Baby Girl

Baby Girl
S2~90



Tengah malam Reva bangun dari tidurnya, dia merasa lapar padahal tadi sebelum tidur dia sudah makan, tapi perutnya seakan tak pernah merasa kenyang


Dia menengok kesamping tapi ternyata suaminya masih tidur nyenyak.


Reva melepaskan tangan suaminya dari tubuhnya secara perlahan agar tak mengusik tidurnya.


Dengan hati-hati dia beranjak dari ranjangnya, dia berjalan mengendap-endap dan membuka pintu kamarnya.


Reva keluar kamar, dia turun kebawah menuju ke dapur.


Sampai di dapur Reva langsung membuka pintu kulkas, dia melihat isi kulkas yang masih penuh, ada aneka buah, kue dan lainnya.


"Makan apa ya?" Reva bingung sambil mengetuk ngetuk dagunya.


"Sepertinya makan mie rebus pakai telur jauh lebih enak apalagi suasana hujan seperti ini." ucap Reva dengan mata berbinar.


Reva mengambil mie instan serta telur lalu memasaknya. Reva jarang makan mie instan bahkan hampir tidak pernah, karena orang tuanya selalu melarangnya.


Tak lama mie rebus milik Reva pun matang, lalu dia menaruhnya kedalam mangkok.


Reva duduk di meja makan sambil memakan rebusnya, dia makan begitu lahap hingga tak terasa mie yang ada di mangkoknya habis.


Setelah itu dia ngambil buah dan memakannya, ibu hamil itu tak bisa diam mulutnya terus mengunyah.


Sementara di kamarnya, Reynnad meraba-raba kesamping namun tidak menemukan keberadaan istrinya.


Dia membuka matanya ternyata istrinya memang tidak ada di sampingnya.


"Sayang" panggil Reynand dengan mengeraskan suaranya supaya istrinya itu mendengarnya.


Reynand mengulang beberapa kali tapi istrinya masih tidak menyahut panggilannya.


"Kemana dia" gumam Reynand sambil menyibak selimutnya.


Reynand turun dari atas ranjang menuju ke kamar mandi mencari keberadaan istrinya.


Akan tetapi dia tidak menemukan keberadaan istrinya di dalam kamar mandi.


Lalu Reynand menuju ke ruang ganti, namun hasilnya nihil juga.


Akhirnya Reynand memutuskan keluar kamar dan turun ke lantai bawah. Dia melihat lampu dapur dalam keadaan menyala.


Reynand yang penasaran pun langsung menghampirinya, ia melihat istrinya sedang duduk di meja makan sambil makan buah apel, dia juga melihat meja makan yang penuh dengan makanan, Reynand juga melihat mangkok bekas mie instan istrinya.


Reynand menggelengkan kepalanya melihat nafsu makan istrinya yang meningkat.


"Khemm" dehem Reynand.


Membuat Reva menoleh ke belakang, dia nyengir melihat suaminya yang menghampirinya.


"Honey" ucap Reva nyengir kuda.


"Sedang apa hmm" tanya Reynand.


"Sedang makan honey, soalnya tadi perutku lapar, makanya aku pergi kedapur" jawab Reva manja supaya tidak di marahi suaminya.


"Tanpa membangunkanku hmm? lalu itu mangkok apa" sahut Reynand menatap istrinya tajam.


"Oh, ini bekas bibi tadi makan mie, tapi sekarang bibinya sudah pegi kekamarnya lagi" jawab Reva terpaksa bohong, dia takut suaminya akan memarahinya.


"Jangan bohong sayang" ucap Reynand, Reva mencebikkan bibirnya kesal.


Dari dulu dia tidak pernah bisa membohongi Reynand.


"Itu punyaku honey, tadi baby nya ingin makan mie makanya aku memasaknya, kata orang tua kalau tidak di turuti nanti anaknya ileran, aku tidak mau anakku ileran, honey" sahut Reva beralasan.


Reynnad menghela nafas sabar, dia tahu kalau istrinya sedang berbohong, tapi saat ini dia tidak bisa memarahi istrinya atau ibu hamil itu akan menangis dan mengadu kepada mommy nya, yang ada nanti dirinya yang akan di marahi mommy sama daddy nya.


"Terus sekarang sudah kenyang atau belum?" tanya Reynand.


"Sudah honey" jawab Reva.


"Kalau sudah lebih baik kita kembali ke kamar, ini masih tengah malam tidak baik ibu hamil begadang malam-malam" saran Reynand.


Reva mengangguk patuh, dia takut sama suaminya. Kebalikan dengan sang papah yang selalu takut sama istrinya.


"Sebentar honey, aku cuci mangkoknya dulu" ucap Reva.


Akhirnya Reva membiarkannya di meja makan begitu saja, begitu juga dengan bekas bungkus makanan yang lain.


Reynand menggendong istrinya naik menuju kamarnya.


Ketika sudah berada di dalam kamar, Reynand merebahkan tubub istrinya di atas ranjang.


Reynand naik ke atas ranjang, dan ikut merebahkan di samping istrinya, tidak butuh waktu lama mereka berdua kembali terlelap dengan posisi saling memeluk.


🌹🌹🌹🌹


Keesokan harinya, terlihat Gavin sedang melamun sambil duduk di ayunan yang ada di halaman belakang rumahnya.


"Sepi sekali nda ada kak Leva, coba kalau ada kak Leva di lumah pasti selu, Gavin bisa ajak Kak Leva main mobil-mobilan. Ada kak Lachel sih tapi kak Lachel nda selu kalau di ajak main dia suka ngambek nda jelas" gumam Gavin.


Kalau sedang sendirian Gavin selalu mengingat Reva kakaknya, dia kangen dengan momen saat bermain bersama kakaknya.


"Minta antal supil aja ah ke lumah kak Ley" gumam Gavin turun dari atas ayunan.


Bocah kecil itu melangkahkan kakinya kedepan mencari sopir pribadinya.


"Paman" panggil Gavin kepada sang sopir.


"Iya, ada apa den Gavin" tanya pak sopir.


"Tolong antal Gavin kelumah kak Ley" pinta Gavin dengan penuh harap.


"Den Gavin sudah bilang sama nyonya belum" tanya pak sopir.


Pak sopir tidak berani mengantar Gavin ke rumah Rey sebelum ada ijin dari sang bos.


"Sudah" ucap Gavin bohong.


"Ya sudah ayo bapak antar" sahut sang sopir membantu Gavin masuk kedalam mobilnya.


Gavin sengaja berbohong, rumahnya yang begitu luas membuat dia malas masuk kedalam mencari mamahnya.


Sang sopir mulai melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Arsen menuju ke kediaman Reagan.


Sesampainya di rumah Reagan, Gavin langsung menyelonong masuk begitu saja.


"Lah, kamu kesini Gav" ucap Cia kaget melihat Gavin yang tiba-tiba berada di rumahnya.


"Iya kak, Gavin gabut di lumah makana Gavin kesini" sahut Gavin sambil clingak clinguk mencari keberadaan kakaknya.


"Kamu cari siapa" tanya Cia sambil mengerutkan keningnya.


"Kak Leva mana kak" tanya Gavin yang tak melihat sang kakak.


"Kak Reva sedang kekantor kak Rey" jawab Cia membuat Gavin menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa.


Dia merasa sia-sia kedatangannya ke rumah Reagan, sama saja tidak bisa bertemu kakaknya.


"Terus Gavin halus ngapain disini kak Cia" tanya Gavin kepada Cia.


Cia menahan tawa melihat wajah Gavin yang berubah lesu, berbeda saat dia datang terlihat begitu berbinar.


"Kamu bisa main di sini Gav, sambil nunggu kak Reva pulang" saran Cia.


"Nda selu nda ada teman na kak, Gavin kesini tuh mau minta di temani kak Leva belmain, tapi malah kak Leva na nda ada" keluh Gavin.


"Main sama kak Cia aja, kamu mau main apa biar kak Cia temani" ucap Cia merasa kasihan dengan bocah kecil itu.


"Selius kak Cia mau temani Gavin main? memangna kak Cia mau belmain bola sama Gavin" sahut Gavin antusias.


"Siapa takut" sahut Cia semangat.


Akhirnya mereka menuju ke halaman belakang untuk bermain bola bersama.


Bersambung


Maaf up nya dikit-dikit guys, othor tidak enak badan gara-gara rumah kebanjiran masih belum surut sampai sekarang.


Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏


Happy reading guys 🙏