
"Dia mau kemana?" tanya Melviano saat melihat Rista seperti terburu-buru ingin pergi.
Dia baru saja keluar dari kelas yang diajarnya. Melviano yang awalnya akan kembali keruangan nya mengurungkan niatnya dan malah pergi menyusul Rista.
Saat sudah dekat dengan Rista, Melviano pung langsung memanggil salah satu mahasiswi nya itu.
"Rista!"panggil nya yang membuat Rista menoleh padanya.
"Iya pak, ada apa pak?" tanya Rista dengan sangat formal.
"Ikut saya sebentar keruangan saya," ucap Melviano. Tak memungkinkan dia berbicara dengan mahasiswa yang berlalu lalang disana.
"Pak, disini aja pak. Saya mau langsung pulang ini. Lagian saya gak ada buat masalah sama bapak dan sekarang juga gak jelas sama bapak," ucap Rista. Dia berhak untuk mengatakan hal itu bukan. Pasalnya sekarang sudah jam waktu pulang .
"Yaudah sama saya pulangnya, tadi kan saya udah bilang," ucap Melviano dengan pelan agar tak didengar orang lain.
"Tidak perlu pak, saya bisa sendiri kok," tolak Rista.
"Saya pamit dulu ya pak, " ucap Rista segera membalikkan badannya dan berlalu pergi untuk menghindari Melviano yang pasti akan mencegah nya kembali.
"Ck, dasar gadis keras kepala," ucap Melviano.
Untung saja jadwal kelas nya ada yang sore hari ini. Melviano berniat untuk tetap mengantar Rista pulang. Jika Rista keras kepala dia bisa lebih keras kepala juga.
Melviano lalu langsung beranjak dan mengekori Rista, membawa buku yang sedang berada ditangannya yang awal nya hendak dibawa nya ke ruangannya.
"Kamu pulang bareng saya pokoknya," ucap Melviano tanpa meminta persetujuan dari Rista.
"Hah, sekarang pak, niat banget. Bapak memangnya tidak ada kelas lagi?" tanya Rista.
"Nanti sore, ayo cepat kamu lelet banhet jalannya," ucap Melviano.
Tentu saja Melviano yang berkalan didepan terlebih dahulu, kaki lira itu sangat panjang dan jenjang dan langkahnya juga cepat, membuat Rista kesusahan mengikuti nya.
"Dasar dosen nyebelin," geram Rista namun tetap mengikuti Melviano pada akhirnya.
Dia malas berdebat dengan pria itu sekarang.
Melviano masuk kedalamnya mobil terlebih dahulu. Pria itu mengerut Kaka melihat Rista yang masih berdiri diluar sambil memainkan ponsel milik nya.
"Rista, ayo! kamu mau saya bukain pintu. Manja banget," ucap Melviano.
"Gak usah pak, lagian siapa juga yang minta," kesal Rista. Dosennya itu mengapa lebih jadi menyebalkan pikirnya.
Di sela-sela perjalanan mereka, Rista berencana hendak ingin menyala kan lagi agar suasana didalam mobil tidak terlalu hening.
Belum seperempat lagu yang diputar oleh Rista, Melviano dengan teganya malah mematikan nya. Rista padahal lagi asyik-asyiknya menikmati lagu K-Pop kesukaan nya.
"Saya tidak suka lagunya," ucap Melviano dengan enteng.
"Yaudah bapak suka lagu apa. Itu aja deh kalo gitu,"
"Lagu milik artistic monkey," jawabnya singkat.
"Saya juga suka semua lagu mereka, gak ada yang gagal, memang the best deh," senang Rista.
"Jadi kita menyukai genre musik yang smaa ya," Melviano senyum-senyum sendiri.
"Tapi saya juga suka KPop pak, lagi mereka bagus-bagus juga apalagi pada ganteng semua," cerita Rista dengan antusias.
"Cih, gantengan juga saya daripada mereka," ucap Melviano membanggakan dirinya sendiri.
"Hahaha, bapak ini lagi ngelawak ya, gantengan juga Jaemin, pacar saya." ucap Rista.
"Bibirnya jangan digituin, jelek," ucap Melviano, padahal faktanya dalam hatinya sangat berbeda. Dalam hati dia berteriak jika saat ini Rista sangat lucu.
"Eh pak belok kanan ya," ucap Rista mengarahkan Melviano.
Melviano menurut. "Kamu mau ke mana dulu memang nya?" tanya Melviano saat Rista menyuruhnya untuk menyetir berlawanan menuju rumah gadis itu.
"Saya mau ketemu pacar saya pak," balas Rista tanpa beban. Melviano yang mendengar hal itu refleks meminggirkan mobil nya ditengah jalan.
"Apa?" tanya dengan nada yang mulai tidak bersahabat dan wajah yang sudah tidak enak untuk dipandang.
"Ketemu pacar," ulang Rista dengan polos nya tanpa memikirkan jika pria disampingnya sedang menahan panas dalam hati nya.
"Oh pria itu? cih, dia hanya bocah," ucap Melviano.
"Maksud bapak apa? emang bapak kenal?" tanya Risra seraya menyipit kan matanya. Dia mulai curiga dengan Melviano.
"Bapak kan yang blok no kekasih saya bapak nyita waktu itu," cetus Rista dengan telak.
"Kamu nuduh saya?" tanya Melviano dengan nada datar.
"Ya terus siapa lagi, saat bapak megang hp saya saat itu semua akun medsos pacar saya keblokir?"
"Ya memang nya kenapa? saya yang melakukan nya," ucap Melviano yang membuat Rista tercengang.
"Bapak gak sopan, itu privasi dong pak, bapak gak tidak berhak untuk melakukan hal itu," marah Rista yang tak sengaja meninggikan suaranya sangking kesal nya dirinya sekarang.
"Saya tau itu salah , tapi saya tidak menyesal melakukan nya sama sekali," ucap Melviano yang memang tak memiliki tampang wajah bersalah sedikitpun.
"Pak Melviano sudah keterlaluan tau nggak?" desis Rista yang tak memikirkan bahwa yang saat didepannya adalah Dosennya sendiri.
"I don't care Rista, dan turunkan mada bicaramu itu. Saya masih dosen kamu," tegas Melviano yang rak menyukai cara bicara Rista saat ini pada nya.
"Sekarang diluar kampus pak, sudahlah saya gak mau memperpanjang hal ini dengan bapak. Saya mau turun disini ," ucap Rista cari aman saja.
Benar yang dikatakan oleh Melviano, pris ktu masih Dosennya, walaupun tak dapat dia pungkiri jika Melviano melakukan hal yang seharusnya tak dia lakukan sebagai dosen.
Kasar benci nya semakin meningkat pada pria itu.
"Tidak, saya akan antar kamu," ucap Melviano mengalah.
Walaupun sebenarnya dia tak rela dan tidak ikhlas smaa sekali jika Rista fakta nya susha memiliki kekasih dan sekarang akan menghampiri nya.
Melviano adalah orang yang memang memblokir semua kontak milik pacar Rista.
Saat itu ponsel milik Rista tidak dikunci sama sekali membuat dia menjadi leluasa untuk melihat semua isi ponsel Rista.
Mudah untuk Melviano mencari kontak nya karena Rista memberi nama yang berbeda dan Manisa serta menyematkan nama kekasih itu.
Melviano sangat iri terus saja, dia ingin berada diposisi itu.
Melviano yang jengkel dan cemburu buta akhirnya memblokir semua akun medsos nya .
Padahal seharusnya Melviano tak berhak sama sekali melakukan hal itu karena mereka tak memiliki hubungan lebih, hanya sebatas dosen dan murid saja .
Namun tetap saja, bagi Melviano sebelum Rista sah menjadi milik orang lain maka Melviano tak akan menyerah untuk mendapatkan nya dan menajadi kan gadis itu menjadi miliknya seutuhnya .
Melviano hanya menginginkan Rista saja, dia tak ingin yang lainnya.
TBC