
"Sudah belum hmm" tanya Reynand sambil memeluk Reva yang sedang **********.
"Sebentar honey" jawab Reva.
"D4d4 mu makin besar sayang, semakin membuatku ingin terus melahapnya" ucap Reynand mesuk sambil me re mas kedua Dad4 istrinya.
"Diamlah honey, tadi kan sudah" kesal Reva sambil menepis tangan suaminya.
"Masih kurang sayang, apalagi tadi nglakuinnya buru-buru" sahut Reynand.
Reva menggelengkan kepalanya melihat kelakuan suaminya yang semakin mesum.
Reva mempercepat ganti bajunya sebelun suaminya kembali menerkamnya.
Setelah melewati siang yang panas Reva dan Reynand bersiap-siap untuk pergi kerumah Erik. Mereka membawa serta Cherry karena Erik kangen dengan cucunya.
"Kalian mau kemana" tanya Alisya saat melihat ketiganya sudah berpakaian rapih.
"Mau kerumah papi Erik mam" jawab Reva.
"Gavin ikut kak, Gavin malas di lumah nda ada temannya" sela Gavin.
"Yasudah ayo, tapi jangan rusuh" ucap Reva, kasihan juga melihat adiknya sendirian di rumah, soalnya triplet belum pulang.
Gavim bersorak ketika di perbolehkan ikut sama kakaknya.
Mereka akhirnya pergi berempat menuju ke rumah Erik. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam mobil yang mereka tumpangi sampai di depan rumah Erik.
Mereke berempat turun lantas masuk kedalam rumah Erik.
"Assalamualaikum.. " ucap Reva saat memasuki rumah Erik. Reva tidak lagi berteriak seperti dulu, karena saat ini dia sudah memunyai putri dia takut putrinya akan menirunya.
"Waalaikumsalam," Sahut Erik sambil melangkahkan kakinya menghampiri putrinya.
"Uluhh.. uluhh... cucu opa cantik sekali" ucap Erik sambil merebut Cherry dari gendongan Reva.
Reva mengerucutkan bibirnya karena papinya tak lagi menyapanya seperti dulu.
Bahkan sekedar mencium keningnya saja tak lagi di lakukan. Memang semenjak ada putrinya Reva sedikit terlupakan.
"Ck, Mentang-Mentang ada Cherry sekarang Reva di lupain" gerutu Reva.
Viona terkekeh, lalu dia memeluk putrinya.
"Maaf sayang, kami mengabaikanmu" ucap Viona lalu mencium kening Reva.
"Kakek kemana mi" tanya Reva ketika tidak melihat David.
"Kakek di kamarnya, dia sedang sakit" jawab Viona.
"Sakit apa? kenapa tidak bilang sama Reva" tanya Reva cemas.
"Biasa udah tua sayang" sahut Viona.
David sudah sering sakit-sakitan apalagi umurnya sudah hampir menginjak usia 70th.
Reva menaiki tangga menuju ke kamar sang kakek, sementara Reynand di bawah bersama dengan yang lain.
Ceklek...
Reva membuka kamar kakeknya dan masuk kedalam, ia melihat sang kakek yang sedang di temani oleh Siska.
Setelah di nyatakan sembuh Siska dan David memutuskan untuk rujuk. dan keputusan itu di setujui oleh Erik dan juga Rani.
"Kakek" panggil Reva sambil berjalan menghampiri kakek dan neneknya yang ada si atas ranjang.
David dan Rani menoleh dan tersenyum saat melihat Reva datang ke kamarnya.
"Kamu datang sayang" ucap Siska.
"Iya nek" sahut Reva sambil mencium pungung tangan Siska dan David secara bergantian.
"Kakek sakit apa, kenapa ngga ngabarin Reva" omel Reva cemaa sambil memeluk kakeknya.
"Biasa sudah tua sayang, kakek hanya kecapekan" sahut David sambil mengusap kepala Reva.
"Memangnya kakek dari mana? kenapa bisa capek begitu, lain kali kakek di rumah aja tidak usah kemana-mana" oceh Reva justru membuat David dan Siska terkekeh.
"Kamu ini cerewet sekali, kakek hanya kecapekan sebentar lagi juga sembuh" sahut David sambil mencubit pipi cucunya membuat Reva nyengir kuda.
"Mana cicit nenek sayang" tanya Siska
"Ada di bawah sama papi, cicit nenek negeselin" sahut Reva.
"Kenapa ngeselin, dia kan masih kecil" tanya Siska heran.
"Gara-gara dia semua ornag jadi melupakan Reva" jawab Reva, Siska tertawa kecil ternyata cucunya merasa cemburu dengan anaknya sendiri.
"Kamu sudah punya Reynand sayang, jadi tidak usah cemburu sama Cherry" ucap Siska.
"Astaga sayang, kamu itu sekarang sudah jadi ibu-ibu, jadi tidak harus cemburu seperti itu" sahut Siska gemas dengan tingkah cucunya.
"Iya-iya" cebik Reva.
Sementara di bawah mereka sedang berebut Cherry ingin menggendongnya.
"Hubby, bawa sini Cherry nya aku ingin menggendongnya" pinta Viona.
"Tidak, aku baru sebentar menggendongnya" sahut Erik tidak mau memberikan cucunya kepada sang istri.
"Iya papi, bawa sini Ethan juga mau gendong keponakan Ethan" timpal Ethan yang juga memperebutkan Cherry.
"Kalian kenapa belebut Chelly, ini kan masih ada Gavin kalian bisa gendong Gavin" sela Gavin.
"Tidak, kamu berat" ucap Viona dan Ethan secara bersamaan.
"Belat gini Gavin tetap tampan, timbang Chelly belum bisa bicala, dia cuma bisa telsenyum" sahut Gavin.
"Tampan doang tapi tidak bisa kurus" ejek Ethan.
"Kalau Gavin kulus nanti kak Ethan kalah tampan sama Gavin" balas Gavin.
"Ngomong doang, buktikan" ucap Ethan menantang Gavin.
"Nanti saja kalau sudah besal, sekalang Gavin mau banyakin makan dulu" ucap Gavin.
🌹🌹🌹
"Ayo dad keluar, aku ingin mengenalkan seseorang sama daddy" ajak Brian.
"Siapa" tanya Reno mengerutkan dahinya.
"Seseorang yang spesial untuk Brian" jawab Brian tersenyum.
Reno menganggukkan kepalanya, dia juga penasaran dengan seseorang yang di maksud putranya.
Brian membantu daddy nya beranjak dari tempat tidur dan mendudukannya di kursi roda, Brian membawa daddy nya keluar kamar menemui Nadin.
"Kalian sudah selesai" tanya Nadin saat melihat Brian dan Reno menghampirinya.
"Sudah baby, terimakasih" jawab Brian tak lupa berterima kasih dengan Nadin.
Nadin hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Kini hati Brian merasa jauh lebih tenang setelah memaafkan daddy nya.
"Kemarilah, aku mengenalkanmu dengan daddy" pinta Brian membuat Nadin melengkah kedepan mendekat ke arah mereka berdua.
"Kenalin dad, ini Nadin calon istri Brian" ucap Brian.
"Nadin om" ucap Nadin sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan kepada Reno.
Namun Reno tak langsung menyambut uluran tangan Nadin, dia memperhatikan Nadin dari bawah hingga ke ujung kepala, Brian menghela nafas melihat daddy nya.
Ternyata daddy nya tak berubah ia masih menilai seseorang dari penampilan.
"Dad" tegur Brian membuat Reno akhirnya membalas uluran tangan Nadin.
"Kerja apa" tanya Reno.
Brian ingin menegur daddy nya namun ia urungkan karena Nadin melarangnya.
"Saya hanya membantu ayah saya om" jawab Nadin tidak menyebutkan pekerjaannya secara spesifik.
"Dad" tegur Brian yang tidak suka dengan tingkah daddy nya.
"Daddy hanya tanya Bri" sahut Reno alasan.
"Tapi bukan seperti itu caranya dad, Brian tidak suka" ucap Brian.
Nadin menenangkan Brian dengan cara mengusap lengannya.
"Ayo lebih baik kita makan siang, tadi aku sudah memasak bersama bibi" ucap Nadin mencairkan ketegangan di antara mereka berdua.
Nadin membantu mendorong kursi roda Reno dan membawanya menuju ke ruang makan.
Dengan telaten Nadin melayani Brian dan juga Reno, membuat Reno sedikit luluh saat melihat Nadin yang begitu perhatian melayani mereka berdua.
Mereka mulai menyantap makanan yang di masak oleh Nadin.
Bersambung
Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏
Happy reading guys🙏