Baby Girl

Baby Girl
S2~14



Malam hari setelah pulang dari kantor Reynand langsung menuju ke rumah sakit untuk menjaga Reva, dia juga membawa martabak kesukaan Reva.


Ia tahu pasti Reva merasa bosan dengan makanan yang ada di rumah sakit, makanya ia berinisiatif membawakan makanan favorit Reva.


Ceklek....


Reyanand membuka pintu, ternyata di dalam ada Alisya dan juga Gavin yang sedang menjaga Reva.


"Selamat malam Aunty" sapa Reynand kepada Alisya.


"Malam Rey, kamu membawa apa" sahut Alisya lalu bertanya kepada yang Reynand menenteng kresek di tangan kanannya.


"Oh, ini martabak untuk Reva, aunty" jawab Reynand kikuk.


Gavin yang mendengar kata martabak langsung berdiri lalu menghampiri Reynand, tanoa ijin lebih dulu dia langsung mengambil kresek tersebut dari tangan Reynand.


"Eh" kaget Reynand ketika martabaknya di ambil oleh Gavin secara tiba-tiba.


"Ini buat Gavin aja om, kak Leva sedang sakit, nda boleh makan maltabak dulu, nanti di malahin doktel" kata Gavin langsung membawa martabak tersebut ke meja dan membukanya.


"Gavin itu kan martabak untuk kak Reva bukan untuk kamu, kamu anak kecil tak boleh memakannya," rengek Reva yang melihat adiknya sudah membuka martabak miliknya.


Ia tak terima martabaknya di ambil adiknya begitu saja, tapi dia bisa apa jalan saja susah.


"Nanti kalau sudah sembuh, kak Leva minta lagi saja sama kak Ley" sahut Gavin sambil memasukkan martabak kedalam mulutnya.


Reva mendengus kesal, adiknya terlalu ngeselin untuk di ajak berdebat.


"Mama... " rengek Reva minta bantuan sama mamanya.


Alisya menghela bafas sabar. Sedangkan Reynnad di buat bingung sama kedua kakak beradik itu, tak mungkin ia mengambil lagi martabak yang sudah di ambil Gavin, mau beli lagi pun jauh.


"Sayang, bagi kasih kak Revanya, itu banyak pasti nanti Gavin tidak habis" bujuk Reva kepada putra bungsunya itu.


"Kalau nda habis nanti bial Gavin bawa pulang mama, Gavin bisa makan lagi nanti di lumah" kekeuh Gavin yang tidak mau mebaginya.


"Dasar rakus, pantas saja badan kamu gendut kayak sumo" ejek Reva.


"Bialin saja gendut, dali pada kulus sepelti kak Leva, tablakan dikit langsung putus tulangna" sahut Gavin balas mengejek kakaknya.


Reynand hampir saja menyemburkan air yang ada di mulutnya, di kira kaki kakaknya tali apa di bilang putus.


"Lihat saja nanti, kalau kak Reva sudah sembuh, kak Reva masukin ke kandang Panda baru tahu rasa" ancam Reva dalam hati.


Entahlah Alisya pusing sama mereka berdua yang sebentar akur, sebentar berantem, ntar kalau yang satu tidak kelihatan, yang satunya nyariin.


Gavin benar-benar tak mau membagi martabaknya dengan kakaknya itu.


Klek...


Arsen membuka pintu, Ia juga baru pulang dari kantornya, dan langsung ke rumah sakit untuk menjemput istrinya.


"Papa datang, lihat itu putra papa, rakus sekali dia, bahkan tak mau membaginya dengan yang lain" adunya kepada sang papa yang baru saja datang.


Arsen menoleh, melihat putranya yang tengah asik makan martabak sambil mengejek kakaknya, bahkan putranya itu tak menyambut kedatangannya.


"Biarin saja, ini papa bawakan makanan kesukaan kamu" kata Arsen sambil memberikan dua kantong plastik pada putrinya.


"Yess... tak apa aku tak mendapatkan martabak, kini aku mendapatnya jauh lebih banyak. inikah yang di namakan rejeki anak soleh" ucap Reva sambil memberikan sedikit sindiran kepada adiknya itu.


Gavin menoleh sambil menatap tajam kresek yang ada di tangan kakaknya.


"Papa culang, kenapa papa kasih semuana ke kak Leva," ucap Gavin tak terima.


Reva menjulurkan lidahnya meledek adiknya.


"Kamu kan sudah makan banyak boy, nanti kalau kamu kekenyangan terus muntah bagaimana" sahut Arsen mencoba memberi pengertian kepada putranya.


"Dasal pilih kasih, Gavin nda like sama papa" rajuk Gavin melengoskan wajahnya.


Alisya dan Reynand hanya menonton keributan mereka berdua.


"Yasudah, kalau begitu papa pulang sama mama saja, kamu di sini sama kak Rey jaga kak Reva" kata Arsen dengan senyum penuh arti.


"Tidak, Gavin harus pulang, Reva ngga mau punya adik lagi ya pa" sela Reva, ia tahu pasti papanya itu mau berduaan dengan mamanya tanpa gangguan dari adiknya itu.


Arsen menghembuskan nafas frustasi, putrinya itu tidak tahu, kalau kepalanya sudah cenat cenut butuh pelampiasan.


"Pulang tinggal pulang, Gavin di sini juga tidak masalah, kan ada kak Ley" sahut Gavin yang tak sejalan dengan kakaknya.


Arsen bersorak dalam hati, malam ini ia bisa menghabiskan malam panjang penuh gelora bersama istri tercinta, tanpa gangguan dari siapapun, putra bungsunya itu jauh lebih mengerti dirinya ketimbang putrinya


"Makasih boy, berhubung malam ini sudah menjadi anak baik, papa nanti akan memberikan banyak hadiah untukmu" kata Arsen dalam hati.


"Ayo ma, kita pulang, biarin saja Gavin di sini bersama Rey" ajak Arsen semangat.


Alisya menatap suaminya jengah, ia tahu yang ada di pikiran suaminya itu.


"Gavin beneran mau di sini?" tanya Alisya memastikan, takut nanti tengah malam mencarinya.


"Iya mama, Gavin mau di sini sama kak Ley" jawab Gavin sambil rebahan di sofa karena kekenyangan.


"Yasudah, tapi nanti jangan nangis, karena mama tidak ada di sini" peringatnya kepada putranya itu.


"Siap mamaku yang cantik sepelti bidadali tapi sayang papana sepelti pangelan kodok" Puji Gavin kepada mamanya di sertai ledekan untuk papanya.


Arsen tidak menyahuti ucapan putranya itu, khusu malam ia akan membiarkan putranya berlaku seenaknya, tapi tidak untuk lain kali.


"Rey, aunty nitip Gavin sama Reva ya, maaf sudah merepotkanmu lagi" ucap Alisya merasa tidak enak sama Reynand.


"Tenang aunty, mereka aman bersama Rey" sahut Reynand.


Sebelum pergi Alisya dan Arsen mencium kening putrinya dulu.


"Mama, bawa aja Gavinnya, nanti kalau nangis bagaimana" rayu Reva.


"Gavin anak cowok ya kak Leva, jadi Gavin nda mungkin nangis" sahut Gavin tak terima.


"Diem kamu gentong, kak Reva glindingin baru tahu rasa kamu" kesal Reva.


"Memangna Gavin bola, mau di glindingin... yang ada kak Leva yang Gavin dolong duluan, pasti nanti langsung jatuh,hahahah" balas Gavin sambil tertawa terbahak.


Reynand reflek ikut tertawa keras mengikuti Gavin.


"Lihat papa, mereka berdua malah meledek Reva" adunya sambil cemberut.


"Sudah jangan di urusin, adikmu itu kalau di ladenin malah tidak akan berhenti, dia akan terus meledekmu" Ucap Alisya menasihati putrinya.


Reva meninju angin sambil melihat Gavin yang terus meledeknya.


"Awas saja kalau kak Reva sudah sembuh, kak Reva buang kamu ke laut, biar di makan Hiu" ancam Reva dengan melototkan matanya.


"Kak Leva lupa ya, kalau Gavin bisa belenang, wleee" sahut Gavin sambil menjulurkan lidahnya.


Bersambung.



Visual Reva Davidson.


Visual Reynand nyusul guys


Happu reading guys🙏