Baby Girl

Baby Girl
S2~4



Brian tiba di apartemen Listy, dia langsung saja masuk kedalam tanpa mengetuknya terlebih dahulu, karena sering datang ke apartement kekasihnya, tentu saja Brian tahu passwordnya.


Ketika masuk kedalam ternyata apartement Listy gelap gulita, tidak ada satu lampu pun yang menyala di ruangan tersebut.


Brian meraba raba dinding mencari saklar lampu namun tidak ketemu-ketemu.


"Happy birthday to you, happy birthday to you" tiba-tiba Listy muncul sambil bernyanyi membawa kue ulang tahun.


Brian tersenyum penuh haru karena mendapat suprise dari kekasihnya.


"Selamat ulang tahun honey" ucap Listy sambil tersenyum manis menatap Brian penuh cinta.


Brian tersenyum lalu melangkahkan kakinya mendekati Listy.


"Terima kasih sayang" ucap Brian sambil mencium bibir Listy singkat.


"Tiup lilin nya dulu honey" pinta Listy.


Brian mengangguk, lalu diam sejenak sambil berdoa dalam hati.


Usai make a wish barulah Brian meniup lilin nya.


Listy menyalakan lampu apartementnya.


Brian tersenyum lalau merengkuh pinggang ramping Listy.


"Kau manis sekali baby" puji Brian lalu me lu mat bi bir Listy.


Brian melepaskan tautan bibirnya.


"Apa ada kado untukku honey" tanya Brian di buat semanis mungkin.


Listy terkekeh kecil melihat wajah kekasihnya yang berubah imut seperti kucing angora.


"Tentu saja, aku ambilkan dulu" sahut Listy dengan suara genitnya sambil mencium pipi Brian, setelah itu ia masuk ke dalam kamarnya.


Brian senyum-senyum sendiri sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah kekasihnya itu.


Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa yang ada di ruangan tersebut.


Setelah lima belas menit kemudian Listy keluar dari kamar menggunakan lingeri sambil berpose menggoda memperlihatkan kaki jenjangnya.



"Honey" panggil Listu dengan nada sensual.


Mata Brian membulat sempurna dan mulutnya menganga lebar melihat kekasihnya yang terlihat seksi.


"Air liurmu honey" ucap Listy mengerjai Brian.


Brian tersadar lalu mengusap mulutnya, namun tak ada air liur yang menetes, ternyata kekasihnya itu hanya mengerjai dirinya.


"Kau mengerjaiku honey, terimalah hukumanmu" ucap Brian.


"Aku tunggu tuan" tantang Listy dengan suara manjanya.


Brian senyum menyeringai sambil berjalan mendekati kekasihnya itu.


Brian mengangkat tubuh kekaishnya seperti karung beras lalu membawa masuk ke kamar Listy.


"Kau nakal sekali honey" ucap Brian seraya menepuk bokong kekasihnya. Listy hanya tertawa saja.


Setelah sampai di dalam kamar, Brian lansung menghempaskan tubuh Listy ke atas ranjang.


"Tak ada ampun bagimu honey, malam ini akan menjadi malam panjang untuk kita" ucap Brian.


Brian lansung menindih tubuh sang kekasih, lalu meraup bibir kekasihnya dengan begitu rakus. sedangkan tangan Brian sudah merayap kemana mana.


Sementara Reva berjuang antara hidup dan mati di meja operasi, sang kekasih justru sedang bersenang senang melakukan penyatuan dengan wanita lain.


Tak sedikit pun Brian memikirkan Reva.


...****************...


Sedangkan di belahan bumi lain, seorang pemuda tampan baru saja mendapatkan kabar tak sedap dari orang tuanya, Mommy nya mengatakan kalau sahabat kecilnya mengalami kecelakaan.


Ia lansung saja menghubungi Abi sang asisten.


"Hallo tuan" sapa Abi daris sebrang telpon.


"Siapkan pesawat sekarang, sore ini juga kita harus pulang ke tanah air" titah Pemuda itu tanpa bantahan.


"Tidak ada tapi-tapian, batalkan semua pertemuan kita di negara ini" ucapnya tegas. kemudian langsung mematikan panggilannya.


Di tempat lain Abi menghela nafas panjang.


Padahal besok pagi tuannya ada tanda tangan kontrak dengan salah satu perusahaan di Jerman senilai ratusan milliar, tapi bos nya dengan entengnya malah membatalkannya begitu saja.


Pemuda tersebut yang tak lain adalah Reynand, dia sedang melakukan perjalanan bisnis ke Jerman.


Setelah lulus kuliah ia langsung membantu ayahnya mengelola perusahaan Addison.


Baru saja siang tadi Reynand tiba di Jerman. dan sekarang ayahnya mengabarkan kalau Reva kecelakaan.


Dia lebih memilih pulang, dari pada melanjutkan pertemuannya dengan kliennya.


Reynand berdiri di dekat jendela kamar sambil melihat keluar jedela, pandangannya lurus ke depan sambil memikirkan nasib sahabatnya itu.


Reynand mengusap wajahnya frustasi, andai dia sedang di tanah air, sudah pasti dia akan langsung ke rumah sakit melihat sahabatnya yang sedang terbaring tak berdaya di meja operasi.


...****************...


Sedangkan di rumah sakit semua keluarga sedang menunggu Reva selesai operasi, David dan Rani juga menyusul Erik ke rumah sakit.


Suasana begitu hening, tak ada satupun yang bersuara, mereka larut dalam pikirannya masing-masing.


Sudah dua jam berlalu tapi operasi Reva belum juga selesai, Erik sejak tadi mondar mandir kesana kemari, dia begitu gelisah dan takut terjadi sesuatu kepada putrinya itu.


Setelah kurang lebih lima jam berlalu lampu ruang operasi akhirnya padam, menandakan kalau operasi sudah selesai.


Cklek


Dokter yang mengoperasi Reva keluar.


Erik dan Arsen langsung berdiri dan menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana keadaan putri saya dok" tanya Erik cemas.


"Sejauh ini operasinya lancar, kita tunggu sampai pasien melewati masa kritisnya." jawab dokter.


"Apa kita bisa melihatnya dok" pinta Erik dengan penuh harap.


"Bisa, tapi nanti setelah pasien di pindahkan ke ruang ICU, tapi hanya boleh satu orang saja, kalian bisa bergantian" kata dokter. setelah dokter langsung pergi meninggalkn Erik dan Arsen.


"Bagaimana keadaan Reva sayang" tanya Alisya dengan tatapan sendu.


"Sabar ya ma, kita berdoa saja agar Reva mampu melewati masa kritisnya." jawab Arsen.


Alisya mengangguk lemah, ia kira perjuangan putrinya sudah selesai, tapi ternyata salah,putrinya masih harus berjuang melewati masa kritisnya.


Reva di pindahkan ke ruang ICU guna untuk mendapatkan perawatan intensif pasca operasi, agar cepat pulih.


Perawat mempersilahkan salah satu dari mereka untuk masuk ke dalam.


Erik mempersilahkan Alisya untuk masuk terlebih dahulu.


Alisya di beri pakaian steril untuk masuk kedalam ruang ICU.


Bibir Alisya bergetar melihat putri kesayangannya terbaring lemah di atas brankar dalam keadaan tak sadarkan diri, karena Reva masih dalam pengaruh obat bius.


Dengan langkah yang berat Alisya mendekati brankar putrinya.


Alisya tak sanggup mengeluarkan suaranya, ia hanya tertunduk sambil meneteskan air matanya.


"Maafkan mama sayang, maafkan mama yang menyembunyikan ini semua dari Reva, mama hanya takut Reva sakit hati dan kembali sedih seperti dulu lagi, mama harap ketika kamu sadar nanti, kamu tak membenci mama atau papai Erikdan, karena kami semua sayang sama Reva


Sungguh melihat Reva terbaring sakit begini membuat hati mama remuk redam, ingin rasanya mama menggantikan posisimu agar kamu tak merasakan sakit lagi, Cepat sembuh anak mama" ucap Alisya lalu mengecup kening Reva pelan, karena dia takut menyakiti kepala putrinya yang baru saja di operasi.


Bersambung


Jangan lupa


Like


Koment


Vote


Gift


Happy reading guys🙏