Baby Girl

Baby Girl
BAB 142



Siang hari setelah menjemput Reva di sekolah, Alisya langsung membawa semua buah hatinya pergi ke kantor suaminya.


Alisya membawa bekal yang ia bawa dari rumah, kebetulan dia tadi menyempatkan diri untuk memasak menu kesukaan suaminya dengan tangannya sendiri.


Sepertinya benar kata suaminya, kalau Alisya harus berterima kasih dengan putrinya itu, berkat peringatan darinya ketiga anaknya hari ini benar-benar anteng, mereka hanya duduk anteng sambil memainkan mainan nya.


Tiba di perusahan Global Group Alisya langsung mendekat ke meja recepsionist. Menjadi istri pemilik perusahaan bukan berarti membuat dia nyelonong masuk begitu saja, Alisya tetap mengikuti prosedur perusahaan.


"Siang Nyonya, ada yang bisa saya bantu?" tanya receptionist sopan.


"Saya mau ketemu tuan Arsen" jawab Alisya ramah.


"Langsung naik saja Nyonya, tuan Arsen sedang ada di ruangannya" ucap recepsionist.


"Terima kasih" balas Alisya tersenyum manis kepadanya.


Alisya menuju ke ruang suaminya dengan menggendong putri bungsunya, sedangkan Reva mendorong stroller kedua adiknya dengan di bantu Max.


"Gila, istri bos sudah ramah, cantik pula....apa lagi ke empat anaknya, glow up sejak dini." ucap recepsionist kepada temannya.


"Iya woy, biasanya kan kalau istri bos itu pasti sombong dan arogant nya gak ketulungan, tapi nyonya Alisya berbeda, dia tetap sopan dan terlihat sederhana" sahut karyawan A


"Tidak seperti sekretaris tuan Nino itu, baru jadi sekretaris aja sudah sombong banget. Tidak tahu apa kalau dia itu berasal dari tanah, makan dari tanah dan akan kembali ke tanah, lantas ngapain dia melangit" ucap Karyawan B.


"Biarin saja, suatu saat pasti dia akan jatuh" ucap recepsionist.


"Ayo, kita kembali kerja...nanti ketahuan tuan Nino bisa di pecat kita" ucap karyawan A Mengingatkan.


Sedangkan di ruangan Arsen.


Tak terasa jam istirahat pun tiba, Arsen merengangkan tubuhnya yang terasa pegal.


Setelah itu dia beranjak dari kursinya. Lalu Arsen berdiri di dekat jendela, ia menatap keluar sambil melihat mobil yang berlalu lalang di jalan raya.


Tak lama pintu ruangannya terbuka.


Arsen menoleh, terlihat senyum lebar terukir dari bibir Arsen, dia sangat senang denagn kedatangan istri serta buah hatinya.


"papapa..." oceh Rachel seolah memanggil papanya.


Dengan senyum yang tak luntur, Arsen melangkahkan kakinya menyambut kedatangan istrinya.


Sedangkan Max langsung ke luar dari ruangan tersebut.


"Kalian sudah datang ternyata" ucap Arsen seraya mengambil alih putrinya dari gendongan istrinya, tak lupa Arsen juga mengecup kening istrinya dengan sayang.


Arsen membawa istrinya duduk sambil menggendong putrinya.


"Papa....ngga lihat apa Reva repot mendorong meleka, papa malah asik duduk sambil peluk-peluk mama Reva" ucap Reva kesal.


"Eh" kaget Arsen sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Dia baru ingat kalau anaknya bukan cuma Rachel, dia hanya fokus sama istrinya saja yang membawa putri bungsunya.


"Maaf, papa lupa sayang" ucap Arsen kikuk.


"Oh, jadi melupakan kami" ucap Reva dengan senyum misterius.


"Bukan begitu sayang" sahut Arsen, dia sedikit curiga dengan senyum putrinya yang terlihat berbeda, pasti akan ada sesuatu yang mengintai dirinya.


"Tak masalah" ucap Reva santai sambil mendorong stroller Revan dan Ravin ke dekat sofa.


Sedangkan Alisya mulai menyiapkan makanan untuk suaminya dia atas meja.


Alisya melirik ke arah suaminya yang tengah sibuk bermain dengan anak-anaknya.


Alisya menghela nafas sabar.


Alisya akhirnya menyuapi suaminya itu.


"Aaaaa...papa" ucap Alisya.


Arsen pun membuka mulutnya, dan Alisya langsung memasukkan nasi kedalam mulut suaminya.


Arsen merasakan rasa yang berbeda dari masakan yang di bawa istrinya. Rasanya berbeda dari masakan yang biasa di masak oleh pelayannya di rumah.


"Kamu yang memasaknya, sayang" tanya Arsen setelah menelan habis makanannya yang ada di mulutnya.


"Iya honey, apakah tidak enak?" tanya Alisya takut suaminya tak menyukainya.


"Enak baby, aku suka" puji Arsen membuat Alisya bernafas lega.


"Kamu sudah makan belum" tanya Arsen perhatian.


"Sudah, tadi sebelum menjemput Reva aku menyempat diri untuk makan." jawab Alisya.


Karena kesibukannya mengurus anak-anaknya Alisya sudah tidak pernah lagi memasak untuk suaminya.


"Tidak, mereka baik hari ini" jawab Alisya.


"Mama kenapa cuma menyuapi papa, kenapa Reva tidak di suapi" sela Reva menghentikan obrolan keduanya.


"Memangnya kamu mau lauk seperti papa? Biasanya kan kamu harus ada telurnya" tanya Alisya.


"Reva mau mama, Reva sudah lapar....mama dengal tidak kalau cacing di pelut Reva sudah berdemo minta makan, hihihihi" ucap Reva sambil memegangi perutnya.


Alisya terkekeh melihat tingkah putrinya.


Akhirnya dengan telaten Alisya menyuapi keduanya. Hingga nasi yang ada di piring habis.


Arsen menaruh putri bungsunya di karpet bergabung dengan kakak-kakak nya.


"Hoeny, bagaimana kalau nanti malam kita undang Viona dan keluarga Dinata juga, kita bikin barbeque saja, sekalian kita silaturahmi dengan mereka" usul Alisya.


"Kamu atur saja baby" ucap Arsen Membuat Alisya berdecak.


Suaminya itu selalu saja menyerahkan semuanya kepada dirinya, dia tak mau ribet hanya terima jadi saja.


Ceklek


Tiba-tiba pintu ruangan Arsen terbuka, tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


"Maaf," ucap Nesaa gugup, dia tak menyangka ternyata di dalam ruangan bos nya ada istri serta anak-anaknya.


"Tante badut ngapain masuk ke luang kelja papa" tanya Reva galak.


"Ck, ternyata anak sama mamanya sama saja, tidak ada sopannya sama sekali" sindir Nessa.


"Apa bedanya denganmu hmm, harusnya kamu ketuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke ruangan bos mu," timpal Alisya tak kalah sengit.


"Ternyata kamu yang di maksud putriku selama ini. Aku tak menyangka putri seorang pemilik perusahaan kenapa mau bekerja di sini, apa perusahaan keluargamu sudah bangkrut hmmm" lanjut Alisya.


"Apakah begini kelakuan istri dari pemilik perusahaan terbesar di negara ini bahkan di dunia, kamu sama sekali tidak mencerminkan istri seorang pengusaha" Ucap Nessa dengan senyum mengejek.


Arsen jengah dengan tingkah sekretarisnya itu.


"Bahkan aku tak masalah jika istriku berani memecatmu nona, jadi jangan pernah menghinanya" tegas Arsen.


"Kamu dengar sendiri bukan, bahkan sewaktu waktu aku bisa memecatmu sesuka hatiku" ucap Alisya angkuh.


"Jangan pecat saya tuan, saya kesini hanya ingin memberikan makan siang untuk tuan" ucap Nessa langsung merubah ekpresinya dengan di buat semenyedihkan mungkin. Supaya Arsen iba melihatnya.


"Tidak perlu, saya sudah makan masakan istri saya" tolak Arsen tegas.


"Dengal itu tante badut, papa Reva sudah makan, jadi sekarang tante badut keluar dari ruangan papa" usir Reva sambil berkacak pinggang.


Nessa mengepalkan tangannya, dia merasa di permalukan di depan Arsen oleh Alisya dan juga putrinya itu.


Dengan amarah menyelimuti hatinya, Nessa keluar dari ruang kerja Arsen.


"Kenapa kamu memperkerjakan dia di sini honey, apa kamu sengaja hmm" tanya Alisya penuh selidik.


"Bukan aku mam, Nino lah yang menerima dia bekerja di sini, bahkan aku tidak ikut menginterview nya" terang Arsen supaya istrinya itu tidak marah.


"Apa kamu mengenalnya hmmm" tanya Arsen pura-pura tidak tahu.


"Tentu saja, dia anak pamanku yang dulu tengah mengusirku" jawab Alisya marah


"Apa kamu ingin aku memcatnya" tanya Arsen lagi.


"Apa kamu setuju jika aku menginginkan itu" bukannya menjawab, Alisya justru memberikan pertanyaan kepada Arsen.


"Apa aku terlihat keberatan?, kamu bisa memecatnya kapan pun kamu mau, bukankah selama ini aku selalu menuruti kemauan istriku ini" balas Arsen.


"Kamu saja yang memcatnya, aku kan bukan pemilik perusahaa ini" sahut Alisya.


"Ck, tadi sok-sokan mau memecat dia, giliran di suruh malah tidak mau" sindir Arsen sambil menarik hidung mancung istrinya.


"Mama memang payah pa. Kalau mama tidak mau, bial Reva yang memecat tante badut itu" timpal Reva.


Reva berdiri, dan ingin melangkahkan kakinya keluar dari ruangan, namun di cegah oleh Alisya.


"Kamu mau kemana sayang" tanya Alisya mengerutkan dahinya.


"Mau keluangan tante badut, Reva mau pecat dia sekarang" jawab Reva.


Arsen dan Alisya kompak menepuk keningnya.


Bersambung


Happy reading guys🙏


Author lagi ngebut guys, tolong kasih kopi buat teman begadang othor😂