Baby Girl

Baby Girl
S2~36



"Om, Rey sama Reva pulang dulu" ucap Reynand dan pamit pergi terlebih dahulu meninggalkan acara tersebut.


Arsen yang paham langsung menganggukkan kepalanya.


"Kenapa kita pulang honey, aku belum jadi makan" protes Reva sambil mengikuti langkah lebar sang kekasih.


"Kita makan di luar saja, disini kamu gelud mulu, apa kamu tidak lelah sayang tiap kali bertemu dengannya pasti berantem, kamu itu sudah dewasa bukan anak kecil lagi seperti dulu" oceh Reynand kepada kekasihnya.


"Aku hanya kesel melihat mukanya yang menyebalkan itu" Alasan Reva benar-benar tidak berdasar.


Menurut Reynand alasan kekasihnya itu sangat konyol, hanya karena wajahnya menyebalkan lalu dia mengajaknya ribut.


Reynand menyuruh Reva untuk masuk kedalam mobil, setelah itu dia masuk kedalam mobil dan duduk di kursi kemudi.


Reynand langsung saja melajukan mobilnya meninggalkan hotel, ia mencari restoran untuk mereka singgah makan malam.


Rey menghentikan mobilnya di depan restoran. Lalu mereka berdua masuk kedalam restoran


Reva langsung memesan makanan kesukaanya, karena perut Reva sudah keroncongan. Tak lupa Reva juga memesankan makanan untuk Reynand.


Lima belas menit kemudian makanan yang mereka pesan datang, pelayan meletakkan makanan-makanan itu dia meja mereka berdua.


Setelah pelayan pergi Reva hendak ingin memakan makanannya namun di cegah oleh Reynand.


"Berdoa dulu sayang" ucap Reynand mengingatkan sang kekasih.


Reva mengangguk lalu membaca doa terlebih dahulu.


Usai selesai berdoa Reva langsung memasukkan makanannya ke dalam mulutnya. Reva makan begitu lahap, sepertinya dia benar-benar kelaparan.


"Pelan-pelan makannya nanti kamu tersedak" ucap Reynand sambil mengelus kepalanya sayang.


"Aku lapar honey" ucap Reva dengan mulut penuh makanan.


Reynand terkekeh sambil membersihkan mulut Reva yang belepotan.


Ini yang Rey suka dari Reva, dia tak pernah jaim di hadapannya dia selalu berlaku semau dia saja, berbeda dengan perempuan lain jika di ajak makan selalu malu-malu dan menyisakan makan, tapi tidak berlaku untuk Reva, dia selalu menghabiskan makanannya, dia tak perduli di hadapannya siapa.


Setelah beberapa menit kemudian mereka berdua tengah menyelesaikan makan malamnya.


Reynand mengantarkan Reva pulang ke rumahnya, karena malam sudah semakin larut.


Setelah mengantar Reva pulang barulah Reynand pulang kerumahnya.


"Kamu habis dari mana sayang? kenapa kamu memakai pakaian seperti itu" tanya Alisya yang baru saja melihat putrinya pulang.


"Reva baru saja ikut Rey menghadiri acara rekan bisnisnya mam, tadi Reva juga sempat ketemu papa. Apa papa sudah pulang ma?" sahut Reva.


"Papa belum pulang, mungkin sebentar lagi" ucap Alisya.


Reva mengangguk dan pergi ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lengket karena sudah beraktifitas seharian.


Tok


Tok


"Masuk" teriak Reva yang baru saja selesai mandi.


Cklek..


Pintu terbuka, dan ternyata yang membuka Gavin.


"Ada apa kamu ke kamar kak Reva" tanya Reva mengerutkan dahinya.


"Gavin mau culhat kak" sahut Gavin lalu mendekati ranjang dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang milik Reva.


"Curhat apa? kamu punya utang? atau ada yang nakali kamu di sekolah, bilang sama kak Reva biar nanti kakak labrak mereka" Reva memberikan banyak pertanyaan kepada Gavin.


"Cari lagi ngga usah ribet, memangnya di sekolahmu cuma ada Dhea doang" ucap Reva.


Tiba-tiba Alisya masuk kedalam kamar putrinya mencari Gavin, dia sudah ke kamar putranya tapi tidak ada, dan ternyata putranya itu sedang ada di kamar kakaknya membicarakan Dhea.


"Gavin masih kecil tidak boleh mikirin anak gadis orang dulu, mama tidak suka, nanti mama aduin papa biar di marahin sama papa" tegur Alisya sambil mengangkat tubuh putranya.


"Ah mama nda asik nih, mending Gavin mikilin pelempuan, dalipada Gavin mikilin laki-laki kan" sahut Gavin yang selalu bisa menjawab perkataan orang.


"Gavin jangan ngadi-ngadi kamu ya, awas aja kamu kalau jadi pelangi" timpal Reva.


"Bialin aja Gavin jadi pelangi, bial di temani bidadali" sahut Gavin ngga nyambung dengan ucapan Reva.


"Bawa pergi ma, Reva pusing lama-lama bicara sama dia".


"Yeee... pusing sendili kenapa Gavin yang di salahin,"


Sebelum perdebatan mereka semakin sengit Alisya memutuskan menggendong putranya dan membawanya pergi dari kamar putrinya, dan membawa masuk kekamarnya.


"Kamu makan apa sih Gav, kenapa badan kamu berat banget" keluh Alisya menurunkan putranya ketika sudah berada kamarnya.


"Kenapa mama beltanya, kan mama yang kasih makan Gavin" sahut Gavin


Terlihat Arsen baru keluar dari kamar mandi. Dia melibat perdebatan antara istri dan anaknya.


"Ada apa sayang? apa dia membuat ulah lagi?" tanya Arsen.


"Tanya saja sama putramu" sahut Alisya menyuruh suaminya bertanya sendiri sama Gavin.


"Gavin, kamu jangan nakal bisa tidak sih kasihan mamanya kan capek" omel Arsen padahal belum tahu permasalahannya.


"Memangnya Gavin ngapain papa, dali tadi Gavin itu di kamal kak Leva, telus nakalnya Gavin dimana?" protes Gavin yang tak mau di bilang nakal sama sang papa. nyatanya dia tak membuat masalah apapun.


Arsen bingung lalu mengalihkan pandangannya ke arah sang istri, seolah dia meminta penjelasan kepada istrinya itu.


"Dia mikirin anak gadis itu mulu, makanya aku kesal" ucap Alisya yang seolah mengerti tatapan suaminya.


"Apa benar begitu Gavin" tanya Arsen tegas sambil melihat wajah putranya.


"Benal, telus salah Gavin apa?" jawab Gavin dengan gentle dia membenarkan ucapan mamanya.


"Salahlah, kamu itu masih TK tidak boleh pacaran dulu, mending kamu belajar saja yang rajin daripada mikirin gadis kecil itu....siapa itu namanya kemarin" ucap Arsen lalu bertanya nama anak gadis yang di sukai putranya.


"Dhea papa Dhea, kalau Gavin sekalang nda boleh mikilin Dhea telus kapan Gavin boleh pacalannya" tanya Gavin.


"Nanti kalau sudah umur dua puluh tahun, kamu lihat saja kak Revan, kak Revan yang sudah besar belum mempunyai pacar kamu yang masih Tk sudah mau pacaran" ujar Arsen.


Lalu Gavin menghitung umurnya dengan menggunakan jarinya hingga hitungan ke dua puluh.


"Lama sekali papa, sekalang aja Gavin masih umul lima tahun, umul tujuh tahun aja gimana?" keluh Gavin lalu menawar sama Arsen.


"Tidak ada tawar menawar, sekarang mending kamu tidur" tegas Arsen sambil membawa merebahkan tubuh putranya di tengah ranjang.


"Sedih sekali kalau di celitakan, mau pacalan saja halus nunggu lima belas tahun lagi" keluh Gavin sambil memeluk manja tubuh sang papa.


Arsen selalu dibuat gemes dengan tingkah putranya itu. Dia mengusap usap punggung kecil putranya hingga membuatnya terlelap.


"Lihatlah sayang, dia menggemaskan sekali" ucap Arsen terkekh melihat putranya yang menghisap dadanya.


Alisya ikut terkekeh, dan ikut memeluk tubuh suaminya, Arsen mengecup kening istrinya dan juga puncak kepala sang putra.


Bersambung


Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏