
"Terima kasih, sudah mau memaafkan keluargaku dan memberi kesempatan untuk mereka bertemu dengan anakmu" ucap Rani tulus.
"Sama-sama, bukankah sesama manusia harus saling memaafkan bukan, yang terpenting kedepannya harus berbenah diri, jangan sampai kesalahan yang lalu terulang kembali di masa depan" ujar Alisya meperingati keluarga Dinata. "Saya tidak akan memisahkan hubungan kalian dengan Reva, bagaimana pun juga ada darah keluarga kalian yang mengalir di tubuhnya, tapi tolong perlakukan dia dengan baik, saya tidak mau anak saya kecewa karena keluarga anda" imbuhnya.
"Tetaplah di sini, dan kembalilah bekerja di perusahaan Dinata. Atau di perusahaan lain.. nanti saya akan membantu anda, saya hanya tidak ingin putri saya bingung, baru saja dia bertemu dengan kakeknya lalu harus kembali terpisah, saya hanya memberi jalan untuk kalian supaya bisa dekat dengan PUTRI SAYA" timpal Arsen memberi tawaran kepada David, dan menekankan kata "putri saya" di akhir ucapannya. Menurut Arsen sudah cukup memberikan hukuman kepada mereka.
David tak menyangka, ternyata masih ada sisi baik dari Arsen kepadanya.
"Terima kasih tuan, saya akan diskusikan terlebih dahulu dengan keluarga saya" ujar David.
"Kalau begitu terserah kalian, kalau nanti butuh bantuanku maka langsung hubungi saja" ucap Arsen. David mengangguk dan tersenyum lega.
"Terima kasih tuhan, engkau masih memberikan orang-orang baik di sekelilingku" batin David bersyukur.
Akhirnya mereka saling memaafkan, dan memulai semuanya dari awal.
David dan keluarganya pamit undur diri dari kediaman Arsen. David pun tak lupa berpamitan dengan cucunya.
"Kakek pulang dulu ya sayang, nanti kalau ada waktu kita bertemu lagi" ucap David sambil mengecup puncak kepala Reva.
"Yahhh....lumah Leva sepi lagi deh, kenapa cepat sekali pulangna" keluh Reva sambil menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa dengan posisi setengah tidur.
"Nanti bisa bertemu lagi sayang, atau nanti Reva main ke rumah onty Rani bagaimana?" sahut Rani memberikan saran.
"Selius onty?" tanya Reva dengan mata berbinar. Rani mengangguk mengiyakan.
Reva bersorak sambil loncat-loncat di atas sofa. "Akhilna Leva puna tempat balu untuk kabul dali mama" ceplos Reva.
Alisya mendelik mendengar ucapan putrinya. Selama ini kalau Alisya ngomel pasti dia akan kabur dan meminta Max untuk mengantarnya ke rumah Reynand.
"Peace mama, Leva hanya belcanda" ucap Reva dengan pose tunjukan jari V kepada Alisya.
"Sepertinya akan rame kalau kedatangan Reva ke rumah, tingkahnya sangat menggemaskan" pikir David.
Akhirnya David dan keluarganya pergi meninggalkan rumah Arsen, mereka merasa lega karena Alisya sudah memaafkan kesalahannya.
Alisya melengos dan mengajak Suaminya untuk pergi ke kamarnya meninggalkan Reva yang masih di sofa. Mereka sengaja menggoda putrinya.
"Dengarkan honey, pasti di hitungan ke tiga dia akan berteriak" bisik Alisya.
"1"
"2"
"Mama...papa...kenapa kalian tinggalin Leva, telus Leva ke kamal nya gimana, kaki Leva kan sedang sakit" pekik Reva.
Arsen dan Alisya terkikik geli dengan drama putrinya, perasaan tadi pas ada orang banyak kaki nya baik-baik saja, bahkan dia sempat loncat-loncat di atas sofa.
"Jangan banyak alasan kamu, barusan kan bisa loncat-loncat" ujar Alisya membalikkan tubuhnya menghadap putrinya yang cengengesan.
"Kaki Leva sakit lagi mama, haduhh" ucap Reva mengaduh kesakitan sambil memegangi kakinya.
Arsen yang gemes dengan tingkah putrinya, langsung saja mendekati putrinya dan mengankatnya seperti karung beras.
"Bilang saja malas jalan girl, kenapa pakai alasan kakinya sakit segala hmm" ucap Arsen sambil menepuk pelan bokong Reva yang sedang tertawa terbahak.
"Papa....nanti Leva na jatuh ini, papa tulunin Leva....kasihan cacing di pelut Leva nanti telbalik" rengek Reva sambil memukul mukul pungung Arsen dengan tangan kecilnya.
Arsen tak menghiraukan rengekan putrinya, Arsen merangkul pinggang Alisya menggunakan tangan satunya dan mengajaknya masuk lift.
Alisya hanya menghela nafas melihat tingkah mereka.
*
*
*
*Flasback*
Hendrawan dan istrinya yang bernama Lastri sedang berbincang sambil menunggu Viona sadar dari pengaruh obat bius.
"Eughhhh...."
Hendrawan menghentikan obrolannya karena mendengar lenguhan dari putrinya.
"Sayang, kamu sudah bangun" ucap Hendrawan menciumi wajah putrinya.
Viona mengerjabkan matanya lalu mengedarkan pandangan nya ke sekeliling ruangan yang serba putih, Viona mencoba mengingat kembali kejadian yang di alaminya.
Viona meraba raba perutnya yang terasa datar, tidak seperti sebelumnya yang sedikit membuncit.
"Bagaimana dengan anak Viona pa" tanya Viona dengan nada bicara yang masih terdengar lemah.
Hendrawan menggengam tangan putrinya erat, sedangkan Lastri mengusap kepala putrinya.
Hendrawan menghela nafas berat, dia tak tega memberi tahu kabar duka kepada putrinya, dia tahu karena selama ini Viona sangat senang dengan kehamilannya.
"Maafkan papa sayang, papa tidak bisa menyelamatkan janin yang ada di kandunganmu, andai saja papa ada di rumah Dinata, pasti papa tidak akan membiarkan semua ini terjadi" lirih Hendrawan.
Viona menutup mulutnya seolah tak percaya dengan ucapan papanya.
"Tidak mungkin pa, tidak mungkin anak Viona meninggal....papa pasti bohong kan pa" pekik Viona menangis sambil menggoyang goyangkan tubuh Hendrawan.
Lastri langsung memeluk putrinya, "Tenanglah sayang, jangan begini...mana anak mama yang kuat? Mama sama papa sedih kalau melihatmu begini" bisik Lastri di telinga Viona.pukulan Viona di punggung nya mulai melemah.
"Hiks..hikss..tapi karena anak ini lah yang membuat Erik dan Viona menikah ma" lirih Viona.
"Sabar sayang, mungkin ini belum rejeki kita.. Kedepannay kamu masih bisa hamil lagi sayang" ucap Lastri lembut menenangkan putrinya.
"Ini semua gara-gara Siska ma, Viona harus balas dia ma" ucap Viona dengan tatapan bengis
"Istighfar sayang, mommy Siska sudah mendapatkan balasannya, dia sekarang masuk ke rumah sakit jiwa" sahut Hendrawan.
Viona merubah ekpresinya menjadi terkejut, "Bagaimana bisa pa" tanya Viona.
Hendrawan pun mulai menceritakan apa yang di ceritakan David kepada nya.
"Antar Viona menemui Alisya pa ma, Viona mau meminta tolong untuk membebaskan Erik" pinta Viona dengan tatapan memohon.
Hendrawan menatap wajah putrinya sendu.
"Kamu harus sembuh dulu sayang, baru nanti papa dan mama akan mengantarmu menemui Alisya" ucap Hendrawan.
*Flasback Off*
Setelah tiga hari di rawat di rumah sakit kini Viona sudah di perbolehkan pulang ke rumahnya, Hendrawan dan istrinya tak pernah meninggalkan Viona selama di rumah sakit, mereka mencoba menghibur putri semata wayangnya agar kembali ceria.
Hendrawan memilih membawa putrinya pulang ke rumahnya. Meskipun dia tahu kalau ternyata David tinggal di rumah yang di sediakan Rani untuk ayah dan omanya. David tidak jadi tinggal di kampung dia sudah mempertimbangkan perkataan Arsen kemarin. Namun dia tidak bekerja di perusahaan Dinata, dia lebih memilih bekerja di kantor Gilang sebagai manager marketing yang kebetulan kosong.
Bersambung
Happy reading guys🙏