
Sedangkan di rumah Arsen sedang menyiapkan acara untuk makan malam bersama, Mereka mengundang Regan, keluarga Dinata sekaligus Nino dan keluarga Dewi.
Sekalian Belinda ingin membicarakan tentang kesiapan acara pernikahan yang akan di langsung kan besok.
Untuk ijab qabul akan di langsungkan pagi hari, sedangkan untuk acara resepsei akan di selenggarakan pada malam hari.
Keluarga Dinata tiba di kediaman Arsen pukul 5 sore, Erik sengaja datang lebih awal, ia ingin bermain dengan sang putri. Jasmine tidak ikut makan malam, karena akhir-akhir ini kesehatannya mulai menurun.
"Silahkan masuk semuanya" sapa Belinda.
"Terima kasih" sahut David mewakili.
Mereka semua masuk kedalam rumah Arsen, Erik berjalan sambil menggendong Ethan.
Kalau ada yang tanya Siska kemana?, Siska masih di rumah sakit jiwa, kondisinya masih sama, bahkan lebih parah, hingga David dan anak-anaknya kesulitan untuk bertemu, Karena Siska akan mengamuk.
"Dimana Reva nyonya" tanya David seraya mendudukan bokongnya di sofa.
"Oh, Reva dan Revan sedang pergi dengan Max, bodyguardnya tuan" jawab Belinda.
"Apakah sudah lama" tanya Erik.
"Sudah sejak pagi, entah apa yang sedang mereka cari, mungkin sebentar lagi mereka pulang" jawab Belinda sambil menghela nafas panjang.
Sebenarnya Arsen, Alisya serta Belinda juga khawatir sampai sore begini cucu nya belum juga pulang, apa lagi Reva membawa Revan bersamanya.
"Memangnya mereka pergi kemana aunty" tanya Erik lagi.
"Ke hutan Rik, putrimu itu lagi mau piknik ke hutan katanya, soalnya liburan ini aku tak bisa membawanya pergi jalan-jalan" timpal Arsen yang baru saja datang dengan Alisya.
Erik membelalakan matanya, Dia baru tahu kalau putrinya suka pergi ke hutan.
"Bagaimana bisa Ar, nanti kalau ada harimau liar bagaimana" ucap Erik khawatir.
"Kau tidak tahu saja Rik, kemarin Reva pulang membawa anak harimau" sahut Arsen dengan senyum mengejek.
Erik memijat pelipisnya frustasi.
"Apa kalian tak melarangnya? " tanya David.
"Boro-boro melarangnya om, bahkan dia pergi ke hutan saja tidak bilang-bilang, tau-tau sampai rumah membawa anak harimau" jawab Arsen.
David mengangguk paham, dulu Erik juga suka begitu, kalau tidak di ijinkan maka dia akan pergi secara diam-diam tanpa sepengetahuan dirinya. jadi David cukup paham dengan kelakuan Reva yang tak beda jauh dengan ayahnya.
Tak lama terdengar suara deru mesin mobil yang bari saja tiba di halaman rumah.
"Asaalamualaikum, Reva cantik pulang bawa oleh-oleh ini" teriak Reva sambil menenteng kandang kelincinya.
"Berisik sayang, salim dulu ada tamu ini" tegur Alisya.
Reva menoleh sambil cengengesan.
"Maaf, semuanya...Reva tidak tahu kalau ada tamu" ucap Reva sambil nyengir kuda, lalu menyalami satu persatu orang yang ada di ruangan itu.
"Maka na kalau macuk lumah itu janan teliak-teliak bial tahu ada olang atau nda" sindir Bara.
"Apa kamu Bala-bala, aku jual mau kamu... mayan kan laku seribuan" ejek Reva sambil menjulurkan lidahnya.
"Bala Ata' Bala, butan Bala" sentak Bara tak terima.
"Terus salah kak Reva dimana? makanya belajar ngomong R dulu, biar benar" sahut Reva tak mau kalah.
David menarik tubuh cucunya, dan membawanya masuk kedalam pelukannya.
"Kebiasaan, suka menggoda adiknya" ucap David sambil menciumi pipi Reva.
"Hahahah... Geli kek, hahahha..., karena dia lucu, makanya Reva suka menggodanya" ucap Reva sambil tertawa akibat ulah David yang terus menciuminya.
Alisya merasa bahagia melihat kedekatan putrinya dengan kakek kandungnya itu.
Revan berjalan mendekati mamanya.
"Kenapa baru pulang sayang, mama kangen sama kamu" ucap Alisya sambil membawa memeluk tubuh putranya.
"Kalena Van malas pulang mama, Van lebih cuka tindal di cana, banyak cekali hewannya" sahut Revan yang masih berada di pelukan Alisya.
Alisya melerai pelukannya, lalu melihat wajah lelah putranya.
"Terus mama sama siapa kamu kamu tidak mau pulang hmm" ucap Alisya dengan mimik wajah di buat sesedih mungkin.
"mama cama Vin cama Chel aja" sahut Revan.
Alisya mencium gemas putranya.
Akhirnya Max masuk membawa dua kandang yang berisi burung hantu, dan satunya lagi ular yang ia tarus di kotak kaca yang menyerupai aquarium.
"Aaaaaa....Honey.. "teriak Alisya langsung memeluk tubuh Arsen.
"Kamu kenapa sayang" tanya Arsen bingung.
"Itu pa, Max bawa apa itu" sahut Alisya sambil menunjuk ke arah Max tanpa melihatnya.
Arsen melihat ke arah yang di tunjukkan Alisya.
"Max apa yang kamu bawa hah" tanya Arsen sedikit meninggikan suaranya.
"Burung hantu sama ularnya Revan tuan," Jawab Max santai seraya meletakkan kotak ular di atas meja.
"Buang aja Max, kau membuat istriku takut" perintah Arsen. ia tak mau membuat istrinya semakin ketakutan.
"Janan di buang, itu puna Van papa" tolak Revan tegas.
Max memilih pergi dari rumah Arsen, sebelum dirinya kena getahnya.
"Tapi mama takut boy" bujuk Arsen.
"Talau mam tatut ya janan liat, bial Van ja yang liat" balas Revan dengan entengnya.
"Mama kan ounya mata boy" ucap Arsen masih berusaha membujuknya.
"Di tutup ja pate tain, dampang tan" sahut Revan tak mau kalah.
Arsen menghela nafas panjang. Kemarin di hebohkan anak harimau, giliran sekarang ular. apa bedanya...kedua hewan itu sama-sama mematikan kalau sudah besar.
"Jangan takut sayang, ularnya kan di kandangin, jadi tak akan bisa keluar" bujuk Arsen.
"Kalau lepas bagaimana" ucap Alisya sedikit mengintip ularnya.
"Tidak akan" ucap Arsen meyakinkan istrinya.
Bara sama Ethan mulai berontak dari pangkuan orang tuanya, ia penasaran dengan hewan yang di bawa oleh Revan. Bahkan Ravin dan Rachel pun juga sudah ikut bergabung.
"Ini nama na apa" tanya Bara.
"Ini nama na bulung hantu" jawab Revan.
"Bala mau liat, bica di kelualin nda" tanya Bara.
"Janan, tita liat dali cini caja, janan di kelualin nanti kabul" larang Revan.
"Oh, dia judha bica telbang ya" ucapnya lagi.
"Tamu ini bodoh cekali, nama na aja bulung, cudah pasti bisa telbang" sahut Rachel sambil memukul lengan Bara pelan.
"Maka na atu nanya, kalena atu nda tau" protes Bara tak mau di salahkan. Rachel mencebikan bibirnya.
Para bocil pada tidur tengkurap di lantai dnegan posisi melingkar, sedangkan kandang burung hantunya di taruh di tengah-tengah mereka.
Sedangkan Reva masih sibuk dengan kelincinya.
"Kelincinya bagus, kamu dapat kelinci dari mana sayang" puji Viona seraya ingin tahu putri sambungnya itu dapat kelinci dari mana, pasalnya ia juga merasa tertarik dengan kelinci tersebut.
"Reva minta sama om Max mami, bagus kan kelincinya, bulunya halus sekali mami" jawab Reva heboh sambil memberinya makan dengan wortel yang ia bawa juga dari hutan Max.
"Buat mami satu ya sayang, mami juga mau" pinta Viona dengan tatapan memelas.
"No, ini punya Reva... Mami minta di belikan saja sama papi" tolak Reva.
Viona menoleh ke arah Erik.
"Hubby, aku mau kelinci seperti punya Reva" rengek Viona.
"Kamu ini kenapa iri sama putrimu sendiri sih sayang" sahut Erik tak habis pikir dengan tingkah istrinya.
"Tapi mereka lucu, lihatlah, mereka sangat menggemaskan, apa lagi bulunya itu" ucap Viona antusias.
Erik menghela nafas panjang.
"Cari suami baru aja mi, kalau papi ngga mau belikan kelincinya" ucap Reva tanpa melihat ke arah Viona.
Erik membelalakan matang, sedangkan yang lain sudah tergelak keras menertawakan kemalangan Erik.
Bersambung
Hapoy reading guys😻