
"Papa...." Reva berlari memanggil papanya yang sedang duduk berdua bersama Alisya.
Hap...Arsen menangkap Reva lalu membawanya ke atas pangkuannya.
"Anak papa dari mana hmm" tanya Arsen seraya merapihkan rambut putrinya.
"Leva habis main sama dedek bayi pa, dedek bayina ada di pelut onty. Pelut onty na buncit tayak balon..hihihi... telus Leva elus pelutna gelak-gelak katana dedek bayina lagi nendang pelutna onty, pelutna onty besal sekali pa" Reva menceritakan pertemuannya dengan Rani
Arsen dan Alisya bingung, onty siapa yang di maksud putrinya itu.
"Onty siapa sayang" tanya Arsen.
"Onty pa, tadi kata om na onty matan di lestolan mama" jawab Reva polos.
Arsen dan Alisya baru paham, mungkin yang di maksud putrinya itu pengunjung restoran, terkadang pengunjung restoran ada yang suka gemes sama tingkah Reva.
"Pelut mama kapan besalna pa" tanya Reva seraya mengusap perut Alisya.
"Reva banyak berdoa sayang, supaya di perut mama cepat ada dedek bayinya sama seperti punya aunty itu" jawab Arsen di sertai anggukan oleh Reva.
"Ya Allah semoga pelut mama cepat ada dedek bayina, supaya Leva ada teman main....bial nda sendilian telus.Amin" ucap Rva sambil menengadahkan tangannnya ke atas, di aminkan oleh Arsen dan Alisya.
Alisya dan Arsen tersenyum bangga dan terharu dengan doa Reva.
"Reva mau di sini apa ikut papa" tanya Arsen yang masih memangku Reva.
"Leva itut papa aja, mamana sibuk telus" jawab Reva sambil memeluk tubuh Arsen.
"Terus kalau Reva ikut papa, mama sama siapa" rajuk Alisya.
"Leva cuma itut papa ke kantol mama, nanti Leva sama papana kesini lagi jemput mama. Iya tan pa" ucap Reva supaya mama nya mengijinkan dirinya ikut Arsen.
Alisya malah menduselkan kepalanya ke lengan Arsen. Kalu sudah begini Arsen lah yang akan mengalah, ia akan menemani istrinya hingga selesai.
"Ok, papa di sini saja temani Reva dan mama" ucap Arsen menghela nafas. Ia seperti tengah di perebutkan oleh kedua putrinya.
"Tenapa nda jadi pa, Leva na kan mau ketemu sama on Nino pa" protes Reva.
"Sejak kapan kamu berteman sama om Nino hmm" tanya Arsen, Arsen curiga kalau Nino lah yang suka mengajari Reva mengucap bahasa-bahasa aneh.
"Lahasia, hufff....mama ini tidak bisa ngeltiin pelasaan anakna" dumal Reva memilih turun dari pangkuan papanya, terus melanjutkan mainnya.
Arsen dan Alisya melongo melihatnya.
"Dia kenapa sih honey, makin hari makin nggak jelas" cicitnya.
"Sama kek kamu baby, makin hari makin cemburuan sama anaknya. Lihat jadi marah kan anaknya" sahut Arsen sambil memeluk gemas tubuh istrinya.
"Kalian kalau sudah bersama selalu lupa sama aku" rajuk Alisa sambil menciumi pipi Arsen.
"Yang penting kan tiap malam tidak lupa sama kamu hmm" goda Arsen.
Alisya memukuli dada Arsen, ia paling sebal kalau sudah di goda suami mesumnya. Arsen memegangi tangan Alisya lalu menc*ium bibir Alisya.
"Kita harus sering membuat adonan mam, biar perutmu cepat membuncit seperti kemauan Reva" ucap Arsen setelah melepas tautan bibir nya sambil mengusap bibir Alisya yang basah karenanya.
"Tidak usah di ingetin juga kamu tiap malam bikin adonan honey" ketus Alisya.
"Sebelum berhasil aku tak akan berhenti baby, jadi kamu siapkan saja tenagamu tiap malam". Ucap Arsen.
Arsen memangku Alisya sambil terus mengobrol dengan istrinya, sedangkan Reva memilih pergi ke ruangan khusus untuk dia bermain yang di buat oleh Alisya untuknya.
"Lanjutkan pekerjaanmu baby, aku akan menelpon Nino sebentar" titah Arsen.
"Tapi janji jangan kemana mana" peringatnya.
"Tidak, kamu ini kenapa takut sekali aku tinggal hmmm" ucap Arsen seraya mencubit kedua pipi Alisya gemas. Arsen baru tahu sisi manja Alisya setelah menikah dengannya.
Alisya meneruskan pekerjaanya, sedangkan Arsen memilih keluar dari ruangan Alisya untuk menelpon Nino.
"Hallo, Nino" sapa Arsen setelah telponnya terhubung.
"......"
"Iya tuan" jawab Nino dari sebrang telpon.
"Beli semua asetnya dan nanti aku akan memberikan semua nya kepada Reva. Bagaimanapun juga ada hak Reva di sana."titah Arsen.
Arsen mematikan telpon nya secara sepihak, ia tak menunggu balasan dari Nino.
Arsen akan membeli aset Dinata menggunakan uang korupsi yang sudah di lakukan oleh anak buahnya kemarin.
......................
Di tempat lain tepatnya di apartemen Viona, terdengar suara des*han yang saling bersahutan memenuhi seisi kamar milik Viona. Erik selalu minta jatah kepada Viona dan dengan senang hati pun Viona akan melayani Erik.
Setelah bertemu dengan kedua sahabatnya Erik memilih datang ke apartemen Viona, seperti biasa setiap bertemu pasti mereka akan melakukan adegan dewasa.
"Ahhhh..mi likmu sangat nikmat sayang " racau Erik terus menghentak hentakkan mi lik nya di dalam li yang Viona.
"Dan kau selalu bisa membuatku tak berdaya honey" sahut Viona dengan suara yang terdengar manja di telinga Erik.
Erik semakin semangat mempercepat ritme permainannya. Erik semakin dalam menghentakkan mi liknya kedalam mi lik Viona, hingga tak lama terdengar suara teriakan dari mereka berdua.
"Akhhhh.....Alisya tubuh mu selalu membuatku berha*rat" pekik Erik mencapai pelepasan.
Deg
Viona langsung mendorong tubuh Erik yang masih menindihnya.
"Siapa Alisya Erik" sentak Viona dengan nafas yang masih tersegal segal.
"Maksud kamu apa Viona" tanya Erik yang memang tidak sadar apa yang ia ucapkan.
"Apa kau pikir aku tuli hah, jadi selama ini kau berfantasi membayangkan perempuan lain dengan tubuhku hah" teriak Viona.
Ia merasa sakit hati, ketika dia sedang melayani Erik tapi justru pria itu malah menyebut wanita lain di atas tubuhnya.
"Bukan begitu Viona, mungkin kamu hanya salah dengar saja," bujuk Erik mencoba meyakinkan Viona.
Bisa gawat kalau Viona marah kepadanya, belum waktunya Erik memutuskan pertunangannya dengan Viona.
"Aku kecewa denganmu Erik" tegas Vio, tubuh Viona menghilang di balik pintu kamar mandi.
Viona kecewa dengan Erik, entah dirinya yang bodoh atau Erik nya saja yang tak tahu diri.
"Kau bodoh Erik, bisa-bisanya kau menyebut nama Alisya ketika sedang bersama Viona" Gumam Erik merutuki kebodohannya.
Erik memakai bajunya menunggu Viona sambil duduk di tepi ranjang.
Dua puluh menit berlalu Viona keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathroabe.
"Sayang, maafkan aku mungkin kamu saja yang salah dengar, aku tak mungkin menyebut nama lain selain kamu" rayu Erik memegang kedua pipi Viona terus mengecupi setiap inci wajahnya.
Tak susah untuk membujuk Viona ketika sedang marah, di rayu dikit saja biasanya dia akan cepat luluh.
"Jangan ulangi lagi, karena aku tak suka kamu menyebut nama wanita lain ketika sedang bersamaku" ucap Viona sambil memeluk tubuh Erik.
"Kau memang pintar Viona, tapi kau bodoh kalau sudah berurusan dengan hati" batin Erik.
Bersambung.
Happy reading guys🙏
Jangan lupa
Like
Komen
Vote
Happy reading guys🙏