
Reva mengajak adik-adiknya untuk berdemo supaya papanya itu mengembalikan ipadnya.
Reva menulis kata-kata di buku gambar, lalu ia berikan kepada ketiga adiknya.
Tiba di rumah Arsen di buat tertawa geli dengan aksi lucu ke empat anaknya itu.
Reva membawa tulisan "Kembalikan ipad Reva"
Revan membawa kertas kosong yang bertuliskan ancaman "kembalikan atau kita akan merusuh"
Sedangkan Ravin membawa tulisan
"Kembalikan hak menonton tv kita"
dan si kecil Rachel, membawa tulisan
"Jika tidak di kembalikan, kita akan mogok makan"
"Hahahah...kalian ini ada-ada aja" ucap Arsen tertawa keras hingga membuat perutnya sakit, sungguh melihat tingkah absurd anaknya itu membuat Arsen melupakan sejenak masalahnya.
"Papa jangan tertawa, kita mau demo" ucap Reva sedikit meninggikan suaranya.
Arsen menghentikan tawanya, dia melihat putrinya sedang briefing dengan adik-adiknya.
"Ayo kalian harus teriak seperti kak Reva jangan diam saja, kalau diam saja bagaimana kita demo, yang ada papa tidak akan mengembalikan ipad kak Reva. Kalau tidak di kembalikan nanti kalian tidak bisa menonton cocomelon" ucap Reva sedikit menakuti adiknya.
"Aik ata' "jawab Ravin yang memang paling rusuh. Dia maju satu langkah ke depan.
"tembalitan pad ata' "teriak Ravin tak jelas.
"Iya ata' "sahut Rachel ikut-ikutan.
Revan hanya menatap datar wajah papanya bingung.
Reva menepuk keningnya, dia lupa kalau adiknya itu belum lancar berbicara.
Tawa Arsen makin pecah, bayi yang baru berusia 1th itu memaksakan diri untuk berbicara.
Sedangkan Alisya memalingkan wajahnya ke arah lain, ia tak kuat melihat tingkah anak-anaknya.
Arsen mengangkat tubuh Reva dan menciuminya.
"Kamu ini kenapa nakal sekali hmm, adiknya masih kecil sudah di ajari untuk berdemo" omel Arsen lalu membawa Reva ke sofa seraya terus memeluknya.
Reva terus berontak di pelukan papanya.
"Guys, tolong kak Reva cepat" perintah Reva pada ketiga pasukannya
Ravin, Revan, Rachel langsung mendekat menyerbu papanya, mereka menarik narik baju papanya marah.
"Pas ata' "teriak Ravin galak.
"Ngomong yang jelas boy," ejek Arsen
"Serang papa cepat" titah Reva.
Mereka bertiga langsung menggelitiki tubuh Arsen menggunakan tangan kecilnya.
"Hahahhah....kalian curang, beraninya main keroyokan" protes Arsen di sela-sela tawanya seraya melepaskan tubuh putrinya.
Mereka berempat terus menggelitiki tubuh Arsen, membuat Arsen tak tahan karena geli.
"Mam, tolong papa" pinta Arsen meminta bantuan istrinya.
Alisya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan suaminya dan ke empat anaknya, rumah Arsen makin ramai sekarang dengan adanya triplet.
"Stoppp....papa nyerah"
Akhirnya mereka berempat melepaskan Arsen.
"Papa payah," ledek Reva.
"Kalian yang curang, mainnya keroyokan" gerutu Arsen. "Apa lagi bayi cantik ini kenapa ikut-ikutan hmm," ucap Arsen sambil memeluk tubuh montok Rachel, dan mendudukannya di kedua pahanya.
"Papa jangan macam-macam sama Reva ya, nanti Reva adukan sama oma. Mana ipad Reva papa" rengek Reva.
"Papa hanya meminjamnya sehari saja kamu sudah seperti itu girl" ucap Arsen bohong.
"Kan Reva mau main game jadi ngga bisa pa" rengek Reva cemberut sambil menjatuhkan tubuhnya di sofa dengan setengah berbaring.
Mereka berdua menyandarkan tubuhnya pada tubuh Reva sambil mengusap usap rambut Reva, seolah mereka berdua sedang menenangkan kakaknya itu.
Alisya terkekeh geli melihat tingkah adik kakak itu.
"Belajar girl, bukan main game terus, yang ada nanti ipadmu papa sita selamanya mau kamu" tegur Arsen sedikit memberikan ancaman kepada putrinya.
"Kenapa di sita, kan Reva juga masih suka belajar" protes Reva.
Meskipun bermain ipad, tapi Reva tetap bertanggung jawab dengan tugas-tugas sekolahnya, bahkan putrinya mendapatkan ranking satu di kelasnya.
Arsen menerapkan disiplin sejak dini. Arsen juga membatasi Reva bermain ipad.
"Besok papa kembalikan, sekarang lebih baik kalian tidur siang dulu" ucap Arsen.
"Yahhh..pasti di suruh tidur lagi, tidur lagi" keluh Reva.
"Kamu baru sembuh sayang, jadi harus banyak istirahat" ucap Alisya.
"Nanti ma, Reva ngga ngantuk" protes Reva.
"Iya nda ntuk" timpal Ravin ikutan.
"Bicara yang benar sayang" ucap Alisya mengejek putranya.
Ravin mencebik lalu menduselkan wajahnya ke tubuh kakaknya.
Karakter Ravin sama Revan memang berbeda, jika Ravin cenderung banyak omong laon halnya denagn Revan yang banyak diam dan sedikit dingin seperti Arsen.
...****************...
"Assalamualaikum" sapa Belinda baru saja tiba di rumahnya.
"Waalaikum salam bunda" sahut Alisya.
"Omaaa...." pekik Reva menubruk tubuh Belinda.
"Ya tuhan, cucu oma sudah besar ternyata" ucap Belinda sambil menggendong Reva.
"Oma, bantu Reva, ipad Reva di sita sama papa" bisik Reva di telinga Belinda.
"Reva, oma baru saja pulang, jangan di suruh aneh-aneh ya" ucap Alisya memperingatkan putrinya.
"Nanti oma bantu, sekarang lebih baik Reva ajak adik-adik bongkar koper oma. Oma bawa banyak mainan untuk kalian," bisik Belinda. Seraya menurunkan Reva dari gendongannya.
"Ok, oma" balas Reva, kemudian berlari mencari bibi untuk membantu membuka. Koper sang oma.
Belinda sengaja menyuruh Reva sedikit menjauh dari mereka, karena ada yang mau Belinda obrolkan dengan putranya itu.
"Bunda baru pulang? Arsen kira bunda sudah lupa jalan pulang" sindir Arsen.
"Diam, dan duduklah...ada yang mau bunda bicarakan dengan kalian" tegas Belinda.
Mereka bertiga pun akhirnya duduk di sofa yang ada di ruang tamu, Arsen dan Alisya duduk menghadap Belinda, mereka seperti tersangka yang sedang di introgasi.
"Arsen, kenapa kamu bisa seceroboh ini hah. Kenapa kamu sampai kecolongan tentang masa lalu Alisya yang muncul ke publik"
" bunda sudah sering ingatkan sama kamu, jangan pernah terlalu laka bermain dengan musuhmu, karena bisa saja musuhmu yang lebih dulu menghancurkanmu. Seperti sekarang, setelah semua bocor ke publik kamu baru bertindak" omel Belinda, dia terkadang kesal dengan sikap acuh putranya itu.
Arsen menunduk, tak berani menatap Belinda, dia mengaku kalau dirinya salah, dia sudah teledor untuk kali ini.
"Kumpulkan bukti sebanyak mungkin untuk menghukum pelaku penyebaran berita tersebut, dan cebloskan mereka penjara, bila perlu kau buang ke pedalaman agar mereka tak bisa lagi kembali kesini" ucap Belinda kejam.
Bertahun tahun menemani suaminya dalam menjalankan bisnisnya, membuat Belinda mempunyai sisi kejam yang tersembunyi, dia akan marah jika keluarganya sudah di usik, terutama putra semata wayangnya.
"iya bund, Arsen sudah bikin perusahaan mereka hancur, bahkan mereka sudah di nyatakan bangkrut" sahut Arsen.
"Bangkrut saja tidak cukup !, ada kemungkinan besar dia masih bisa menemui Alisya atau putrimu itu, kamu mau kalau mereka berubah menculik anak-anakmu itu" sinis Belinda.
Orang jahat akan mempunyai banyak cara untuk memuluskan rencananya.
Makanya kalau mau menghancurkan seseorang jangan setengah-setengah, hancurkan dia sampai ke akarnya hingga membuat orang itu kesulitan bahkan tidak akan pernah bisa bangkit lagi.
Bersambung
Happy reading guys🙏