
"Aluna kamu kenapa" tanya Gavin setelah masuk kedalam rumah, ia melihat Aruna yang sedang rebahan dengan tubuh yang tertutup selimut hingga sebatas dada di sofa bed yang ada di ruang tengah sambil menonton kartun kesukaannya.
Suara Gavin membuat Aruna yang sedang fokus menonton televisi pun menoleh kearah nya.
"Kak Gavin kesini" ucap Aruna sambil tersenyum dengan wajah yang terlihat pucat.
"Iya, kata ibu mu kamu sedang sakit" ucap Gavin.
Aruna membalasnya dengan anggukan, kondisi badan Aruna memang lemah, kalau capek sedikit pasti gadis kecil itu langsung sakit.
"Ternyata cantik juga, dia memang pintar memilih wanita" ucap Reva dalam hati sambil memperhatikan wajah Aruna.
Tak lama ibu Aruna datang sambil membawa nampan yang berisi minuman untuk Gavin dan juga Reva.
Ibu Aruna meletakkan gelas tersebut kehadapan Reva dan juga Gavin.
"Minumlah nak" ucap ibu Aruna.
"Maaf, kedatangan kami merepotkan anda nyonya" ucap Reva.
"Panggil saja tante nak" pinta ibu Aruna yang merasa risih di panggil nyonya oleh Reva.
Reva mengangguk setuju. Lalu meminum minuman yang ada di hadapannya, begitu juga dengan Gavin.
Setelah meminum minumannya Reva nampak mengobrol dengan ibu Aruna, sedangkan Gavin duduk di samping Aruna sambil berbincang.
"Dali kapan Aluna sakit, kenapa Gvain tidak tahu" tanya Gavin.
"Dali kemalin, Aluna sudah biasa sakit sepelti ini kak" sahut Aruna.
"Kamu halus seling istilahat bial nda sakit" ucap Gavin sok perhatian.
Gavin merogoh saku celananya, dia menemukan dua permen lolipop dari kantong celananya.
"Ini buat kamu, Gavin tidak tahu kalau Aluna sakit, jadi Gavin tidak bawa apa-apa untuk Aluna, di kantong Gavin cuma da pelmen ini," ucap Gavin sambil memberikan permen tersebut kepada Aruna.
Aruna pun dengan senang hati menerima permen tersebut dengan wajah berbinar.
"Telima kasih kak Gavin" ucap Aruna sambil memegang permen dari Gavin.
Setelah lama berbincang, akhirnya Reva dan Gavin memutuskan untuk pulang ke rumah, kebetulan hari juga sudah mau gelap.
"Gavin pulang dulu ya, nanti Gavin kesini lagi bawa kue untuk Aluna". Pamit Gavin kepada Aruna, bocah kecil itu juga janji akan datang lagi kerumahnya sambil membawa kue.
"Iya kak Gavin, telima kasih sudah main ke lumah Aluna" sahut Aruna.
Tak lupa mereka berdua juga pamit dengan orang tua Aruna.
Orang tua Aruna mengantar Reva dan Gavin hingga ke depan.
Reva mulai mengendarai motornya meninggalkan rumah Aruna.
"Aruna cantik Gav" ucap Reva sambil fokus mengendarai motornya.
"Dhea juga cantik" sahut Gavin malah memuji Dhea.
"Kamu ini sebenarnya mau sama Aruna apa sama Dhea, awas aja kalau kamu mempermainkan mereka berdua" ucap Reva mengancam adiknya.
"Kalau bisa keduanya kenapa halus pilih salah satu kak" sahut Gavin membuat Reva ingin sekali memukul kepala adiknya.
"Ck, kasihan sekali mereka kalau sampai di permainkan play boy cap gentong seperti kamu, kalau kak Reva yang jadi Dhea sudah kak Reva lempar kamu ke planet mars."
"Tapi untungna Dhe nda sepelti kak Leva yang galak dan kejam.
Tak terasa mereka sampai di rumahnya, Reva melihat mobil sang papa sudah terparkir didepan rumah.
"Kalian dari mana" tanya Arsen.kepada keduanya.
"Dali melepas lindu, bial nda belat" sahut Gavin nyleneh.
"Kamu ini bicara apa Gav, bilang R yang benar" sahut Arsen menggoda sang putra.
"Silik aja bisana" ucap Gavin nylonong begitu saja melewati papanya.
"Hei mau kemana kamu, kamu belum menjawab pertanyaan papa" teriak Arsen ketika melihat putranya kian menjauh.
"Ah..legana sudah beltemu dengan Aluna, sekalang Gavin nyali mama suluh buatin kue buat Aluna ah" ucap Gavin mencari mamanya.
Gavin mencari mamanya dengan terus bersenandung dan melompat kecil seperti orang yang sedang bahagia.
"Mama" panggil Gavin yang melihat mamanya sedang berada di dapur.
"iya sayang" sahut Alisya sambil menoleh kearah sang putra.
"Mama lagi nganggul nggak? Gavin mau minta tolong buatin kue" tanya Gavin.
"Kue untuk siapa?" tanya Alisya mengerutkan dahinya.
"Untuk calon menantu mama" sahut Gavin.
"Hah? Maksud kamu kak Reynand" tanya Alisya yang tahunya calon menantunya hanya Reynand.
"Bukan kak Ley mama, tapi Aluna" sahut Gavin memberitahu sang mama.
"Lah katanya sama Dhea, kenapa berubah lagi" tanya Alisya bingung.
"Untuk sekalang sama Aluna dulu yang lumahna deket, sama Dhea nanti mah soalna sekolah Gavin sedang libul jadi gavin nda bisa ketemu sama Dhea" sahut Gavin membuat Alisya menganga.
Putranya sudah jadi play boy sejak dini pikir Alisya.
"Gav, istighfar sayang, cinta tak selalu indah nak" ucap Alisya.
"Cinta itu apa" tanya Gavin membuat Alisya menepuk keningnya.
Alisya di buat pusing dengan putranya, ingin rasanya Alisya menangis, ia kira putranya tahu cinta itu apa makanya sudah milih Dhea sama Aruna, tapi ternyata putranya tidak tahu.
🌹🌹🌹
Malam hari di rumah Brian, seperti biasa usai makan malam dia lebih memilih masuk kedalam kamarnya, karena sampai sekarang Listy masih menghindarinya.
Brian yang merasa lelah pun akhirnya terlelap, hingga tengah malam Brian terbangun karena merasakan tenggorokannya kering.
Dia menengok ke arah tempat minum, ternyata air di botolnya sudah habis. Brian bangkit dari ranjangnya dan melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya.
Dengan muka ngantuk Brian menuruni anak tangga menuju ke dapur untuk mengambil air minum.
Terlihat lampu dapur sebagian sudah pada padam, juga tak ada satu orang pun pelayan yang sedang berada di dapur, sepertinya orang- orang sedang pada istirahat pikir Brian.
Brian mengisi botol minumnya hingga penuh, setelah penuh ia naik ke lantai atas untuk kembali kekamarnya.
Namun belum juga sampai di kamarnya, samar-samar Brian seperti mendengar orang yang sedang melakukan sesuatu.
"Suara siapa? Sepertinya suara itu berasal dari kamar Listy, tapi siapa malam-malam seperti ini datang ke kamar Listy" gumam Brian sambil melangkahkan kakinya mendekati kamar Listy.
Brian tak langsung membuka pintu kamar Listy, dia menempelkan telinganya di pintu kamar Listy. Brian begitu jelas mendengar suara orang yang sedang melakukan hubungan suami istri, dia mendengar suara orang yang sedang men desah saling bersahutan-sahutan.
"Tidak mungkin" lirih Brian yang merasa tak asing dengan suara lelaki yang ada di dalam kamar tersebut.
Dengan perasaan campur aduk Brian mencoba menekan handle pintu kamar Listy.
Dengan penuh kehati-hatian di bukanya pintu tersebut secara perlahan agar tidak menimbulkan suara yang akan membuat orang di dalam kamar tersebut mengetahui pergerakannya.
Klek.....
Ternyata pintu kamar Listy tidak di kunci, dengan perlahan Brian mendorong pintu tersebut.
Semakin ia membuka pintu kamar itu, semakin jelas pula suara lucnut itu terdengar di telinganya.
Brian mulai melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar Listy.
Betapa terkejutnya dia melihat kekasihnya sedang bergerak liar dia atas tubuh seorang laki-laki paruh baya yang seharusnya menjadi calon mertuanya, tapi mereka berdua justru memadu kasih dengan begitu liar.
Bersambung.
Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏
Happy reading guys🙏