
Ceklek...
Arsen membuka pintu dan mereka semua langsung masuk kedalam ruang rawat Reva.
"Sayang, kamu sudah sadar" ucap Arsen langsung memeluk tubuh sang putri.
"Jangan seperti ini lagi, kau membuat semua orang khawatir" lanjutnya.
"Maaf papah" ucap Reva tersenyum.
Arsen melerai pelukannya dan mengecup kening putrinya, ia bahagia melihat putrinya bisa kembali berkumpul dengan keluarganya.
"Anak Reva mana papah" tanya Reva.
Tak lama terdengar suara tangisan bayi, bayi mungil itu seolah memberi tahu ibunya kalau dirinya ada di ruangan tersebut.
"Itu nangis anaknya" sahut Arsen menyingkir kesamping memberi jalan sang istri.
Alisya tersenyum dan Reva merentangkan tangannya meminta mamahnya untuk memberikan bayinya.
"Bawa sini mah" pinta Reva.
Alisya mengangguk dan memberikan bayi tersebut kepada Reva.
"Uluh.. uluh... anak mommy jangan menangis ya" ucap Reva menenangkan putrinya, bayi mungil itu langsung menghentikan tangisnya, dia kembali terlelap karena merasa nyaman di dekapan sang mommy.
"Kak Leva bayina namanya siapa? dali kemalin nda di kasih nama, kalau gitu bial Gavin aja yang kasih nama" tanya Gavin menyela pembicaraan mereka.
Bocah kecil itu bingung memanggil nama keponakannya, makanya dia memanggilnya Cherry karena kulitnya yang merah seperti buah Cherry.
"Memangnya siapa namanya Gav, kak Reva belum cari nama untuk anak kak Reva" ucap Reva.
"Cherry" sahut Gavin singkat.
"Yang benar saja Gav, Cherry kan nama buah" protes Ravin.
"Ya telselah Gavin lah mau kasih nama dedek bayina siapa, dali pada nda puna nama" sewot Gavin.
"Cherry Adelia putri Addison" cetus Reynand tiba-tiba.
Semua orang menoleh ke arah Reynand.
"Maksudnya kamu memberi nama putrimu Cherry" tanya Arsen memastikan.
"Iya" jawab Reynand yang masih merasa canggung, karena awalnya ia menolak keberadaan putrinya.
"Bagus namanya" ucap Arsen manggut-manggut.
"Oh my Cherry, keponakanya om Gavin yang gemoy seperti om Gavin" ucap Gavin lebay sambil menoel-noel pipi keponakannya.
Membuat bayi itu menggeliat, karena merasa terganggu.
"Diam Gav, Cherry nya ngga mau di pegang sama kamu" ucap Ravin.
"Ck, sok jual mahal, padahal tadi di lumah mau di jagain sama Gavin" decak Gavin.
"Biarin aja, namanya anak cewek jadi harus jual mahal, apalagi sama playboy cap tikus kek kamu" sahut Reva membuat Gavin jengkel.
Tak lama pintu ruangan Reva terbuka, terlihat Erik datang bersama dengan Viona dan juga ada Reagan dan Renata yang juga baru datang.
"Thank's God, akhirnya kamu sadar juga sayang" ucap Erik mencium setiap inci wajah putrinya.
"Kamu sudah dua kali membuat jantung papi seperti berhenti berdetak, jangan ulangi lagi, kau membuat papi takut" ucap Erik sambil mengelus pipi putrinya dengan mata berkaca-kaca.
"Iya papi, maafin Reva, jangan sedih nanti Revanya juga ikut sedih" ucap Reva sambil menatap mata papi ya.
Erik tersenyum dan sekali lagi mengecup puncak kepala putrinya.
"Bawa sini baby nya, biar papi yang menggendongnya" pinta Erik mengambil alih putri Reva, dan menggendongnya.
"Hai, harusnya aku dulu aku ini opanya" seru Reagan tidak terima.
"Tapi kan putraku yang membuatnya" ucap Reagan.
"Memangnya tanpa putriku putramu bisa apa, yang ada mah solo karir" sahut Erik mengejek Reagan.
Semua menatap keduanya jengah, sedangkan Arsen hanya duduk santai saja sambil menikmati perdebatan mereka berdua.
🌹🌹🌹
Satu minggu berlalu akhirnya Reva sudah di ijinkan pulang, Reva memilih pulang ke rumah mamahnya dan hal itu membuat Alisya senang, dengan begitu dia bisa merawat putri dan juga cucunya sekaligus. Meskipun mertuanya baik namun Reva lebih nyaman tinggal dengan orang tuanya. Apalagi Reva baru melahirkan pasti dia akan banyak merepotkan sang mamah.
Renata dan Viona menerima keputusan Reva, mereka tak masalah Reva tinggal di rumah Alisya, toh dia nanti bisa datang menjenguk putrinya itu.
"Yess... akhilna baby Chelly tinggal di lumah ini juga" sorak Gavin senang melihat kakaknya kembali tinggal dirumahnya.
"Kenapa kamu yang girang Gav" tanya Rachel aneh.
"Gavin jadi ada teman main kak Lachel" Jawab Gavin.
"Ck, Cherry masih bayi, mana bisa di ajak main" ucap Rachel.
"Bisa aja, dia cuma bisa senyum-senyum juga nda masalah, dalipada kalian bisa bicala tapi nda bisa di ajak main" sahut Gavin menyindir kakaknya.
"Kamu negeselin, makanya kami males main sama kamu" ucap Rachel setelah itu pergi meninggalkan Gavin yang menggerutu.
Sedangkan di kamar Reva, Reva sedang menyusui bayinya.
"Sssttt.... " desis Reva merasakan sakit di pucuk d4d4nya karena putrinya mengisapnya terlalu kuat.
"Kenapa sayang" tanya Reynand yang melihat istrinya meringis kesakitan.
"Kencang banget nyus*nya honey" jawab Reva.
"Baby pelan-pelan minumnya, kasihan mommy nya sakit" ucap Reynand sambil mengusap kepala putrinya.
Cherry pun menurut setelah kena tegur sang daddy.
"Masih sakit ngga sayang" tanya Reynand.
"Tidak honey, sepertinya dia takut di marahi kamu" jawab Reva.
Reynand tersenyum melihat wajah cantik putrinya.
"Dia lucu sayang. kemarin aku sempat menyalahkannya karena sudah membuatmu koma, bahkan aku tak mau melihatnya. Kamu ingat wajahku memar saat di rumah sakit, itu bukan karena aku berkelahi sama preman, tapi aku di pukul Rachel, dia marah karena aku mengabaikan putriku.Tapi aku juga terima kasih kepada Rachel yang sudah berhasil membuatmu sadar" ucap Reynand akhirnya cerita dengan istrinya.
"Bersyukur kamu cepat sadar, mungkin kalau belum sampai sekarang aku akan terus menyalahkannya" imbuhnya.
"Maafkan daddy yang sempat membencimu sayang" ucap Reynand meneteskan air matanya sambil mencium puncak kepala putrinya.
Dari tadi Reva menatap Reynand dengan tatapan yang sulit di artikan.
Dia marah karena mendengar suaminya yang menyalahkan putrinya, tapi di sisi lain juga dia terharu karena suaminya begitu menyayanginya, meskipun karena rasa sayangnya yang besar kepadanya membuat dia sempat menyalahkan putrinya sendiri.
"Maafkan aku sayang, aku hanya takut kehilangan mu" ucap Reynand menduselkan wajahnya di ceruk leher istrinya.
Reva menghela nafas sambil mengusap bahu bergetar suaminya.
"Sudahlah, semua sudah berlalu lain kali kalau ada sesuatu yang menimpaku jangan pernah kamu menyalahkan siapapun, semua yang terjadi bukan karena kehendak kita honey, tapi semua terjadi karena kehendak Allah" ucap Reva menasihati suaminya.
"Apa kamu tak marah" tanya Reynand sambil menatap wajah istrinya.
"Bohong kalau aku tidak marah, kau sudah mengabaikan putriku, dan juga menyalahkan putriku tentu hal itu membuatku marah. Tapi aku bisa apa, kalau aku marah yang ada akan membuat masalah baru. yang penting saat ini kamu sudah sadar dengan kesalahanmu dan mau berubah" jawab Reva.
Reynand tersenyum menatap bangga istrinya, ia bangga memiliki istri seperti Reva.
Bersambung
Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏