Baby Girl

Baby Girl
BAB 49



"Sayang, makan malam sudah siap" panggil Belinda menghentikan mereka yang masih saling serang.


"Iya bund" sahut Arsen mewakili mereka.


Arsen menghentikan Reva yang masih menyerang dirinya. Mereka menyandarkan tubuhnya di sofa dengan nafas yang masih ngos-ngosan.


"Leva tapek cekali, gala-gala papa ini" keluh Reva menyalahkan Arsen seraya menyeka keringet di dahinya.


"Enak saja menyalahkan papa, salah sendiri ikut-ikutan" protes Arsen tak terima.


"Tiapa culuh papa gelitikin mama na Leva" sahut Reva tak mau kalah.


Alisya menatap mereka jengah, jika tak di hentikan mereka akan terus berdebat.


"Ayo kita makan malam, bunda sudah menunggu kita di meja makan" ajak Alisya.


"Ntal mama, Leva tapek" ucap Reva lemas lalu merebahkan tubuhnya di bahu Arsen.


Arsen dan Alisya terkekeh melihat tingkah lucu Reva. Arsen senang dengan keberadaan Reva di rumah nya. Reva membuat rumah yang tadinya sunyi jadi rame karena tingkah lucu Reva.


"Udah ayo papa gendong" ajak Arsen seraya mengangkat tubuh kecil Reva. Arsen menggendong Reva di atas bahunya sehingga membuat gadis kecil itu terpekik.


"Holeee..... Leva tindi cekalang, " sorak Reva sambil bertepuk tangan.


"Pegangan girl, nanti kamu jatuh" tegur Arsen. Lalu Reva memegang kepala Arsen supaya tidak jatuh.


"Mama bahagia melihat mu yang terus tersenyum sayang, semoga di masa depan kau akan selalu tersenyum, meskipun dunia telah menyakitimu" ucap Alisya dalah hati.


Alisya mengikuti langkah Arsen yang membawanya ke ruang makan. Di situ terlihat Belinda sudah duduk menunggunya.


"Oma liat, Leva lebih tindi dali mama" ucap Reva dengan wajah berbinar. Allisya menggelengkan kepalanya melihat putrinya yang sangat antusias di atas bahu Arsen.


"Wow...Cucu oma tinggi sekali, omah kalah tinggi dengan Reva" puji Belinda yang semakin membuat Reva senang.


Arsen menurunkan Reva dari bahunya, dan membantunya duduk di kursi. Arsen tertawa kecil melihat wajah cemberut Reva.


"Kenapa wajahmu begitu girl" tanya Arsen yang pura-pura tidak tahu.


"Tenapa papa tulunin Leva, Leva cekalang jadhi tecil lagi ini" ucap Reva dengan bibir yabg masih manyun. Semua tergelak mendengar keluhan Reva. Apa Reva tak sadar kalau dirinya memang masih kecil.


"Memang nya kenapa, kan Reva memang masih kecil" sahut Arsen.


"Telus kapan Leva besalnya pa? Leva halus cepat besal dan tuat, cupaya bica melindungi mama Leva dali olang jahat" cicit Reva.


Arsen dan Belinda terharu melihat Reva yang sangat menyayangi mamanya.


Alisya tersenyum seraya mengelus kepala putrinya. Beruntung Alisya dulu tak menggugurkan kandungannya. Kalau iya maka dia akan kehilangan putrinya yang cantik, lucu dan sangat mencintai dirinya.


"Sekarang Reva makan yang banyak supaya cepat besar" ucap Alisya menghentikan ocehan putrinya.


"Telus talau Leva dendut badaimana ma, nanti Leva nda tantik ladhi telus Ley nda mau deh cama Leva" ucap Reva yang selalu saja membalas ucapanya.


Mereka bertiga menjatuhkan rahangnya.


"Kamu ini kenapa cerewet sekali, sekarang makan jangan membalas ucapan mama terus" tegas Alisya yang sudah kesal dengan putrinya, bisa-bisanya masih kecil sudah bilang suka sama Reynand.


"Iya mama yang tantik, tapi macih tantik Leva" sahut Reva dengan cekikikan. Sungguh mereka sangat gemas dengan celotehan gadia kecil itu.


"Kenapa putriku gini amat ya" lirih Alisya frustasi. Arsen terkekeh seraya mengelus punggung Alisya.


"Makan, atau mama karungin kamu" ucap Alisya dengan wajah galak. Reva langsung diam dan membisikan sesuatu ke telinga Arsen.


"Mama talau ladhi malah selem cekali" bisik Reva di telinga Arsen, Arsen sekuat tenaga melipat bibirnya supaya tawanya tak pecah, atau dia juga akan ikut kena marah oleh Alisya.


Akhirnya mereka makan dengan diam, tanpa ada yang bicara yang ada hanya suara dentingan sendok dan garpu. Reva pun ikut diam karena Alisya akan marah kalau putrinya itu makan sambil berbicara.


Setelah makan malam selesai mereka langsung masuk ke kamarnya masing-masing, Reva tidak ikut ke kamar mamanya ia malah memilih tidur bersama Arsen.


*


*


*



Arsen sangat terpesona dengan wajah cantik Alisya. Sebelum keluar dari restoran Alisya sudah mengganti bajunya terlebih dahulu.


"Maaf, sudah membuatmu lama menunggu" ucap Alisya yang kini sudah berada di hadapan Arsen yang sedang menyandarkan tubuhnya di mobil.


"Tak masalah, bahkan aku bisa menunggumu lebih lama lagi" gombal Arsen.


Blusshhh


Wajah Alisya memerah mendengar gombalan Arsen.


"Jadi pergi ngga nih" ketus Alisya menutupi kegugupannya.


"Jadi baby" jawab Arsen cepat. Arsen membukakan pintu mobil untuk Alisya. Kemudian ia memutari mobilnya dan membuka pintu kemudi. Arsen pun masuk lalu duduk di kursii kemudi.


Arsen melepas dasinya, lalu menutup mata kedua mata Alisya menggunkan dasinya.


"Kenapa di tutup, jangan bilang kau akan membuangku" protes Alisya yang matanya sudah di tutup oleh Arsen.


"Nanti kau jugan akan tahu baby, mana mungkin aku akan membuang calon istriku" ucap Arsen membuat jantung Alisya jedag jedug tak karuan.


Arsen menjalankan mobil nya ke sebuah hotel yang ia tuju, Nino menyiapkan makan malam romantis di lantai atas hotel milik Arsen


Tiba di plataran hotel Arsen langsung turun dari mobil, lalu membukakan pintu untu Alisya. Arsen membantu Alisya turun karena matanya yang masih tertutup.


Arsen membiarkan menyuruh petugas vale untuk memarkirkan mobilnya.


Dengan berhati-hati Arsen membawa Alisya memasuki lift yang akan membawanya ke lantai atas.


Ting


Lift sampai di lantai atas. Arsen membantu Alisya membantu Alisya ke luar dari lift tersebut.


"Kapan sampainya" keluh Alisya.


"Kita sudah sampai baby" jawab Arsen lalu membantu Alisya membuka penutup matanya.



Alisya langsung menutup mulutnya, ia tak menyangka Arsen akan memberikan kejutan seperti ini. Alisya sangat takjub dengan pemandangan yang ada di depannya. Dari atas sini Alisya bisa melihat seluruh pemandangan kota jakarta di malam hari.


Arsen menggiring Alisya menuju meja makan yang sudah di hias sedimikian rupa. Ia menarik kursi lalu mempersilahkan Alisya untuk duduk.


"Terima kasih" ucap Alisya lalu mendudukan bokongnya di kursi tersebut. Arsen hanya tersenyum lalu dia juga ikut duduk di samping Alisya.


Arsen menyuruh pelayan untuk menyiapkan makanan kesukaan Alisya.


"Permisi tuan" pelayan datang menyajikan makanan sesuai permintaan Arsen.


"Terima kasih" ucap Arsen. Kemudian pelayan itu berlalu meninggalkan mereka berdua.


Mereka mulai memakan makanannya, sesekali Arsen menyuapi Alisya. Tak lama makanan yang ada di piring mereka pun habis.


Tiba-tiba Arsen berlutut di depan Alsiya ia meraih kedua tangan Alisya seraya menatap kedua mata Alisya dengan begitu dalam, lalu ia berkata.


"Alisya, malam ini, aku ingin mengatakan dengan segenap kerinduanku. Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, jadilah pendamping hidupku.


Aku sudah menunggu saat ini untuk waktu yang lama. Untuk mengatakan ini aku butuh banyak waktu mempertinmbangkan segala hal yang mungkin terjadi. Bermunajat pada tuhan untuk menentukan pilihanku yang paling tepat. Berkali-kali ku tanya pada hatiku. Sendiri. Sudah tepatkah pilihanku? Dan berkali kali pula jawabanku tetap sama yaitu kamu.


Alisya Alghifari maukah kamu menjadi ibu dari anak-anak ku, dan mau kah kamu menua bersamaku?. Alisya will you marry me?." ucap Arsen sambil berlutut di depan Alisya selayaknya melamar seorang wanita.


Bersambung


Terima Al, kalau tidak nanti othor di gebukin sama para readers😂


Happy reading semua🙏