Baby Girl

Baby Girl
S2~48



Malam setelah memastikan Siska tertidur Reva memutuskan untuk pulang kerumahnya, besok pulang kerja dia akan kembali ke rumah papinya.


"Kakek, Reva pulang dulu ya" pamit Reva kepada sang kakek.


"Iya sayang, hati-hati di jalan titip salam untuk mama dan papa kamu" sahut David sambil mengusap surai panjang Reva.


"Iya kek" ucap Reva.


Setelah itu Reva beranjak dari kamar Siska dan keluar menemui papinya dan juga yang lain untuk pamit pulang.


"Kamu sudah mau pulang sayang?" tanya Erik ketika melihat Reva yang menghampirinya.


"Iya pi, takut kemalaman pulangnya" sahut Reva sambil mencium tangan papinya,


"Yasudah, ayo papi antar kedepan" ucap Erik.


Erik menunggu putrinya pamit dengan tantenya dan juga saudaranya yang lain, setelah itu Erik mengantar Reva ke depan.


Di depan sopir Erik sudah bersiap didalam mobilnya, sopir Reva tadi langsung pulang jadi Erik meminta sopirnya untuk mengantarkan putrinya pulang, sedangkan Reynand sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar kota jadi tidak bisa menjemput kekasihnya.


Erik membukakan pintu untuk putrinya, Reva pun masuk kedalam mobil.


"Terima kasih papi" ucap Reva sambil tersenyum.


Erik mengangguk lalu mengalihkan pandangannya ke sopirnya.


"Pelan-pelan saja bawa mobilnya pak" pinta Erik.


"Iya tuan" sahut Sang sopir.


Dengan perlahan mobil yang di tumpangi Reva mulai jalan meninggalkan pekarangan rumah.


Reva melambaikan tangan begitu juga Erik, hingga mobil Reva sudah tak terlihat lagi barulah Erik masuk kedalam rumah.


Cuma butuh waktu empat puluh menit mobil yang di tumpangi Reva sudah sampai di depan rumahnya.


"Terima kasih paman"


"Sama-sama non Reva"


Setelah itu Reva keluar dari dalam mobil dan melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.


Di lihatnya sang adik bungsu sedang menonton televisi dengan wajah yang di tekuk karena tidak di kasih susu sama mamanya.


Reva menyalami kedua orang tuanya terlebih dahulu barulah dia duduk di sisi Gavin yang masih kosong.


"Kenapa wajahnya di tekuk gitu Gav" tanya Reva penasaran.


"Susu Gavin habis kak" sahut Gavin bohong.


Reva pun mengeluarkan uang dua lembar warna merah dari dalam tasnya, lalu memberikan uang tersebut kepada Gavin.


"Beli sana jangan kek orang susah, papanya doang kaya tapi susu anaknya habis tidak bisa beli" ucap Reva sambil menyindir papanya.


Alisya dan Arsen membelalakan matanya mendengar ucapa putrinya yang menyindirnya. Jangankan untuk membeli susu anaknya bahkan untuk membeli pabriknya saja uang Arsen masih sisa banyak.


"Ini namanya lejeki anak soleh" ucap Gavin sambil tersenyum penuh kemenangan. akhirnya malam ini dia tidak jadi puasa minum susu.


"Kamu kenapa kasih Gavin uang kak" protes Alisya.


"Lah memangnya kenapa mah, kan Gavin adik Reva jadi tidak ada salahnya Reva kasih uang Gavin" sahut Reva yang belum tahu kalau adiknya itu masih dalam masa menjalani hukuman Alisya.


"Adikmu itu lagi mama hukum kak, malam ini mama tidak memberikan susu untuknya, dia tadi sore kabur naik motor tidak ijin mama, mama kira dia hilang tapi tahunya dia malah sedang asik makan es krim sama anak gadis orang" jelas Alisya berharap putrinya itu mau menarik kembali uang yang di berikan kepada Gavin.


Reva melihat kearah adiknya, lalu sedetik kemudian ia tersenyum lebar menatap wajah Adiknya.


Alisya menepuk keningnya, dahlah rencana mau hukum Gavin malah gagal gara-gara putrinya itu.


Bukannya mendukung mamanya, dia malah mendukung aksi adiknya itu.


Inilah yang Gavin suka dari kakaknya Reva, kakaknya itu berani beda dari yang lain, meskipun yang lain mendukung tindakan mamanya, berbeda dengan Reva yang justru membela Gavin.


"Aluna kak, lumahna dekat taman komplek sana" sahut Gavin senang karena mendapat dukungan dari sang kakak.


"Lanjutkan Gav, hidup memang harus punya pilihan, jadi jangan hanya mengejar Dhea saja" ucap Reva sambil menepuk pelan kepala adiknya.


"Siap kak Reva" sahut Gavin semangat sambil memberikan dua jempol untuk kakaknya.


"Ngomong-ngomong kamu utang siapa lagi buat jajanin anak orang" tanya Reva penasaran dia tahu mamanya tak pernah memberikan banyak uang kepada adiknya.


"Ngutang sama Paman Deden" sahut Gavin sambil nyengir kuda menatap kakaknya.


Reva tertawa melihat keberanian adiknya, menurutnya Gavin tak jauh beda dengan dirinya yang dulu suka merayu Reynand untuk meminjam uang.


"Yasudah sana bayar utang kamu, sekalian beli susu kak Reva mau mandi dulu" ucap Reva setelah itu beranjak dari tempat duduknya dan melenggang naik menaiki tangga menuju ke kamarnya.


Ravin diam-diam mendekati adiknya.


"Ayo Cil, kak Ravin antar kamu beli susu, tapi nanti kamu beliin kak Ravin jajan ya" tawar Ravin tapi tetap meminta bayaran sama adiknya.


"Tak masalah, uang Gavin banyak nanti kalau abis tinggal minta lagi sama kak Leva" balas Gavin santai.


Mereka berdua akhirnya beranjak pergi meninggalkan mamanya, dan pergi ke supermarket yang tak jauh dari rumah.


"Ini sih Gavin besok bisa jajanin Aluna lagi" gumam Gavin.


Sedangkan di rumah Alisya sedang mencak-mencak sama suaminya yang ia jadikan sasaran kekesalannya.


"Lihat tuh tingkah anak kamu, gara-gara kamu manjain terus jadi anak kamu suka seenaknya gitu, apalagi Reva dari dulu kau selalu saja memanjakannya" omel Alisya kepada suaminya.


Arsen diam saja sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia takut nanti kalau dirinya bersuara malah akan makin runyam.


"Kamu tuh harusnya jadi kepala keluarga itu yang tegas, jangan malah diam aja jadinya anakmu kek gitu susah di kasih tahu"


Arsen yang gemes karena terus di omeli istrinya akhirnya dia mengangkat tubuh istrinya seperti karung beras dan membawanya masuk kedalam kamarnya.


Tidak ada cara lain untuk membungkam mulut istrinya selain mengajaknya adu kekuatan, nanti kalau sudah lemas barulah dia akan diam dan terlelap.


Revan selalu suka melihat keromantisan kedua orang tuanya, meskipun papanya sering di jadikan pelampiasan akan kemarahan mamanya, tapi papanya tidak pernah marah.


Papahnya selalu memaklumi mamanya yang mungkin saja sedang capek karena seharian mengurus anak-anaknya yang masing-masing memiliki karakter berbeda.


Namun untuk saat ini Gavin lah yang suka membuat istrinya capek dan suka marah-marah.


"Sayang kamu mau ngapain" tanya Alisya yang melihat suaminya sedang membuka kaosnya.


"Menghukummu" sahut Arsen.


Gluk


Matilah, Alisya tahu maksud ucapan suaminya yang ingin menghukumnya, apalagi kalau bukan hukuman di atas ranjang.


Alamat begadang sampai malam, pikir Alisya.


Bersambung


Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏


Happy reading guys🙏