Baby Girl

Baby Girl
S2~107



Mereka ber tujuh termasuk Cherry masuk kedalam sebuah toko yang menjual pakaian anak kecil.


Viona antusias melihat begitu banyaknya baju untuk bayi perempuan, apalagi modelnya yang lucu-lucu membuat Viona kalap. Dia mengambil banyak baju yang menurutnya lucu untuk cucunya.


"Banyak sekali mam" ucap Reynand saat melihat begitu banyak baju yang Viona pegang.


"Ini masih sedikit" sahut Viona yang masih memilih baju lagi untuk Cherry.


"Jangan gila deh mam, tubuh Cherry cuma satu, mana bisa Cherry memakai baju segitu banyaknya" ucap Reva.


"Tapi ini bagus sayang" kata Viona.


"Nanti aja mam, sayang kalau tidak ke pakai" ucap Reva.


"Baiklah," sahut Viona lesu sambil membawa semua baju tersebut ke kasir.


Setelah membayar semua belanjaan Cherry, Mereka semua keluar dari toko tersebut.


"Ayo kita makan" ajak Erik.


"No papi, kita belum shopping" ucap Ethan.


"Besok saja, kalian kan bisa shopping sendiri" ucap Erik.


"Mumpung kita ada di sini pi" kekeuh Ethan.


Erik mengalah, mereka pun masuk ke sebuah toko penjual sepatu baranded, membuat Erik menghela nafas panjang. Alamat saldo rekeningnya banyak berkurang.


Semua masuk dan memilih sepatu yang mereka sukai, bahkan Gavin juga ikut memilih sepatu untuk dirinya.


"Kamu ngapain Gav" tanya Erik saat melihat Gavin hendak mencoba sepatu yang ia pilih.


"Gavin juga mau beli sepatu papi Elik" jawab Gavin sambil mencoba sepatunya.


"Memangnya kamu bawa uang" tanya Erik menggoda Gavin.


"Pelcuma ada papi Elik kalau Gavin di suluh bayal sendili" sahut Gavin.


"Uang papi mau habis" kata Erik.


"Oh, papi Elik mau bangklut ya...kasihan sekali, Gavin ngutang dulu deh nanti bon nya kasih ke papah bial di bayal sama papa" ucap Gavin.


Erik di buat kesal dengan ucapan putra bungsu Arsen itu, bisa-bisanya dia di bilang mau bangkrut, bahkan di suruh membeli beserta tokonya pun Erik masih mampu.


"Bayar pi" ucap Reva saat sudah berada di kasir.


"Bayar mam" ucap Erik menyuruh istrinya untuk membayarnya.


"Kenapa jadi mami" protes Viona.


"Papi lagi gendong Cherry mam, susah ngambil duitnya" ucap Erik alasan.


"Kalau begitu bawa sini dulu Cherry nya biar papi bisa ambil uang" pinta Reynand.


"Tidak mau, bayar dulu mam nanti papi ganti" tolak Erik.


Karena tidak ingin terus ribut di depan kasir akhirnya Viona membayar semua belanjaan Mereka.


Reva dan yang lain bersorak saat melihat maminya membayar semua belanjaannya.


"Tidak ada yang geratis kalian harus mencicilnya. Untuk kamu Ethan, harus di potong uang jajan kamu untuk mencicil belanjaan kamu" ucap Viona.


"Lah kenapa begitu mam" seru Ethan tidak terima dengan ucapan maminya.


"Terserah mami" ucap Viona melengang pergi begitu saja meninggalkan mereka.


Mereka menyusul Viona yang sudah berjalan lebih dulu.


"Gini banget punya mami," gerutu Ethan.


"Diam Than, begitu juga dia istri papi" ucap Erik tidak suka mendengar gerutuan Putranya.


Ethan mendengus kesal, Lalu Reva mendekati adiknya dan merangkulnya.


"Tidak usah cemberut mami hanya bercanda, mana pernah selama ini mami motong uang jajan kamu jamil" ucap Reva.


"Ethan kak bukan Jamil, enak saja ganti-ganti nama Ethan" jengkel Ethan.


"Lebih cocok Jamil dari pada Ethan, nama Ethan terlalu bagus untuk tampang kamu yang jelek" ledek Reva.


"Namanya juga anaknya," sahut Reva.


Mereka akhirnya memutuskan untuk masuk ke sebuah restoran yang ada di mall tersebut untuk makan siang.


"Kalian mau makan apa" tanya Viona.


"Apa aja mam" sahut mereka kompak.


Viona memesan beberapa menu kesukaan suaminya dan juga anak-anaknya.


"Reva" Tiba-tib ada seseorang yang memanggil Reva, dan Reva pun menoleh, dia terkejut saat tahu siapa yang memanggilnya.


"Brian" gumam Reva.


Erik dan yang lainnya juga turut menoleh keasal suara.


"Mau apa kamu kesini" tanya Reynand sambil menatap tajam kearah Brian.


Reva mengusap lengan suaminya agar tidak emosi, ia takut Reynand membuat keributan di resto tersebut.


"Tidak ada maksud apa-apa, saya kesini hanya ingin meminta maaf sama Reva." ucap Brian.


"Sudah aku maafkan Bri, dan tolong pergilh aku tidak mau terjadi keributan di sini" pinta Reva dengan penuh harap.


"Terima kasih" ucap Brian dan pamit kepada mereka semua.


ia juga tidak ingin membuat Reynand dan yang lain emosi.


"Mereka siapa? kenapa kamu meminta maaf dengannya" tanya Nadin saat sudah keluar dari restoran itu.


"Reva mantan kekasihku, dulu aku sudah menyakitinya dan membuat dia terluka" jawab Brian jujur.


Brian tidak ingin ada rahasia diantara mereka berdua, ia ingin memulai hubungan baru dengan Nadin tanpa ada yang di tutupi darinya.


"Ohh.. " sahut Nadin santai.


"Hanya itu saja?" ucap Brian heran.


"Lalu aku harus bagaimana? apa aku harus nangis dan guling-guling di sini?" sahut Nadin.


"Tentu saja tidak, yang ada kamu aku tinggalin di sini" kekeh Brian.


"Dia hanya masa lalu mu Bri, dan sepertinya dia juga menikah dan mempunyai anak, lalu untuk apa aku cemburu dengannya" ucap Nadin serius.


Brian mengangguk tersenyum, lalu merangkul bahu Nadin dan mencium puncak kepalanya.


Yang di ucapkan Nadin benar, Reva hanya masa lalunya toh dia juga sudah tidak memiliki perasaan dengannya.


"Apa masih ada yang ingin kamu beli hmm" tanya Brian.


"Tidak, ayo kita pulang" jawab Nadin.


Brian akhirnya mengajak Nadin pulang, karena mereka berdua sudah cukup lelah memutari mall itu.


***


"Kak Rey cembulu ya sama Kak Blian" Ucap Gavin tiba-tiba saat melihat wajah tak bersahabat Reynand.


"Kata siapa kak Rey cemburu, cemburu itu cuma untuk orang yang tidak percaya diri" kilah Reynand.


"Dan sekalang kak Rey sedang tidak pelcaya dili" sindir Gavin sambil cekikikan.


Reynand mendengus kesal saat di ledek adik iparnya yang tidak ada akhlak itu.


"Diam Gav, jangan sampai kamu di turunin di tengah jalan kamu" ucap Reva.


Gavin pun diam karena takut denagn ancaman kakaknya.


Setelah menyelesaikan makanya mereka pun memilih untuk pulang.


Bersambung


Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏


Happy reading guys🙏