Baby Girl

Baby Girl
BAB 92



Di perusahaan Arsen.


"Tuan, besok akan di adakan rapat pemegang saham di perusahaan Dinata, mereka akan membahas permasalahan yang ada. Apakah nyonya bisa hadir atau anda yang akan mewakilinya" terang Nino.


Arsen tersenyum puas mendengar pernyataan Nino.


"Tentu saja aku akan datang bersama nyonya, aku sudah menantikan moment ini. Siapkan dokumen yang kita butuhkan aku akan menjatuhkan mereka dengan sekali tepukan, akan aku tunjukkan kepada mereka siapa Arsen Davidson yang sebenarnya."Jawab Arsen dengan senyum licik di wajahnya.


"Baik tuan" jawab Nino.


Nino pamit undur diri untuk kembali ke ruangannya, dia akan menyiapkan berkas yang akan di bawa besok untuk meeting bersama perusahaan Dinata.


"Kalian salah mencari lawan" guman Nino sambil berlalu meninggalkan ruangan Arsen.


Ceklek...


Tak lama terdengar suara pintu ruangan Arsen terbuka. Arsen mengalihkan pandangan nya ke asal suara.


"Baby, kamu kesini kenapa tidak bilang, kalau bilang aku kan bisa menjemputmu" cerocos Arsen ketika melihat istrinya masuk kedalam ruangannya.


Arsen bangkit meninggalkan kursi kebesarannya dan mendekatii istrinya. Arsen memeluk istrinya lalu mencium bibir lembut Alisya. "Ada apa kamu kesini, baby?" tanya Arsen sambil melerai pelukannya lalu menggiring istrinya duduk di sofa.


Alisya berdecak kesal mendengar pertanyaan suaminya. "Memangnya aku tak boleh kesini ha" kesal Alisya.


"Bukan begitu baby, kalau kamu bilang mau kesini kan aku bisa menjemputmu, aku tak mau terjadi sesuatu denganmu dan juga calon anak-anak kita" ucap Arsen lembut.


Arsen takut kalau istrinya ngambek, karena akan sulit membujuknya jika sudah marah. Dia terkadang pusing dengan mood istrinya yang berubah ubah.


Arsen lebih memilih menghadapi preman jalanan ketimbang harus menghadapi mood ibu hamil.


Alisya menatap Arsen tajam, "Kamu pikir aku tak bisa menjaga calon anakku, begitu" ketus Alisya.


Arsen langsung membungkam bibir istrinya menggunakan bibirnya, hanya itu yang bisa Arsen lakukan untuk menghentikan kemarahan istrinya.


Arsen menekan tengkuk istrinya, dia memperdalam ciumannya pada bibir istrinya. Alisya mengalungkan ke dua tangannya ke leher kokoh suaminya, keduanya menutup mata sambil menikmati ciuman manis yang menenggelamkan keduanya dalam rasa cinta yang sangat luar biasa.


Seringai muncul dari balik ciuman itu, Arsen tak menyangka kalau istrinya akan bungkam hanya dengan sebuah ciuman.


Bugh


Bugh


Alisya merasa pasokan udara nya kian menipis. Alisya memukul dada Arsen lemah, Alisya butuh bernafas.


"Hah..hah..kau mau membunuhku hah" kesal Alisya seraya menghirup udara rakus, dadanya merasa sesak akibat ulah suaminya yang menciumnya terlalu lama.


Arsen mengusap bibir istrinya yang basah karena ulahnya dengan menggunakan ibu jarinya. "Maaf baby, jangan marah....aku hanya khawatir sama kamu hmmmm" ucap Arsen lembut sambil.


Alisya mengangguk kecil. "Aku dengar saham perusahaan Dinata turun drastis, apa itu ulah mu honey?" ucap Alisya mengalihkan atensi suaminya terhadap dirinya.


"Iya baby, maaf aku harus melakukan ini untuk memberi pelajaran kepada keluarga itu, aku sudah muak kepada mereka yang selalu membuat ulah" jawab Arsen dengan sorot mata tajam penuh amarah.


Alisya mengusap dada Arsen guna menetralkan emosi suaminya yang meluap.


"Kenapa kamu meminta maaf denganku honey" tanya Alisya.


Arsen menggenggam kedua tangan Alisya."Aku takut kamu marah baby" jawab Arsen.


Alisya tersenyum sambil menepuk nepuk tangan Arsen yang menggenggam kedua tangannya, "Aku tak akan marah honey, toh mereka sendiri yang memulainya bukan kita" balas Alisya.


Arsen merebahkan kepalanya di pangkuan Alisya sambil mengecupi perut istrinya. "besok kamu harus ikut denganku untuk menghadiri rapat itu baby," ucap Arsen sambil mendogak menatap wajah istrinya.


Alisya memencet mencet hidung mancung suaminya. "Kenapa harus mengajakku honey, mending aku tidur di rmah dari pada harus ketemu sama orang-orang munafik itu" sungut Alisya.


"Hai nyonya, apa kamu lupa kalau kamu mempunyai saham di sana hmm" ucap Arsen.


......................


Rapat pemegang saham akan segera di laksanakan, satu persatu pemegang saham mulai masuk kedalam ruang rapat, di sana sudah terlihat Davi, Aldrik, dan juga Erik yang duduk saling berdekatan. Mereka tinggal menunggu kedatangan Alisya dan juga Arsen.


Alisya sudah dalam perjalanan menuju ke perusahaan Dinata. Alisya sengaja datang terlambat karena tadi dia menyempatkan diri untuk menjemput Reva terlebih dahulu.


Sedangkan Arsen sudah tiba di perusahaan Dinata dengan Nino asistennya. Arsen menghubungi istrinya.


"Hallo baby, kamu dimana?" sapa Arsen begitu terdengar suaranya di telpon.


"Masih di perjalanan honey, sebentar lagi sampai" jawab Alisya dari sebrang telpon.


"Hati-hati baby, aku tunggu kamu di parkiran perusahaan Dinata" ucap Arsen. Setelah itu mengakhiri panggilannya.


Arsen sengaja tak ingin masuk terlebih dahulu, dia memilih menunggu istrinya di dalam mobil.


Ceklek....


Terdengar suara pintu terbuka, mengalihkan perhatian mereka.


"Selamat siang semuanya" sapa Arsen. Semua peserta mengalihkan pandangannya ke asal suara. Arsen masuk dengan merangkul pinggang istrinya dengan di ikuti Nino di belakang mereka.


Arsen membawa istrinya duduk di kursi yang sudah di sediakan.


"Padahal dia sudah melahirkan, tapi dia tetap cantik dan tubuh Alisya masih sangat bagus, meskipun sedang hamil."batin Erik.


Erik menatap intens kemesraan sepasang suami istri itu. Seolah Erik iri dengan


keberadaan Arsen di samping Alisya.


"Kenapa tuan Arsen ikut rapat di perusahaan ini, bukankah anda sudah menyerahkan 20% saham anda kepada istri anda" tanya salah satu pemegang saham.


Arsen tertawa sini mendengar pertanyaan bodoh yang di lontarkan salah satu pemegang saham kepadanya. "Apa kalian lupa, jika selain pemilik saham 20% perusahaan saya merupakan investor terbesar di perusahaan ini."tegas Arsen.


Arsen melambaikan tangan kepada Nino sebagai kode. "Bagikan semua dokumenya dengan mereka." titah Arsen kepada asistennya.


Mereka membuka dokumen yang di bagikan oleh Nino. Mereka tercengang melihat isi dokumen tersebut. David menatap putranya tak percaya.


Dokumen tersebut berisi tentang penggelapan uang yang masuk kedalam rekening pribadi milik beberapa para pemegang saham termasuk Erik.


Selama ini ternyata Erik menggunakan uang perusahaan untuk foya-foya.


"Apa kalian tahu kalau proyek yang mangkrak itu merupakan kerja sama dengan perusahaanku, bagaimana bisa kalian menimbulkan nama perusahaanku tercoreng. pantas saja perusahaan ini hanya jalan di tempat tidak ada kemajuan sama sekali, ternyata perusahaan ini di pimpin oleh orang-orang yang rakus akan harta dan kekuasaan. Selama ini saya sudah memberikan kelonggaran kepada kalian untuk menyelesaikan permasalahan ini, tapi nyatanya kalian malah berleha-leha dan tak mengindahkan peringatan dariku. "ucap Arsen dengan nada dingin dan sorot mata tajam menatap mereka satu persatu.


Bersambung.


Happy reading guys🙏


Hari ini janji double up😁