
David dam Gilang pulang dari rumah sakit dengan langkah kaki lesu memasuki rumah. Dokter memvonis Siska mengalami gangguan jiwa.
Karena kondisi Siska yang cenderung ingin melukai dirinya sendiri makanya dokter menyarankan untuk memasukkan Siska kedalam rumah sakit jiwa, karena takut nantinya juga akan timbul rasa untuk menyakiti orang lain. Itu akan sangat berbahaya untuk orang di sekitarnya.
"Bagaimana Dad" tanya Rani setelah melihat Daddy nya menjatuhkan tubuhnya di sofa.
"Mommy mu masuk rumah sakit jiwa nak, karena mommy selalu melukai dirinya sendiri dengan memukul kepalanya dan menjedotkannya ke tembok, makanya dokter menyarankan mommy untuk di rawat" jelas David.
Rani menutup mulutnya setengah tak percaya apa yang dia dengar, air matanya juga ikut menetes membasahi pipinya.
"Doakan saja, supaya mommy cepat sembuh sayang," saran Gilang sambil mengusap punggung istrinya.
"Kita harus menemui Alisya untuk meminta maaf dengannya dan juga Reva Dad, mungkin ini teguran untuk keluarga kita karena sudah menyakiti orang yang tak bersalah. Selama ini bukan Alisya yang menggoda kak Erik, tapi kak Erik dan teman-temannya lah yang sudah menjadikan Alisya sebagai bahan taruhan mereka, dan kak Erik juga sudah menghancurkan impian Alisya, mereka membuat Alisya di DO dari kampusnya. Tapi justru keluarga ini malah menuduh dia yang menggoda Kak Erik" terang Rani panjang lebar.
Rani ingin meluruskan kesalahpahaman keluarganya dengan Alisya, ia juga ingin membuat mata hati orang tuanya terbuka.
Rani juga baru tahu kemarin karena mendengar dari cerita Erik.
"Apa Daddy masih pantas menerima maaf dari Alisya nak" tanya David sambil mengangkat wajahnya yang tadi tertunduk.
"Di maafin atau ngga itu urusan Alisya Dad, yang penting Daddy mau minta maaf dan mengakui kesalahan Daddy selama ini kepadanya. Rani akan antar Daddy jika daddy mau" jawab Rani.
David merasa berkecil hati dan tak pantas menerima maaf Alisya, terlebih dia sudah merendahkan bahkan menghina Alisya dengan keji.
"Baiklah, setelah Dady menyelesaikan ini kita langsung ke rumah Alisya sekalian berpamitan" ucap David.
Rani tersenyum lega, akhirnya Daddy nya mau meminta maaf, dia hanya ingin kehidupan Daddy nya kedepan biar lebih mudah, tanpa meninggalkan permasalahan yang ada.
*
*
Di rumah Arsen Reva baru saja pulang sambil di gendong oleh Max. Alisya heran melihat putrinya yang anteng dalam gendongan bodyguardnya itu.
"Kamu kenapa minta gendong sama om Max sayang? Turun, kasihan om Max nya berat" tanya Alisya lalu meminta putrinya turun.
Reva bergeming tak menjawab pertanyaan dari mamanya.
Max mencoba menjelaskan kepada Alisya "Emmmm nyonya...." ucap Max namun terpotong karena Reva membekap mulut Max.
"Om jangan ngadu sama mama, nanti Leva di malahin, kan Leva sudah janji nda ikut Ley belatih." bisik Reva di telinga Max.
"Ada apa Max? Kenapa kalian malah bisik-bisik" tanya Arsen sambil memicingkan matanya.
Max menggaruk kepalanya serba salah, dia bingung harus mengikuti nona kecilnya atau tuannya.
"Anu tuan..." ucap Max yang dapat pelototan dari Reva.
"Jawab Max! Apa yang terjadi dengan Reva?" tanya Arsen tegas.
Max mengambil nafas dalam. "Nona Reva kakinya sakit tuan, karena tadi maksa ikut latihan bareng Reynand tanpa pemanasan terlebih dahulu" jawab Max. Dia berpikir mending di marahin sama nona kecilnya dari pada dapat amukan dari singa jantan.
*Flasback ON*
Tiba di tempat berlatih Reynand, Reva langsung turun dari mobil, Reva yang antusias pun berjalan lebih dulu di depan meninggalkan Reynand dan juga bodyguardnya.
Dia melihat banyak anak kecil seusianya yang juga ikut berlatih.
"Bagus sekali gelakannya, Leva halus bisa juga ini" gumam Reva yang tanpa sadar mengikuti gerakan mereka.
Reynand datang menyusul Reva dan menarik lengan Reva untuk menghentikan gerakannya. "Kamu ngapain, nanti di malahin sama om Alsen balu tahu lasa" cegah Reynand.
"Kan di sini nda ada papa Ley, nanti kalau papa tahu belalti yang ngadu Ley sama om Max" ucap Reva.
"Dasal kelas kepala, susah kalu di bilangin...sekalang telselah Leva saja, Ley nda ikutan kalau Leva di malahin om Alsen" nyerah Reynand kemudian langsung ikut latihan dengan anak-anak yang lain
"Bialin saja, kan nda ada papa sama mama, jadi aman" gumam Reva kembali mengikuti gerakan mereka.
Salah satu pelatih pun mendatangi Reva dan menarik nya ke dalam arena latihan.
"Sudah gulu, Leva capek....kaki Leva juga sakit" keluh Reva.
"Tak apa, mungkin belum terbiasa saja, nanti kalau sudah biasa ngga akan sakit lagi" ucap pelatih.
Dia melanjutkan melatih anak didiknya yang lain, dan membiarkan Reva untuk beristirahat.
Reva menghampiri Max dengan langkah tertatih. "Om kaki Leva sakit" keluh Reva manja.
Max langsung mengangkat tubuh Reva, dan melihat kakinya yang sedikit memerah.
*Flasback OFF*
Reva merengut di gendongan Max. "Om Max nda asik, suka ngadu-ngadu" gerutu Reva.
Alisya cuma bisa mengelus dada dengan tingkah putrinya itu. "Itu akibatnya kalau berbohong sama mama papa, sakit kan kakinya" ucap Alisya.
Arsen mengambil Reva dari gendongan Max, lalu memangkunya sambil melihat kaki putrinya, sedangkan Max pamit undur diri terlebih dahulu.
"Kaki Reva sakit karena Reva belum terbiasa sayang.Reva masih mau berlatih lagi ngga?" tanya Arsen.
"Nanti saja papa, kaki Leva masih sakit sekalang" jawab Reva manja sambil memeluk papanya.
Tiba-tiba Max masuk lagi kedalam menghampiri mereka yang sednag bercengkraman di ruang keluarga.
"Maaf tuan, di luar ada tuan Dinata datang" ujar Max.
Alisya mengerutkan alis nya hingga berdempet. "Ada apa mereka datang malam-malam begini? Tanya Alisya.
"Saya kurang tahu nyonya" jawab Max.
"Suruh masuk Max, nanti aku akan kedepan" titah Arsen.
Arsen mengajak istrinya menuju ruang tamu sambil membawa Reva dalam gendongannya.
Reva terpekik melihat Rani yang datang ke rumahnya. "wow.....telnyata onty yang datang kelumah Lea, pelut tante semakin besal, kapan adik bayinya kelual onty" pekik Reva begitu antusias melihat kedatang Rani dengan perut besarnya.
Rani tersneyum melihat keceriaan Reva, "Bulan depan sayang, nanti Reva tengok adik bayinya ya" jawab Rani lembut.
"Tulin Leva papa, tulunin....." pinta Reva yang tak bisa diam di gendongan Arsen.
"Kaki Reva sedang sakit sayang" ucap Arsen mengingatkan putrinya.
"Kalau gitu, bawa Leva duduk di sebelah onty papa, Leva mau elus-elus pelut buncit onty, hihihihi" Pinta Reva membuat Arsen kewalahan. Mau tak mau akhirnya Arsen mendudukan Reva di sebelah Rani.
David dan jasmine melihat interaksi mereka dengan Reva yang begitu antusias melihat kedatangan Rani.
"Dia sangat menggemaskan, kenapa kemarin aku harus mengikuti saran Daddy untuk tak mengakui cucuku sendiri," batin David.
"Ada apa kalian datang malam-malam begini" tanya Arsen mulai memecah kecanggungan yang ada di ruangan itu.
Bersambung
Happy reading guys🙏
Jangan lupa
Like
Koment
Vote
Follow
Gift🙏💞