Baby Girl

Baby Girl
BAB 145



"Kamu kenapa lari-lari sayang," tanya David kepada cucucnya yang terlihat ngos ngosan.


"Sssstttt.....Jangan berisik kek, nanti Reva ketahuan sama mama" lirih Reva.


"Hah?, jadi kamu sedang melarikan diri dari mama kamu hmm" tanya David.


"Tidak, Reva cuma takut mama marahin Reva" jawab Reva sambil menjatuhan tubuhnya di samping sang kakek.


"Memangnya apa yang kamu lakukan, pasti kamu baru saja melakukan kesalahan ya, hingga membuat mama kamu marah" tebak David.


"Reva hanya menggoda Bara hingga nangis kek" jawab Reva jujur sambil nyengir kuda menatap David.


"Kamu ini suka sekali menggoda Bara" ucap David terkekeh sambil mengusap kepala Reva.


"Biar Baranya nda cengeng kek, dia kan laki-laki jadi halus belani" ucap Reva.


"Iya sayang, tapi kan Bara masih kecil" ucap David pelan, supaya cucunya itu tidak memaksakan kehendaknya.


Kasihan juga kalau si baranya di buat nangis terus.


"Iya kek, Reva nda goda Bara lagi....Tapi Reva nda janji" lirih Reva di akhir ucapannya supaya kakeknya itu tidak dengar.


Namu ternyata dugaan Reva salah, David tetpa mendegar ucapan lirih cucu nakalnya itu


Tak lama Arsen memanggil semuanya untuk makan bersama, semua makanan yang mereka bakar sudah siap untuk di hidangkan.


"Reva mau sosis sama daging pa" pinta Reva.


"Rey juga mau om" pinta Reynand juga.


"Sabar ya, semua pasti semua akan kebagian" sahut Arsen.


Arsen memberikan satu porsi daging dan sosis kepada putrinya dan juga keponakannya itu.


Kini semua makan dengan tenang, sedangkan bayi mereka ia titipkan kepada sang pengasuh.


Beberapa menit kemudian mereka semua menyelesaikan makanannya, Rani dan Viona mengambil buah hatinya, lalu menyuruh sang pengasuhnya untuk makan.


Setelah itu Rani membiarkan Bara bermain bersama Reva dan anak Alisya yang lain.


Berhubung waktu masih menunjukkan pukul 8 malam, mereka memutuskan untuk mengobrol terlebih dahulu di ruang keluarga.


Mereka terbagi menjadi dua kubu.


Kubu suami dan kubu istri, mereka duduk di tempat yang terpisah.


"Bagaimana pekerjaanmu Rik? Apa kamu tidak ada keinginan untuk membuat perusahaan sendiri Rik" tanya Arsen membuka obrolan.


"Kantor baik Ar. pingin sih...tapi mungkin nanti ya setelah Viona sudah tidak repot lagi mengurus putra kami, kasihan juga kalau Viona mengurus perusahaan nya sendiri" jawab Erik.


"Iya juga sih, bahkan setelah Alisya melahirkan aku saja jarang datang ke kantor" ujar Arsen.


"Kamu mah enak, Nino bisa menghandle semuanya, lah asisten kita mah beda, kalau kita lama tidak kekantor yang ada perusahaan kita bangkrut" timpal Reagan.


Mereka merasa iri dengan Arsen yang memiliki asisten yang serba bisa seperti Nino. Meskipun Arsen tidak ke kantor tapi perusahaan Global Group masih bisa berjalan dan bahkan semakin maju di buatnya.


"Makanya nyari asisten itu yang profesional, yang serba bisa biar pekerjaanmu santai" ejek Arsen.


Sedangkan di tempat para istri.


"Al, ngomong-ngomong Reva kemana? Tumben sekali dia anteng tidak heboh" tanya Viona yang merasa aneh.


"Hah? kok mereka tidak ada ya Vi, aku harus mencarinya supaya dia tak membuat ulah lagi, apa lagi dia tadi bersama Reynand" jawab Alisya sambil celingukan mencari keberadaan putrinya itu.


Namun sayang putrinya dan anak yang lain tidak kelihatan di ruang tamu.


Alisya mulai bangkit dari tempat duduknya yang tadi ia duduki.


*


*


"Kamu sedang mencari siapa mam" tanya Arsen ketika melihat istrinya seperti sedang mencari sesuatu.


"Memangnya mereka kemana? Tidak mungkin kan ada culik yang masuk ke rumah kita" tanya Arsen.


"Aku juga sedang mencarinya" ucap Alisya kesal. Suaminya itu ngaco...mana m7ngkinada culik yang berani masuk kedalam rumah, apa lagi kondisi rumah yang sedang ramai.


"Ayo, aku akan membantumu mencari dia" ucap Arsen sambil berdiri.


Tapi ternyata Arsen dan ayah yang lain pun ikut mencarinya, mereka juga penasaran kemana perginya anak-anak mereka.


Mereka mencari ke ruang tv, ke ruang bermain, tapi mereka tetap tidak menemukan Reva dan anak yang lain.


"Coba kita cari mereka ke dapur mam" usul Arsen.


"Hah? Memangnya mereka ngapain bermain di dapur" tanya Alisya aneh, ngapain anaknya malam-malam begini main di dapur.


"Coba saja dulu, kamu ngga ingat waktu Rachel masuk ke kulkas" ucap Arsen mengingatkan istrinya kejadian tempo hari.


Mereka pun ramai-ramai melangkahkan kakinya menuju ke dapur.


Terlihat Rachel sedang duduk di lantai sambil memakan kue yang entah dia ambil dari mana.


"Sayang kamu sedang apa di sini sendiri hmm, kak Reva, kak Ravin, kak Revannya pada kemana" tanya Alisya kepada putrinya yang mulutnya sudah belepotan oleh kue.


"Tu.."jawab Rachel sambil menunjuk ke arah bawah meja.


"kakak ada di sana" tanya Alisya memastikan, Rachel pun mengangguk kecil seolah mengerti dengan pertanyaan mamanya.


Sedangkan di kolong meja.


"Kalian diam jangan belisik, nanti ketahuan sama mama" bisik Reva.


Mereka pun meengangguk patuh.


Alisya dan Arsen melangkah ke kolong meja, ia ingin memastikan petunjuk dari putrinya itu benar atau salah.


Alisya membuka telapak meja yang menjuntai hingga ke lantai.


Dia tecengang melihat pemandangan yang ada di hadapannya,.


Reva, Reynand, Ravin, Revam dan juga Bara ada di kolong meja dengan mulut yang sudah belepotan karena es krim


"Eh, mama" ucap Reva sambil nyengir.


"Reva... Ya ampun sayang, keluar kamu sekarang" titah Alisya sambil mengambil nafas dalam-dalam.


Mereka semua pun keluar dari kolong meja dengan sal8ng membantu, Reva membantu adiknya keluar, sedangkan Reynand membantu Bara keluar dari


"Siapa yang menyuruh kalian makan es krim malam-malam seperti ini" tanya Arsen.


"Ata' Leva" jawab Bara mewakili.


Revan, Ravind dan juga Bara dengan polosnya menunjuk kearah Reynand dan juga Reva.


Mereka berdua yang di tunjuk pun, melototi ketiganya dengan tatapan tidak terima.


Arsen menghela nafas panjang, lagi-lagi mereka berdua biang keladinya.


"Apa benar itu Reva, Reynand" tanya Arsen tegas.


"Tidak benar, salah sendiri mereka mau Reva kasih es krim, iya kan Rey" jawab Reva, Reynand pun mengangguk mengiyakan ucapan Reva.


Tentu saja mereka mau, memangnya siapa yang bisa menahan godaan makan es krim, apa lagi ketiga bocil itu. Tentu saja mereka dengan senang hati menerimanya.


Yang lain hanya terkekeh melihat kelakuan mereka, mereka berlima seperti anak sekolah yang sedang di strap sama gurunya.


"Iya om, tak semuanya salah Reva sama Reynand, mereka juga salah...kenapa mereka mau menerima es krim dari kita" ucap Reynand membela diri.


Bersambung


Happy reading guys🙏