandungan, Reva dan Reynand berjalan di hadapan Arsen dengan saling bergandengan tangan. Mereka berdua memang cukup romantis dan saling menjaga, makanya terkadang Arsen kesal melihat perhatian Reynand yang di berikan kepada putrinya.


Tiba di depan ruangan dokter kandungan, Arsen beserta Alisya di persilahkan masuk oleh suster, karena sebelumnya Arsen sudah membuat janji terlebih dahulu.


"Tolong periksa kandungan istri saya, dokter pribadi saya mengatakan kalau istri saya tengah hamil" ucap Arsen langsung setelah memasuki ruang dokter.


Dokter tersenyum menanggapi ucapan Arsen.


"Kapan terakhir nyonya haid" tanya dokter. Alisya menatap wajah suaminya, karena dia tak ingat jadwal haidnya. Arsen yang di tatap pin mengangguk mengerti.


"Sebulan yang lalu dok, dan untuk bulan ini istri saya belum haid lagi, padahal udah klewat dari jadwal haidnya" jawab Arsen yang sangat tahu jadwal haid istrinya.


"Kalau begitu, sialahkan tuan bantu istrinya untuk berbaring ke atas ranjang" titah Dokter. Arsen pun menuntun Alisya mendekati ranjang, setelah itu dia membantu istrinya berbaring di atas brankar.


Dokter menyingkap baju Alisya sedikit ke atas, lalu dokter mulai mengoleskan cairan gel ke atas permukaan kulit perut Alisya. Setelah itu dokter menempelkan alat usg ke atas perut Alisya yang sudah di beri gel.


"Sini tuan, dan lihatlah" dokter memanggil Arsen untuk mendekat.


Arsen mendekat bersama Reva dan juga Reynand.


"Lihat kandungan nyonya tuan, kantung rahim sudah terbentuk janin nyonya masih berukuran sebesar biji kacang hijau, dan kandungan nyonya sudah bisa di sebut embrio, perkiraan usia kandungan nyonya yaitu sekitar 4 minggu" terang dokter, dan setelah beberapa saat dokter mengeryit.


"Lihat tuan, sepertinya janin yang ada di rahim nyonya tak hanya satu, melainkan tiga...tuan bisa lihat terdapat 3kantung di rahim nyonya" ucap Dokter yang begitu takjub.


Arsen melongo tak percaya apa yang di ucapkan oleh dokter.


"Hah, mana dokter? Aku tak melihat apapun" tanya Arsen yang memang tak mengerti.


"Ini lho tuan, tiga titik ini merupakan calon bayi kalian" ucap Dokter seraya menunjukkan tiga titik di layar monitor.


"Astaga anakku, jangan becanda dok masak anakku sebesar biji kacang hijau" sahut Arsen seperti orang bodoh.


"Memang iya tuan, nanti seiring berjalannya waktu janin tuan akan berkembang dan berbentuk" jawab dokter.


"tadi dokter bilang berapa? Tiga?" tanya Arsen memastikan.


"Iya tuan, nyonya hamil triplet" jawab dokter tersenyum sabar menghadapi Arsen.


Arsen langsung memeluk istrinya haru, dia tak menyangka kalau benihnya akan menghasilkan 3 bayi sekaligus.


"Mana adekna Leva doktel" tanya Reva yang dari tadi di cuekin.


Bersambung


Doa kalian sudah author kabulkan geng's, cuma di novel ygy doa kalian langsung terkabul😂


Happy reading guys🙏