
"Ponsel kamu mama sita, dan mulai hari ini kamu juga tidak di peebolehkan kekantor hingga hari pernikahan nanti" ucap Alisya.
"WHAT!!" pekik Reva kaget.
Alisya sengaja melakukan itu, putrinya mempunyai banyak akal, jadi bisa saja dia curi-curi ketemu dengan Reynand di saat jam kerja.
"Mana ponsel kamu" tanya Alisya sambil menegadahkan tangannya meminta ponsel yang di pegang oleh Reva.
"Mama, kenapa harus seperti ini sih, masak iya ponsel juga harus di minta, lalu bagaimana caranya Reva menghubungi Reynand mama" rengek Reva dengan tatapan memelas.
"Tidak usah banyak protes kak," ucap Alisya tak ingin di bantah.
Dengan berat hati Reva mengeluarkan ponselnya dari sakunya dan memberikannya kepada sang mama.
"Lalu Reva ngapain di rumah mah? Mana gak pegang ponsel juga" keluh Reva.
"Kamu bisa perawatan kak, nanti mamah panggil orang salon kemari," ucap Alisya.
Membuat Reva menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Nda usah dlama kak, ayo ikut Gavin aja main lato-lato" ajak Gavin.
"Hah? Apa itu lato-lato?" tanya Reva sambil mengerutkan keningnya.
"Dasar kudet, lato lato itu pelmainan yang lagi vilal kak Leva" sahut Gavin sambil menunjukkan mainannya kepada sang kakak.
"Gimana cara mainnya?" tanya Reva penasaran.
"Sini Gavin kasih tahu" ucap Gavin sambil memainkan permainannya di depan Reva.
Cara main lato-lato dengan cara membenturkan dua bola dengan menggerakan ke atas ke bawah secara perlahan-lahan terlebih dahulu dan semakin cepat.
Kemudian setelah benturan antar bola semakin menjauh baru ayunkan lato-lato dengan cara naik turun dengan ritme semakin cepat dan konsisten.
Setelah melihat Gavin memainkannya, Reva pun mencobanya.
Namun baru saja Reva mencobanya bola mengenai tangannya hingga membuat Reva mngaduh sakit.
"Aww...sakit Gav, mainan ngga jelas kak Reva ngga mau lagi main loto-lato apalah ini" kesal Reva sambil membuang mainan milik Gavin.
"Dasal payah, balu begitu saja sudah menyelah" cibir Gavin.
"Biarin saja, mainan tidak mutu begitu, bukannya menghibur malah membuat sakit" sahut Reva malah marah-marah menyalahkan mainannya Gavin.
"Sabal-sabal olang sabal badanna besal" cetus Gavin.
Reva hanya diam, dia pergi begitu saja meninggalkan adiknya.
"Selem sekali olang yang sedang nahan lindu, dali tadi cuma bisa malah-malah telus.
"Gavin juga lagi lindu nih, libulan sekolah malah membuat Gavin melana tidak bisa ketemu Dhea apalagi Aluna, kalau pelgi lagi naik motol ke lumah Aluna nanti di hukum lagi sama mama" monolog Gavin sambil duduk merebahkan kepalanya di atas meja.
...****************...
Sedangkan di kantor Reynand juga sama saja, CEO muda itu sejak tadi uring-uringan karena tidak bisa menghubungi nomor calon istrinya, sejak tadi nomor Reva tidak aktif.
"Haisss.....ponselnya juga tidak bisa di hubungi" keluh Reynand frustasi.
Reynand membuka galeri fotonya yang ada di ponselnya dan melihat foto-foto Reva untuk mengobati rasa rindunya.
"Belum juga ada sehari, berat sekali rasanya tidak bisa bertemu denganmu sayang" gumam Reynand.
Orang yang sedang bucin memang cenderung lebay, tidak bertemu sehari saja rasanya seperti tidak bertemu bertahun-tahun.
Ceklek..
Tak lama Robby masuk membuyarkan lamunan Reynand.
"Ada apa Rob?" tanya Reynand kepada sistennya.
"Ada tuan Julian dan nona Jenni di depan ingin bertemu dengan anda tuan" sahut Robby.
"Memangnya aku ada janji ketemu sama dia Rob" tanya Reynand sambil memicingkan matanya
Pasalnya Reynand hari ini tidak membuat janji bertemu dengan Julian dan putrinya itu.
"Apa kamu sudah membatalkan kerjasama kita dengan perusahaannya? " tanya Reynand.
"Sudah tuan" sahut Robby.
Reynand akhirnya mengerti tujuan Julian ingin menemuinya.
"Suruh mereka masuk Rob" titah Reynand.
Robby mengangguk patuh lantas berjalan mendekati pintu dan membukanya.
"Silahkan masuk tuan Julian, nona Jenni, tuan Reynand sudah mengijinkan anda masuk kedalam" ucap Robby sopan.
"Kenapa tidak dari tadi, tuan Reynand tidak mungkin menolak bertemu dengan saya, apalagi ada putri saya" ucap Julian sombong sambil membanggakan putrinya, padahal tak sedikitpun Reynand meliriknya.
Robby memutar bola matanya malas, dia saja tidak tertarik dengan Jenni apalagi bos nya itu, terlebih bosnya sudah punya Reva yang sebentar lagi akan ia nikahi pikir Robby.
Julian dan Jenni masuk kedalam ruangan Reynand, Jenni berjalan berlenggak lenggok untuk menarik perhatian Reynand.
"Ada apa gerangan anda datang ke perusahaan saya tuan Julian" sapa Reyna d basa basi sambil bangkit dari tempat duduknya menyambut kedatangan Julian dan juga putrinya.
"Kenapa anda membatalkan kerjasama kita tuan Reynand, apa perusahaan saya menyalahi kontrak kerjasama kita? Saya rasa tidak sama sekali" ucap Julian.
"Oh...masalah itu rupanya, kalau masalah itu anda bisa tanyakan langsung dengan putri anda tuan, kesalahan apa yang sudah ia perbuat dengan saya dan juga calon istri saya" sahut Reynand sambil duduk di sofa dan menyilangkan kedua kakinya.
"Memangnya apa yang saya lakukan tuan Reynand? Saya tidak merasa menyinggung anda dan juga calon istri anda, yang saya katakan itu kenyataan kalau calon istri anda hanya benalu" sahut Jenni.
Membuat Reynand mengepalkan tangannya.
"Jaga ucapan anda nona Jenni, saya tidak suka ada orang lain yang berani menghina calon istri saya, bukan dia yang benalu tapi memang sayalah yang memanjakannya, jangan saya orang tua saya saja tak segan-segan membelikan dia rumah jika ingin. Karena saya dan keluarga saya sudah menginginkan dia dari dulu" ucap Reynand tak suka ada orang yang menghina Reva.
Melihat situasi yang sudah mulai memanas, Julian mencoba menegur putrinya agar tak memancing kemarahan Reynand, karena nasib perusahaannya ada di tangan Reynand.
"Diam Jen"
"Tapi pah, yang Jenni katakan itu benar" kekeuh Jenni, padahal dia sudah melihat sendiri Gavin membeli banyak mobil di hadapannya.
Namun Jennie menyangkal dengan semua kenyataan yan sudah ia lihat, baginya Reva hanya gadis miskin yang memanfaatkan Reynand.
"Diam Jen, jangan membuat tuan Reynand marah" ucap Julian dengan penuh penekanan.
Kini Julian beralih Menatap Reynand.
"Saya meminta maaf atas nama putri saya, saya mohon tuan jangan membatalkan kerjasama perusahaan kita, saya akan kasih tahu putri saya supaya tidak menyinggung anda dan juga calon istri anda lagi" ucap Julian dengan penuh permohonan.
"Percuma anda memohon sama saya tuan Julian, karena saya tidak akan merubah keputusan saya" tegas Reynand.
Julian mengepalkan tangannya menahan marah, dia sudah menjatuhkan harga dirinya meminta maaf dengan Reynand namun tidak mengubah keputusannya.
"Kalau begitu saya akan meminta uang pinalty kepada perusahaan anda, bukankah di surat kontrak sudah di jelaskan siapa yang membatalkan kerjasama kita secara sepihak akan kena denda sebesar 150Milliar" ucap Julian yang sudah geram dengan Reynand.
Bukannya takut, Reynand justru tertawa miring mendengar ucapan Julian.
"Saya tidak akan bayar denda sepeserpun kepada anda tuan Julian" ucap Reynand.
"Kalau begitu saya akan membawa kasus ini ke jalur hukum" ancam Julian.
"Lakukan saja tuan Julian, dan saya pastikan bukan saya yang akan mendekam di penjara melainkan anda sendiri" ucap Reynand.
Reynand melempar map yang berisi tentang kecurangan serta bisnis ilegal yang di geluti oleh Julian.
Julian pun mengambilnya dan membacanya, ia terbelalak melihat apa yang tertulis di map tersebut.
"Bagaimana bisa" gumam Julian.
Julian menyelundupkan senjata untuk di jual secara ilegal, tak lupa dia juga melakukan jual beli organ tubuh manusia.
Bersambung
Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏
Happy reading guys🙏