Baby Girl

Baby Girl
part 17



"Cit," panggil Dendy pada gadis itu yang malah mempercepat langkah nya agar tidak bertemu dengan Dendy.


"Cit, please tunggu bentar, dengerin gue dulu," pinta Dendy yang masih tetap mengejar Citra.


Karena tidak dihiraukan, Dendy lantas langsung menarik tangan Citra secara tiba-tiba hingga tubuh Citra menubruk tubuh nya.


"Apaan sih lo, lepasin tangan gue," sentak Citra hendak melepaskan tangan nya. Namun kali ini Dendy tak mau mengalah.


"Ikut gue bentar aja," ucap Dendy yang kini melembutkan suara nya dengan menatap lembut gadis yang sedang berada di hadapannya itu.


Perasaan nya masih tetap sama seperti sebelumnya pada Citra. Selalu besar dan bertambah setiap hari nya.


Meski Citra selalu menghindar dari dirinya dan menolak nya secara terang-terangan.


"Emang mau ngapain sih Den, ayolah bentar lagi gue ada kelas," jawab Citra yang tak berbohong. Dia memang ada kelas setelah ini.


Dan sial nya, dosen nya hari ini adalah salah satu dosen killer di kampus. Jika terlambat masuk walaupun 1 menit saja maka tak akan dibiarkan masuk. Berlebihan memang, tapi memang seperti itu lah kebiasaan nya.


Citra tak mau membuat masalah dan dia tak mau mengulang matkul pada dosen tersebut yang terkenal juga akan kepelitan nya dalam memberikan nilai.


"Pak Melvin?" tebak pria itu.


"Heem," dehem Citra.


"Oke, gue janji bakal ngomong bentar doang, tapi gak disini," ucap Dendy kian menarik pelan tangan Citra yang masih berada di genggaman nya. Dendy menariknya dengan hati-hati takut menyakiti tangan gadis itu.


"Mau bawa gue kemana dah Den, jangan jauh-jauh, gue udah bilang kan ada kelas pak Melvin bentar lagi," risau Citra sambil sesekali melirik jam tangan yang melekat di tangan kiri nya.


Citra benar-benar takut jika tak masuk pelajaran Pak Melviano.


"Iyaa," singkat Dendy.


Ternyata pria itu malah mengajak nya ke rooftof sekolah. Untung saja ada lift jika tidak Pasti akan memakan waktu yang lama untuk menaiki tangga.


Yang pertama menyapa mereka adalah angin yang sedikit kencang hingga membuat rambut Citra beterbangan sampai menutup wajah Citra.


Cita berusaha untuk menyingkirkan rambut nya namun tetap saja angin kembali membuat nya menjadi berantakan.


"Kau memiliki ikat rambut?" tanya Dendy.


"Tidak, aku lupa membawa nya," keluh Citra yang merasa terganggu.


Sebenarnya angin nya sangat menyenangkan dan enak hanya saja gak itu tidak bisa bekerja sama dengan rambut milik nya.


"Berbalik," pinta Dendy pada Citra.


"Hah!" beo Citra yang masih belum mudeng.


Dendy tidak menjawab lagi, pria itu langsung membalikkan tubuh Citra agar membelakangi diri nya.


"Apa yang kau lakukan," ucap Citra saat merasakan rambut nya yang di jamah okeh Dendy.


"Jangan berbalik, aku hanya ingin mengikat nya," ucap Dendy menahan pergerakan Citra yang ingin berbalik ke arah nya.


"Apa kau memiliki karet?" tanya Citra yang kini menurut saja.


"Tidak, tapi dengan rambut mu bisa" balas Dendy.


Pria itu kini dengan telaten mengikat rambut Citra.


Menyisir rambut Citra dengan jari-jari tangan nya, namun tetap bisa rapi karena rambut Citra yang lembut dan lurus.


Dendy dapat mengikat nya dengan rambut wanita itu. sebagian kecil rambut Citra dapat digunakan untuk mengikat seluruh nya.


"Nah sudah selesai," ucap Dendy seraya merapikan anak-anak rambut Citra.


"Terimakasih," ucap Citra yang kini berbalik.


"You're welcome," sahut Dendy.


"Jadi Lo mau ngomong apa sama gue, Sampe bawa ke rooftof segala," ucap Citra langsung. Dia tak mau mengukur waktu.


Saat sudah merasa siap dan tenang, Dendy kini menatap Citra dengan pasangan yang sulit untuk diartikan oleh Citra. Dendy memandang dirinya dengan sangat dalam hingga membuat Citra berhasil salah tingkah sampai membuat Citra memalingkan wajah nya.


"Jangan harap gue kayak gitu," ucap Citra sesudah menetralkan raut wajah nya dan kembali menatap pada Dendy yang masih menatap nya sama seperti tadi.


"Maaf," ucap Dendy.


"For what?" Citra mengertyitkan dahi nya.


"For everything, dan untuk gue yang dengan lancang sudah mencintai mu. Maaf membuat mu tidak nyaman dengan gak itu," Dendy menghentikan ucapan nya untuk menunggu reaksi dari Citra.


Namun Citra hanya terdiam menunggu lanjutan perkataan dari Dendy.


"Gue gak mau maksa Lo buat suka balik sama gue, gue tau gue egois Cit. Tapi gue gak bisa setir hari gue berlabuh ke sembarang orang karena hati gue udah stuck di Lo," ucap Dendy.


"Tapi saat gue udah kasih tau perasaan gue sama lo, Lo malah ngehindarin gue seakan-akan gue ini gak ada dan Lo seperti nya tidak suka akan keberadaan gua," lanjut Dendy.


Citra memang sanga-sangat menghindari nya setelah dia Confes.


Tapi Dendy tak menyesal sudah mengungkapkan perasaan nya. Hal itu malah membuat nya menjadi lega karena gadis yang dia cintai sudah mengetahui apa yang sudah dirasakan oleh nya.


Awalnya Dendy sangat ragu untuk mengatakan nya karena takut Citra menjadi risih dan mereka malah jadi asing.


Dan benar saja, hal yang dia takut kan benar-benar terjadi. Citra risih pada nya.


Pertemanan mereka seakan menjadi hancur setelah Dendy mengungkapkan perasaan nya. Hubungan mereka menjadi jauh dan lost contat.


Citra bahkan tak pernah lagi membalas pesan nya sejak dia confess pada gadis itu.


Hal itu cukup membuat Dendy menjadi sadar jika bukan dialah yang dinginkan oleh gadis yang di depan nya ini.


Mau bagaimana pun dia berjuang dan mendapatkan hati Citra, jika gadis itu tidak mau, maka semuanya akan sia-sia saja.


"Gue gak bermaksud Den, gue.."


"Gue tau Cit, cinta itu gak boleh dipaksa. Lo gak perlu merasa bersalah, ini bukan salah Lo kok karena Lo punya hak buat menolak Jika lu memang tidak suka," ucap Dendy seraya tersenyum tipis.


Citra tidak enak melihat nya, biasanya Dendy selalu menampilkan senyum lebar nya pada nya. Tatapan pria itu kali ini sedikit membuat hati nya jadi sakit.


"Sekarang, gua gak bakal ganggu Lo lagi ko Cit, jadi please stop baut ngehindarin gue. Anggap aja gue gak pernah ngomong perasaan gue ke lu. Kita.balik ke awal lagi, Dimana kita cuma teman, Lo mau kan jadi teman gue lagi. Please jangan ngehindar!' ucap Dendy dengan tatapan intens.


Meski tak bisa memiliki gadis itu setidaknya nya dia masih bisa berteman baik. Dia bisa membahagiakan gadis itu sebagai teman nanti nya.


"Boleh," Citra mengangguk dengan ragu.


"Nice, nah gitu dong. Jadi deal jih yah kita cuma teman. Do Lo gak perlu kabur-kaburan lagi dari gue, cape tau kucing-kucing Ngan," ucap Dendy mencairkan suasana.


"Ye, siapa suruh ngejar-ngejar," ucap Citra yang ikut tertawa.


Dendy tersenyum dalam hati,meski sakit tapi tidak papa, mereka memang lebih baik seperti itu bukan.


"Yaudah Lo sono, paka Melvin entar masuk Lo kens hukum lagi. Bisa-bisa entar Lo gak wisuda," kekeh Dendy.


"Enak aja, dia nya jangan gitu dong, nyebelin banget si lo," julit Citra.


"Oke oke sorry, galak banget neng,'


"Yaudah gua masuk dulu, lu emang gak ada kelas?"


"Ciee kepok,' balas Dendy membuat Citra berdecak kecil .


"Dahhh," ucap Citra pada akhirnya.


Dendy melihat kepergian Citra dengan sendu. Ternyata begini lah akhirnya.


Tapi Dendy merasa senang bisa melihat Citra tersenyum lagi dns bercanda dengan nya.


"Mudah-mudahan gua dapet orang yang mau sama gue deh secepatnya. Gua kudu move on nih," ucap Dendy menyemangati diri nya sendiri.


TBC