Baby Girl

Baby Girl
BAB 58



Tak lama setelah makan siang selesai Reva langsung terlelap di atas sofa. Karena di ruangan Alisya tidak ada ruang pribadi


"Tumben sekali dia langsung tidur baby" ucap Arsen seraya memangku Alisya seperti koala.


Alisya sudah tidak canggung lagi dengan suaminya.


"Mungkin dia lelah, kalau tidak mana mau dia tidur siang" sahut Alisya sambil menempelkan kepalanya di dada Arsen.


"Sampai kapan kau akan terus seperti ini baby? Aku harus kembali kekantor lagi" tanya nya, pasalnya dari tadi istrinya itu tak mau turun dari pangkuan Arsen. Ia menahan Arsen supaya tak kembali ke kantor.


"Sampai aku puas, salah sendiri semalam kau sudah menyiksaku hingga pagi" jawab Alisya dengan nada ketus.


Arsen terkekeh mengingat pergulatan semalam. Ia benar-benar tak membiarkan istrinya tidur hingga jam 3 pagi.


"Tapi kau suka kan baby? Kau terus menjerit memanggil namaku" Goda Arsen sambil tertawa tertahan, karena takut membangunkan Reva yang tidur di sebelahnya.


Alisya mencubit perut Arsen sambil memelototkan matanya sambil mengembungkan pipinya melihat Arsen.


Arsen yang gemas malah menguyel nguyel kedua pipi istrinya yang mengembung.


"Kau malah terlihat sangat menggemaskan baby" ucap Arsen seraya men ci umi setiap inci wajah Alisya.


Arsen sengaja tak memberi tahu Alisya tentang masalah tes DNA itu. Ia yakin kalau istrinya mampu menangani keluarga Dinata.


"Kapan restoran yang di bogor akan di buka baby" tanya Arsen sambil menyibakkan rambut istrinya ke belakang telinga.


"Kurang lebih tiga bulan lagi honey" jawab Alisya.


Alisya membeli gedung yang sudah jadi. Dia hanya tinggal merenovasinya saja sesuai konsep yang ia inginkan.


"Terus sampai kapan kau akan terus bekerja hmm" tanya Arsen.


Sebenarnya dari awal memang Arsen tak ingin melihat Alisya bekerja lagi, ia mau Alisya hanya di rumah saja sambil mengurus buah hatinya. Biarin nanti restoran Alisya orang kepercayaan Arsen yang mengelolanya.


"Nanti saja kalau aku sudah hamil" jawab Alisya. Alisya sudah terbiasa dari dulu bekerja, sehari saja tak melakukan kegiatan ia pasti akan langsung jenuh.


"Kalau begitu aku akan terus membuatnya biar kamu cepat hamil" ucap Arsen sambil memainkan kedua alis nya.


"Dengan senang hati tuan" sahut Alisya kembali menggodanya.


"Kau mulai nakal baby" ucap Arsen sambil menduselkan wajahnya di belahan da da Alisya.


Arsen membuka kancing kemeja Alisya. Terpampanglah dua daging kenyal Alisya yang masih terhalang penutupnya.


Arsen me re mas kedua daging kenyal Alisya. Tangan Arsen meraba punggung Alisya lalu membuka pengait bra nya.


"Kamu mau ngapain honey" tanya Alisya sambil menangkup wajah Arsen.


"Aku hanya ingin memainkan mainanku saja baby, salah sendiri kau menahanku di sini" jawab Arsen dengan senyum licik.


Arsen langsung memas*kan daging kenyal itu ke dalam mulutnya, ia menyu*u seperti bayi sedangkan tangannya me re mas daging kenyal yang satunya.


"Akhhh" Alisya men de sah ketika Arsen memainkan ujung da da nya dengan menggunakan lidahnya. Alisya me re mas rambut kepala Arsen.


......................


Sedangkan di luar restoran ada dua paruh baya yang sedang mencari Alisya. Bermodalkan nama yang ia tahu, mereka menanyakan nya kepada pelayan yang ada di restoran itu.


Dewi yang melihat pun langsung menghampiri kedua pria paruh baya tersebut.


"Ada yang bisa kami bantu tuan" sapa Dewi.


"Saya mencari perempuan yang bernama Alisya, sebelumnya saya pernah bertemu dengannya di sini" jawab pria itu yang tak lain David dan Aldrik yang ingin menemui Alisya.


"Alisya mana yang anda maksud tuan," tanya Dewi ingin memastikan siapa sebenarnya yang mereka cari.


"Saya ingin mencari Alisya pelayan di restoran ini" jawab David.


"Maaf tuan, setahu saya yang namanya Alisya di sini itu bukan pelayan, melainkan pemilik restoran ini" tutur Dewi jujur.


David dan Aldrik saling tatap. Mereka bingung dengan orang yang ia cari.


"Ngapain juga saya bercanda sama anda tuan, kenal saja tidak" ketus Dewi memutar malas bola matanya.Orang ini bertanya giliran di jawab malah membentaknya.


"Kamu jangan main-main ya, kamu tak tahu siapa saya hah" hardik Aldrik yang merasa di permainkan.


"Saya tidak ingin tahu tuan. Sebenarnya apa mau anda" tantang Dewi tanpa rasa takut. Selagi benar Dewi tidak akan pernah takut.


"Panggilkan perempuan yang bernama Alisya. Kita ingin bertemu" titah Aldrik tanpa bantahan.


"Duduklah dulu tuan, tak baik kelamaan berdiri buat orang tua seperti anda" ujarnya menyindir Aldrik. Ia tak pernah suka dengan orang yang sok berkuasa.


Dewi langsung pergi meninggalkan kedua paruh baya itu, ia berjalan menuju ruangan Alisya.


Tok


Tok


Tok


Alisya yang di dalam langsung menahan kepala Arsen yang masih nyu*u di da da nya.


"Berhenti dulu honey, sepertinya ada yang mengetuk pintu" ucap Alisya seraya turun dari pangkuan Arsen. Ia buru-buru merapihkan bajunya kembali.


Setelah itu ia membukakan pintu yang tengah ia kunci sebelumnya.


"Ada apa mbak" tanya Alisya.


"Ada dua pria paruh baya yang sedang mencarimu, ia sedang menunggumu di depan" jawab Dewi. Alisya mengeryitkan dahinya, dia merasa sedang tak membuat janji dengan siapapun....terus siapa yang mencarinya.


"Baiklah, sebentar lagi aku akan ke depan" ucap Alisya. Alisya masuk terus pamit kepada suaminya.


"Honey aku kedepan sebentar ingin menemui seseorang" ucap Alisya meminta ijin sama Arsen.


"Siapa baby" tanya Arsen.


"aku juga tidak tahu honey, makanya aku akan menemuinya dulu" jawab Alisya.


"Apa perlu aku temani hmm" ujarnya.


"Tak perlu. Tak usah khawatir honey di depan banyak orang kok" sahuy Alisya. Arsen pun mengangguk.


"Kalau ada sesuatu suruh karyawanmu kesini untuk memberi tahuku" tutur Arsen.


Alisya beranjak meninggalkan ruangannya, ia berjalan menghampiri orang yang ingin bertemu dengannya.


"Mana orang nya mbak" tanya Alisya ke pada Dewi setelah tiba di depan.


"Itu Al" jawab Dewi seraya menunjuk ke arah kursi yang di duduki David dan juga Aldrik.


Alisya melihat dengan seksama kedua wajah itu, ia merasa familiar dengan kedua wajah itu. Berkecimpung di dunia bisnis membuat Alisya tahu sosok David yang terkadang muncul di majalah bisnis yang Alisya baca.


"Bukankah itu ayah Erik" tebak Alisya.


Alisya mencoba memberanikan diri menghampiri mereka berdua. Dia bertekad akan melawan orang-orang yang berani menindasnya, apa lagi sekarang Alisya sudah mempunyai suami yang akan siap membantunya jika ia dalam kesulitan.


"Selamat siang tuan, saya Alisya...ada yang bisa saya bantu" tanya Alisya sambil sedikit membungkukan tubuhnya sebagai tanda hormat kepada mereka yang lebih tua darinya.


"Duduklah, ada yang ingin kita bicarakan denganmu" titah Aldrik.


Bersambung


Jangan lupa


Like


Komen


Vote


Happu reading guys🙏