Baby Girl

Baby Girl
S2~16



Reva menatap iba ke arah Listy yang meringis kesakitan karena terkena tendangan dari adiknya itu, apa lagi mengenai tulang keringnya, sudah pasti itu rasanya sangat sakit.


"Adik kak Reva memang hebat" puji Reva.


"Tentu saja, Gavin gitu loh" sahut Gavin dengan menepuk dadanya sombong.


Reva mengelus kepala adiknya dengan bangga, kini ia sudah tak perduli setatusnya, yang terpenting semua keluarganya sayang dengannya.


"Pergilah sebelum aku kembali menghajarmu" sambil menendang tubuh Brian yang tergeletak di rumput.


Listy membantu kekasihnya berdiri, dengan langkah pincang Listy memapah tubuh Brian, masuk ke dalam rumah sakit.


Mereka berdua butuh dokter untuk mengobati lukanya.


Reynand berjongkok di hadapan Reva sambil menatap manik Reva dengan intens.


"Are you ok" tanya Reynand.


"Yahh.. I'm ok" jawab Reva dengan senyum yang di paksakan.


Pertanyaan sederhana dari mulut Rey, tapi mampu membuat hati teriris dan rasanya ingin menangis sejadi jadinya.


"Apakah kau butuh bahu, atau pelukan mungkin" tawar Reyanand sambil mengusap pipi Reva.


"Aku hanya butuh pelukan, tapi aku tidak ingin menangis, bukankah aku akan terlihat bodoh jika menangisi pria brengs*k itu" kata Reva.


Reynand tersenyum lalu merengkuh tubuh Reva dan membawanya ke pelukannya.


"Dan aku akan menertawakanmu jika kau menangisi pria bodoh itu" ucap Reynand sambil memeluk Reva.


"Maka dari itu, aku tak akan menangis supaya tak menjadi bahan tertawaanmu" sahut Reva sambil menyandarkan kepalanya di bahu Reynand.


Reynand masih mengusap punggung ringkih Reva.


"Terima kasih, kau selalu ada untuk ku Rey" lirih Reva yang hampir tak terdengar di telinga Reynand.


"Bukankah itu sudah menjadi tugasku sebagai sahabat sekaligus saudaramu" balas Reynand.


Reva melerai pelukannya, lalu menundukkan wajahnya.


"Apa kau masih mau menganggapku saudara Jika tahu aku bukan anak papa Arsen, Rey?" tanya Reva sambil meremas baju rumah sakit yang ia kenakan.


Kening Reynand mengeryit, ia tak mengerti dengan ucapan Reva barusan.


"Hah? aku tak mengerti maksud ucapanmu barusan " sahut Reynand bingung.


Reva menghela nafas panjang. lalu mengangkat kepalanya melihat wajah bingung Reynand.


"Lupakan ucapanku barusan Rey, lebih baik kita kembali keruangan, aku sudah pegal" ucap Reva mengalihkan pembicaraan.


"Apa ini sakit Rey" tanya Reva ketika melihat sudut bibir Reynand yang terluka, karena tadi Brian sempat membalas pukulan Reynand.


"Ini hanya luka kecil, besok juga sembuh" jawab Reyanand.


Lalu berdiri dari jongkoknya tadi. Setelah itu ia berdiri di belakang Reva kemudian mendorong kursi roda Reva kembali ke ruangannya.


Sepanjag perjalanan menuju ke ruangan Reva, Reynand terus diam mencoba mencerna ucapan Reva tadi.


"Biarlah, nanti aku akan mencari tahunya sendiri" pikir Reynand.


Sampai kamar Reva, Reynand mengangkat tubuh Reva dari kursi rodanya, lalu merebahkannya di brankar.


"Sarapan dulu ya, kamu dari tadi belum sarapan" kata Reynand.


"Tidak mau, pasti rasanya tidka enak" tolak Reva seraya melirik makanan yang ada di atas nakas.


"Lalu kamu mau makan apa hmm" tanya Reynand dengan penuh perhatian.


"Aku ingin bubur ayam, apa kau mau membelikannya untukku" pinta Reva dengan wajah penuh harap.


"Tentu saja, aku akan membelikannya untukmu" ucap Reynand.


Perasaan Reynand menghangat ketika mendapat pelukan dari wanitanya. ia berharap Reva akan terus memeluknya.


"Boy, kak Rey mau beli bubur ayam, kamu mau di sini atau ikut kak Rey" tanya Reynand sambil melepaskan pelukannya.


"Gavin di sini saja, jagain Kak Leva " jawab Gavin.


"Yasudah kak Rey keluar dulu" pamit Reynand, setelah itu pergi ke depan rumah sakit untuk mencari penjual bubur.


Gavin sama Reva kompak menganggukkan kepalanya.


"Kamu tak ingin pulang Gav" tanya Reva.


"Tidak ah, Gavin di sini saja, kalau pulang nanti Gavin di suluh sekolah sama mama" sahut Gavin.


"Itu kan tugas kamu, memangnya mau ngapain lagi kalau bukan sekolah" balas Reva.


Gavin tak menyahut, ia lebih memilih fokus menonton film kartun kereta kesukaannya.


...****************...


Sedangkan di ruangan lain, Brian masih di obati oleh dokter begitu juga Listy, kakinya terlihat memar.


Mereka tak jadi datang ke restoran Alisya, mereka tak mungkin ke restoran Alisya dalam keadaan menyedihkan seperti itu.


"Kamu kenapa lagi Bri" tanya Debora yang baru saja masuk kedalam ruangan Brian.


Setelah kejadian itu, Listy memutuskan untuk menghubungi orang tua Brian.


"Brian di pukul lagi, sama ...entah Listy tak tahu nama pemuda itu, yang jelas pemuda itu tadi membela mantan Brian Aunty" sahut Listy.


"Lagi-lagi gara-gara anak haram itu, mommy harus mendatangi keluarganya, untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya" ucap Debora marah ketika tahu anaknya jadi bulan-bulanan keluarga Reva.


"Sepertinya mantan Brian di rawat di rumah sakit ini juga aunty, tapi Listy tidak tahu dia di rawat di kamar apa" kata Listy.


Debora mendekati ranjang putranya, dan mengecek keadaan putra semata wayangnya. ia begitu geram dengan keluarga Reva yang terus menerus membuat putranya babak belur.


"Apa pemuda itu kekasih Reva yang baru Bri" tanya Debora kepada sang putra.


"Bukan mom, dia Reynand anak tuan Reagan" jawab Brian sambil menahan sakit.


"Haissss.... aku melupakan keluarga itu, tentu saja pemuda itu akan membela Reva, tuan Reagan dan tuan Arsen itu sepupuan. akan sangat sulit menghadapi dua keluarga besar yang sama-sma berkuasa itu" keluh Debora frustasi.


"Kalian tunggu di sini, mommy akan cari tahu ruang perawatan anak haram itu" titahnya.


Setelah itu ia pergi menuju ke bagian resepsionis untuk menanyakan ruangan Reva.


"Ada yang bisa saya bantu nyonya" tanya resepsionis.


"Saya mau tanya kamar pasien yang bernama Reva" sahuy Debora.


"Maaf, anda siapanya pasien" tanya resepsionis.


Tentu semua staff yang ada di rumah sakit tahu siapa Arsen, jadi dia tidak akan sembarangan memberikan informasi Reva kepada orang asing.


Terlebih Reva merupakan pasien yang di rawat di kamat VVIP, tentu sang resepsionis bisa menebak kalau identitas Reva bukan orang sembarangan.


"Saya kerabatnya, saya mau menjenguknya tapi saya tidak tahu kamarnya" ucap Debora bohong.


Sang resepsionis mengeryit, ngaku sebagai kerabat tapi tidak tahu kamar rawatnya, bukankah itu aneh apalagi Reva sudah di rawat beberapa hari di rumah sakit ini.


"Memangnya Reva siapa yang anda cari nyonya?, coba nyonya sebutkan nama panjangnya" tanya resepsionis.


Debora bingung menjawabnya, pasalnya ia tidak tahu nama panjang Reva, sebelumnya ia tidak menanyakannya pada Brian terlebih dahulu.


"Maaf nyonya, kami tidak bisa memberi tahu informasi yang anda minta" kata sang resepsionis ketika melihat gelagat tak beres dari Debora.


Bersambung


Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏