Baby Girl

Baby Girl
S2~19



"Welcome home kak Leva" Ucap Gavin sambil membentangkan kertasnya yang sudah susah payah ia tulis sendiri, untuk menyambut kepulangan kakaknya.


"Selamat datang di rumah sayang" ucap mereka semua kompak.


Setelah di rawat hampi satu minggu lebih akhirnya Reva di ijinkan pulang oleh sang dokter, semua keluarga berkumpul di rumah Arsen untuk menyambut kepulangannya.


Reva begitu terharu melihat kekompakan keluarganya, untuk menyambut kepulangannya.


Bahkan sang mantan bodyguard pun ada di tengah-tengah mereka. Tanpa ia sadari matanya mengeluarkan air mata.


"Om Max" panggil Reva dengan nada bergetar.


"Ya, om Max di sini sayang, maaf om tidak ada di saat kamu butuhkan" sahut Max sambil memeluk tubuh Reva.


Max merasakan bahu Reva bergetar, ia tahu kalau Reva sedang menagis di bahunya.


Ini kali pertama Reva bertemu dengan Max, semenjak Max memutuskan berhenti menjadi pengawalnya.


"Kau melupakan papamu girl" sindir Arsen yang merasa cemburu dengan Max.


Reva pun akhirnya melerai pelukannya, lalu Max menghapus jejak air mata di pipinya. setelah itu ia menatap kedua mata Reva lekat-lekat.


"Reva yang om kenal adalah wanita tangguh, bukan wanita cengeng dan bertindak seperti anak kecil. Jadilah wanita yang smart, yang berfikir menggunakan otak bukan menggunakan ego. Apa kamu mengerti?" ucap Max, agar lain kali Reva tak mengulangi kesalahannya hingga membahayakan nyawanya sendiri.


Reva mengangguk mengerti. Max mengusap sayang puncak kepala Reva.


Arsen yang sudah tidak sabar akhirnya maju dan langsung memeluk tubuh putrinya.


"Kau dari tadi megabaikan papa girl" kata


Arsen sambil memeluk tubuh putrinya erat.


"Maaf papa, Reva hanya kangen sama om ,Max, kan sudah lama Reva tidak bertemu dengannya" sahut Reva sambil terkekeh menepuk nepuk punggung papanya.


Setelah melepas rasa kangennya terhadap sang putri akhirnya Arsen melepas pelukannya.


Kini satu persatu ikut memeluk Reva dengan penuh kasih sayang.


Yang terakhir giliran Gavin yang memeluk Reva.


"Mentang-mentang Gavin paling kecil, Gavin jadi dapat gililan yang telakhil" gerutu Gavin sambil maju mendekati kakaknya yang masih duduk si kursi roda.


"Hai boy, adik kakak yang paling gemoy, dan yang paling hebat, apa kabar hmm" tanya Reva sambil menciumi pipi bulat adiknya.


"Kabal Gavin kulang baik kak," jawab Gavin lesu.


"Memangnya kenapa?" tanya Reva sambil menautkan alis nya.


"Cinta Gavin beltepuk sebelah tangan kak, gimana ini? hati Gavin lasana sakit sekali" jawab Gavin sambil memengang dadanya seolah merasakan sakit beneran.


Reva di buat melongo oleh ucapan adiknya itu.


"Jangan menyerah boy, kejar terus sebelum ada janur kuning mah masih bisa di tikung" ucap Reva mengompori adiknya.


"Kalau gitu Gavin akan dekati Dhea lagi, bial Dhea mau sama Gavin" sahut Gavin wajahnya kembali berbinar.


"Begitu dong, tapi kalau Dhea nya jual mahal mah, tinggal saja cari yang lain. Kamu juga harus diet biar para ciwi-ciwi makin klepek-klepek sama kamu" ucap Reva cekikikan sembari memberi saran kepada adiknya.


"Ok, kalau begitu mulai besok Gavin mau diet" ucap Gavin semangat.


"Nah ini baru adiknya kak Reva" sorak Reva sambil bertos rida dengan Gavin, setelah itu mereka berdua tertawa cekikikan.


Para orang tua di buat geleng-geleng dengan kelakuan Reva yang malah mengompori adiknya itu.


"Kamu ini malah mengajarkan adikmu yang tidak-tidak, dia masih TK ya Reva" cetus Alisya.


"Biarin saja, namanya cinta tentu saja harus di perjuangkan" sahut Reva tak mau di salahkan.


"Dan aku akan memperjuangan cintaku untumu, Reva" dalam hati Reynand.


......................


Menjelang sore keluarga Brian datang ke rumah Arsen dengan membawa hasil visum dan surat BAP dari kepolisian.


Mereka ingin Rachel dan juga Reynand bertanggung jawab dengan kejadian yang menimpa putranya.


"Maaf, anda siapa dan ada keperluan apa? " tanya sang penjaga gerbang ketika melihat mobil Brian yang ingin masuk kedalam.


"Saya ingin bertemu tuan Arsen" jawab Reno dari kaca mobilnya yang sudah ia buka.


"Sebentar saya tanyakan dulu kepada tuan Arsen" ucap Sang penjaga.


Brian yang merasa kedatangannya di persulit akhirnya menurunkan kaca bagian belakang.


"Saya Brian pak, sayadatang bersama ayah saya" ucap Brian yang memang sudah mengenal penjaga gerbang yang ada di rumah Reva, karena dulu ia lumayan sering datang ke rumah ini.


"Oh, den Brian.... silahkan masuk den" ucap sang penjaga, lalu membukakan gerbang dan membiarkan mobil mereka masuk kedalam halaman rumah Arsen.


Sedangkan di dalam rumah, terlihat seorang pelayan masuk ke ruang tengah menghampiri Arsen.


"Ada apa bi" tanya Arsen.


"Ada den Brian tuan, sepertinya dia datang dengan kedu orang tuanya" sahut sang pelayan.


"Nanti saya kesana" kata Arsen.


Setelah itu sang pelayan kembali ke dpaur untuk membuatkan minuman untu Brian dan kedua orang tuanya.


"Ada apa Ar?" tanya Reagan.


"Ada Brian sama orang tuanya, lebih baik kau temani aku ke depan" jawab Arsen lalu mengajak Reagan ke depan.


Kebetulan Erik dan keluarganya sudah pulang terlebih dahulu, sedangkan Reva sedang di taman belakang bersama Max serta Reynand.


"Ada apa" tanya Arsen dengan nada dingin, setelah sampai di ruang tamu.


Plakkk....


Reno melempar sebuah map yang berisi semua bukti tentang Rachel dan Reynamd yang memukuli putranya, tapi semua bukti itu dalam bentuk salinan.


Dia situ juga ada sebuah foto yang memperlihatkan Reyanand yang sedang memukuli Brian.


Reno mendapatkan rekaman CCTV dari rumah sakit dengan begitu mudah, tentu ia menggunakn uang untuk bisa mendapatkan rekaman tersebut.


Arsen mengambil map tersebut, lalu membukanya dan melihat setiap isi yang ada di map tersebut.


Setelah usai Arsen membaca isi yang ada di map tersebut, ia kembali meletakan map itu di atas meja.


"Lalu tujuan anda apa memberikan bukti itu ke saya" tanya Arsen sambil menyilangkan kakinya.


Sebenarnya Reno sedikit takut melihat wajah dingin Arsen dan juga Reagan, akan tetapi dia mencoba memberanikan diri untuk mengajak mereka bernegosiasi.


"Saya meminta kompensasi dari kalian, karena anak kalian sudah memukuli anak saya hingga masuk ke rumah sakit" sahut Reno.


"Kalau anda tidak mau memberikan kompensasi kepada kami, maka kami akan membawa kasus ini ke ranah hukum" imbuhnya mencoba menekan Arsen.


"Memang kompensasi apa yang anda minta" tanya Arsen pensaran.


"Kalian bisa memberi kami uang, atau kerjasama perusahaan" ucap Reno dengan percaya dirinya memberikan sebuah opsi.


Arsen dan Reagan saling lirik dan sama-sama tersenyum, mereka sudah tahu kalau pada akhirnya ini menyangkut uang dan perusahaan.


Selama ini perusahaan Reno selalu mengirimkan berkas kerja sama, akan tetapi Arsen selalu menolaknya.


"Ada apa ini? kenapa para penjilat ini datang kemari" tanya Reva yang baru saja datang bersama Reynand dan juga Max.


Brian dan kedua orang tuanya menelan ludahnya, mereka .mulai gusar ketika melihat wajah bengis Max yang menatapnya tajam.


"Mereka sedang ingin meminta kompensasi sayang" sahut Arsen.


"Kompensasi untuk apa?" tanyanya lagi.


"Untuk luka-luka yang di dapat oleh Brian" jawab Arsen.


Reva tersenyum mengejek sambil melihat kearah mereka.


"Kalian tak berhasil memanfaatkanku, lalu kaian mencoba memanfaatkan kejadian ini rupanya" sarkas Reva lalu meminta Reynand mendorongnya mendekati sang papa.


"Kalau mau di bawa ke jalur hukum ya silahkan saja, tapi kita akan lihat, siapa yang akan masuk penjara... Adikku atau kalian yang akan masuk kedalam penjara" lanjutnya menantang keluarga Brian dengan gaya angkuhnya.


"Aku tahu kamu masih sakit hati sama aku Rev, tapi bukan berarti kamu bisa membalasku seperti ini" ucap Brian.


"Siapa yang membalas siapa, kalian sudah mengajak kami bermain, dan dengan senang hati kami akan mengikuti permainan kalian" sahut Reva masih tenang.


Reva sudah di ajarkan banyak hal oleh Max, salah satunya mengolah emosi, agar tak mudah terpancing oleh lawan, selalu bersikap tenang dalam menghadapi situasi apapun. Agar lawan tak bisa menebak isi pikiran kita.


"Om Max" panggil Reva.


Max maju sambil membawa sejumlah bukti tentang kecurangan yang di lakukan oleh perusahaan ayah Brian.


lalu menyerahkan bukti tersebut kepada Reva.


Plakkk....


Reva melempar bukti itu kehadapan Reno.


"Baca! " perintah Reva.


Dengan tangan gemetar Reno mengambil map tersebut lalu membukanya.


Ia melototkan matanya, ketika melihat semua rincian bukti kecurangan tentang perusahaannya yang tertera di dalam amplop tersebut.


"Tidak mungkin" gumam Reno dengan bibir bergetar.


Brian yang penasaran pun merebut map itu dari tangan ayahnya.


Lalu Brian membaca map tersebut dengan seksama, ia tak ingin sedikitpun ada yang terlewat.


"Bagaimana? kalian tahu kan, siapa yang akan masuk penjara. Sekarang terserah kalian masih tetap ingin berlanjut, atau berhenti sampai sini?" kata Reva tegas


Renao dan Brian menatap Reva dengan tatapan yang rumit, mereka tak menyangka Reva bisa mendapatkan bukti itu dengan begitu mudah, padahal selama ini Reno sudah menyembunyikannya dengan rapat.


"Kita akan cabut tuntutan itu sekarang juga, dan kita juga tidak akan meminta kompensasi kepada kalian. kami tidak akan menuntut apapun asal kalian juga tidak akan melaporkan kita kekantor polisi" Ucap Reno seolah mengajukan sebuah kesepakatan.


"Ok deal" sahut Reva sambil tersenyum penuh arti.


Arsen bisa melihat sisi lain dari putrinya yang selama ini tidak pernah ia lihat, putrinya terlihat santai namun penuh misteri.


"Kalau begitu kami pamit undur diri" pamit Reno kepada semuanya.


"Silahkan" Sahut Reva.


Reno mengajak keluarganya pergi dari rumah Arsen, Debora sejak tadi hanya diam saja, ia tak berani mengeluarkan suaranya, ia kesini hanya mengikuti suaminya saja.


Sedangkan Listy mereka tidak mengajaknya, Brian takut menyulut emosi Arsen jika melihat Listy datang bersamanya.


Reva melirik kearah Max, Max yang mengerti pun langsung menganggukkan kepalanya.


Tak ada yang melihat interaksi mereka berdua, Arsen dan Reagan sedang asik mengobrol, sedangkan Reynand sedang sibuk mainin ponselnya.


Tak lama Max juga ikut pamit kepada mereka semua.


"Kau mau kemana Max" tanya Arsen.


"Tentu saja aku ingin pulang" sahut Max dan berlalu dari hadapan mereka semua.


Bersambung


Happy reading guys 🙏