
"Kenapa dulu nenek Siska menarik rambut Reva papi" tanya Reva yang tiba-tiba mengingat kejadian tempo dulu, dirinya pernah di tarik rambutnya sama Siska ketika ikut sang oma menghadiri acara arisan bersama teman sosialitanya.
"Ya, maafkan nenek sayang, dulu nenek terpaksa menarik rambut kamu untuk melakukan tes DNA sayang" sahut Erik berusaha membuat sang putri mengerti, agar tak ada dendam terhadap sang mommy.
"Kenapa tidak bilang langsung sama papa dan mama, jadi nenek tak perlu menarik rambut Reva. Karena itu menyakiti Reva.
Erik menghela nafas, perbuatan mamanya memang salah tapi Erik tak bisa mencegahnya, karena pada waktu itu dirinya tak ada di tempat kejadian.
Erik akhirnya menceritakan masalah tersebut kepada sang putri, tak ada yang Erik tutup-tutupi.
Reva manggut-manggut tanda mengerti.
"Apa kamu mau memaafkan nenek sayang" tanya Erik seraya menatap mata teduh sang putri.
"Tentu, bukankah sudah seharusnya Reva memaafkannya pi, semua sudah berlalu jadi Reva tak mau mempermasalahkannya lagi, karena kita tak bisa merubah masa lalu bukan. Yang terpenting sekarang adalah fokus dengan kesembuhan nenek" ucap Reva dengan tersenyum tulus, tak nampak sedikitpun rasa dendam di wajah sang putri.
Erik kembali memeluk sang putri, David pun ikut memeluk keduanya, David terharu dengan ketulusan hati sang cucu. Cucu yang dulu sempat tak di akui ternyata memiliki hati yang luas. Tidak marah dan tidak ada rasa dendam sedikit pun di hati sang cucu untuk keluarganya.
"Lepas pi, kek, Reva sesak nafas ini" ucap Reva membuat mereka berdua tersadar dan merenggangkan pelukannya.
Sejak tadi Ethan menatap mereka bingung, ia tak begitu mengerti dengan apa yang di bicarakan mereka.
"Jadi kak Reva beneran kakak Ethan pi" tanya Ethan yang sempat ragu dengan ucapan sang mami yang mengatakan kalau Reva merupakan kakak kandung tapi beda ibu.
Tapi putranya itu tidak mempercayai ucapannya.
"Kamu ini kemana saja, semua orang sudah mengetahuinya kamu malah baru mempertanyakannya." sahut Reva sambil menoyor kepala sang adik.
"Ethan kan hanya memastikan saja kak" seru Ethan.
Ethan langsung memeluk Reva, ia senang akhirnya memiliki saudara meskipun beda ibu. Terlahir sebagai anak tunggal terkadang membuat Ethan kesepian.
"Akhirnya Ethan punya kakak juga" ucap Ethan sambil memeluk sang kakak.
"Dan sekarang kamu harus nurut sama kakakmu ini" sahut Reva.
Ethan langsung mengurai pelukannya, perasaannya jadi tidak setelah mendengar ucapan kakaknya itu.
Semua menahan tawa melihat ekpresi wajah Ethan yang terlihat tertekan, pasalnya tiap Reva berkunjung ke rumah Reva selalu menyuruh nyuruh adiknya untuk mengambil ini dan itu.
"Ayo kita pulang sayang" ajak Erik menghentikan Ethan yang sudah mau protes. Kalau tidak di hentikan mereka pasti akan berdebat.
"Kalau kita pulang nanti siapa yang akan jaga nenek papi" ucap Reva mengkhawatirkan keadaan neneknya.
"Ada kakek dan tante Rani sayang, besok kamu bisa kesini lagi" sahut David.
"Baiklah, tolong nanti kabari Reva kalau ada perkembangan dari nenek" ucap Reva di sambut anggukam oleh David.
Reva pamit pulang kepada semuanya, ia juga pamit kepada sang nenek sambil mencium keningnya.
"Reva pulang dulu nek, besok Reva kesini lagi jenguk nenek" ucap Reva.
Siska tak membalas ucapan sang cucu, dia masih setia memejamkan matanya, hal itu membuat Reva merasa sedih.
"Jangan sedih, Reva doakan nenek supaya cepat sembuh" ucap Erik menepuk bahu putrinya
"Iya papi" sahut Reva dengn senyum yang di paksakan.
Erik membawa sang putri keluar dari ruangan mommy nya di susul oleh Viona dan juga Ethan yang ikut mereka pulang.
Mereka berempat menuju ke mobil Erik yang ada di parkiran rumah sakit.
Sampai di parkiran mereka berempat langsung masuk kedalam mobil, dan Erik mulai melajukan mobilnya menuju ke rumah Arsen mengantar putrinya terlebih dahulu.
Mobil yang mereka tumpangi sudah terparkir di depan rumah Arsen.
"Papi tidak mampir dulu?" tanya Reva sebelum keluar dari dalam mobil.
Setelah mengiyakan ucapan sang papi lantas Reva keluar dari mobil papinya.
Reva melambaikan tangannya hingga mobil papinya sudah tak terlihat lagi barulah dia masuk kedalam rumahnya.
"Kamu darimana kak? kata pap kamu tidak di kantor" tanya Alisya saat melihat Reva masuk kedalam rumah.
"Reva baru menjeguk nenek Siska sama papi Erik ma, nenek Siska sedang koma sudah dua hari ini nenek Siska belum sadarkan diri" ucap Reva menceritakan keadaan neneknya.
"Kamu sudah tahu sayang" tanya Alisya
"Sudah mama tadi papi sudah cerita semuanya sama Reva"
"Apa kamu marah sama mama dan papa sayang?" tanya Alisya sambil melihat raut wajah sang putri.
"Tidak, Reva tidak akan menyalahkan mama sama pap karena melakukan hal itu kepada mereka. Reva tahu pasti mama sama papa punya alsan tersendiri" ucap Reva bijak
Alisya maju lalu memeluk tubuh putrinya, dia bangga kepqda putrinya yang jauh lebih dewasa ketimbang dulu, bahkan sekarang putrinya lebih bijak dalam menghadapi masalah.
"Kenapa mama peluk-peluk kak Leva?" tanya Gavin yang berada di gendongan sang papa.
"Sirik aja bocil" sahut Reva membuat Gavin memanyukan bibirnya.
🍀🍀
Malam Hari Reynand mendatangi Reva di rumahnya, ia ingin mengajak sang kekasih pergi jalan-jalan sambil menggunakan moge nya.
Reynand langsung nyelonong masuk kedalam rumah om nya tanpa mengucap salam terlebih dahulu.
"Ngapain kamu malam-malam datang kesini" ucap Arsen dengan wajah datar.
"Rey mau ngajak Reva jalan-jalan. bolehkan tante" jawab Reynand dan meminta ijin kepada Alisya bukan kepada Arsen.
"Boleh, asal pulangnya jangan terlalu malam" sahut Alisya, Reynand mengangguk mengerti
Terlihat Reva menuruni tangga dengan memakai jaket kulit dan menenteng sebuah helm di tangannya
"Mama, papa Reva pergi dulu sama Rey" pamit Reva kepada kedua orang tuanya
Reynand juga ikut menyalami kedua orang tua Reva.
"STOP! Gavin ikut, kalian nda boleh pelgi belduaan" teriak Gavin sambil membawa jaketnya.
Melihat hal itu membuat Arsen bersorak dalam hati karena sang putri tidak hanya bergi berdua saja melainkan bertiga bersama Gavin.
"Kamu bocil dirumah aja, tidak usah ikut kak Reva" tolak Reva dia tidak ingin Gavin merecoki acara kencannya.
"Gavin halus ikut, Gavin halus ngawasin kalian beldua" ucap Gavin kekeuh.
Reva beralih menatap mamanya dengan tatapan memelas.
Alisya yang di tatap hanya bisa menghela nafas panjang.
"Gavin pergi sama mama saja ya, nanti kita naik motor sama papa juga" bujuk Alisya kepada sang putra.
Gavin menggelengkan kepalanya tanda dia menolak ajakan sang mama.
"Bagus sayang, kamu memang harus mengawasi mereka berdua agar si tengik itu tidak berani macam-macam" ucap Arsen dalam hati.
Bersambung
Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏
Tunggu aja ,nanti bakal up 2bab lagi