
"Untuk lebih memastikan saya akan melakukan USG terlebih dahulu" ucap dokter.
"Apa istriku benar-benar hamil dok" tanya Reynand penasaran, dia berharap istrinya benar-benar hamil.
"Kemungkinan iya tuan, untuk lebih jelasnya lebih baik kita lakukan USG dulu" sahut dokter tersenyum.
"Iya dok cepat USG, saya sudah penasaran ingin tahu hasilnya" sahut Reva begitu antusias.
Dokter tersenyum melihat tingkah Reva yang menurutnya lucu.
Lalu dokter mengoleskan gel ke perut Reva, dan menempel transducer (alat USG) ke perut Reva.
"Selamat tuan, nyonya, sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua" ucap dokter tersenyum seraya menatap layar monitor yang memperlihatkan kantung janin.
"Huwwwa....mommy, Reva sebentar lagi mau jadi seorang ibu" sorak Reva girang namun matanya mengeluarkan air mata haru.
Renata dan Cia langsung memeluk Reva yang masih berbaring di atas brankar.
"Yeee....Cia sebentar lagi bakal jadi aunty" sorak Cia setelah melepaskan pelukannya, dia loncat-loncat seperti anak kecil.
Berbeda dengan Reynand yang masih mematung, dia masih belum percaya kalau sebentar lagi bakal jadi seorang ayah.
"Honey, kenapa kamu diam aja, kamu tidak senang melihat aku hamil?" tanya Reva raut wajahnya berubah sendu.
Dia mengira kalau suaminya tidak suka dengan kehamilannya, pasalnya sejak tadi suaminya hanya diam mematung.
Plakkk...
Cia memukul bahu kakaknya dan membuat Reynand tersadar.
"Kak Rey kenapa diam saja, apa kak Rey tidak senanh dengan kehamilan kak Reva" ucap Cia.
"Hamil" lirih Reynand.
Membuat mereka bertiga menepuk keningnya melihat Reynand yang belum juga sadar.
"Iya kak Reva hamil" sahut Cia.
"Hiksss..hiksss....sayang kamu hamil" ucap Reynand menangis sambil melangkahkan kakinya menghampiri istrinya.
Dia menangis sambil memeluk Reva, dia menangis haru karena sebentar lagi dia akan jadi seorang ayah.
"Iya honey aku hamil, kita berhasil membuatnya" sahut Reva sambil menepuk-nepuk punggung suaminya.
"Kita tidak sia-sia selama beberapa bulan ini terus begadang sayang" ucap Reynand sambil mengecupi setiap inci wajah istrinya.
Dokter, Cia, serta Renata membuang wajahnya ke arah lain, mereka merasa malu mendengar obrolan sepasang suami istri itu.
"Khemm" dehem Renata menyadarkan mereka, kalau di ruangan ini tidak hanya ada mereka berdua.
"Hehehe....Maaf semua, kita memang selalu romantis" ucap Reva cengengesan.
Cia dan Renata merotasi bola matanya malas, mereka berdua memang sering bermesraan dimana pun berada.
Usai menyelesaikan pemeriksaannya mereka berempat mendengarkan nasihat dari dokter.
"Usia kandungan nyonya Reva sekitar 4 minggu, kehamilan di trisemester pertama itu masih rawan dengan keguguran, jadi usahakan jangan terlalu lelah, dan jangan mengangkat yang berat-berat, karena itu akan membahayakan kandungan anda, dan juga jangan lupa jaga pola makan, karena asupan nutrisi yang baik selama hamil itu sangat di perlukan untuk membantu calon bayi tumbuh dan berkembang.
Selain itu asupan nutri yang cukup juga membantu wanita hamil menjalani masa-masa kehamilannya dengan sehat. Oleh karena itu pola makan seimbang harus selalu di perhatikan." ucap dokter panjang lebar.
"Lalu apa kami masih bisa melakukan hubungan suami istri dok" tanya Reva membuat dokter menahan tawa.
Biasanya yang bertanya seperti itu suaminya, tapi ini malah istrinya.
"Boleh, asal dengan lembut" sahut dokter.
Reva manggut-manggut tanda mengerti.
"Kau membuatku malu sayang" bisik Reynand di telinga Reva.
"Tidak usah malu honey, kita kan suami istri jadi tak masalah kalau bertanya seperti itu, memangnya kamu mau puasa sampai 9 bulan" sahut Reva.
"Tentu saja tidak" seru Reynand.
Ia tak bisa membayangkan nasib tongkat saktinya kalau harus puasa sembilan bulan tanpa menyentuh istrinya, bisa-bisa tongkat saktinya karatan karena tidak pernah di asah.
🌹🌹🌹🌹
Sampai di rumah mereka berempat langsung di sambut Reagan yang kesal karena di tinggal sendirian di rumah.
"Kami dari rumah sakit dad, sebentar lagi daddy bakal jadi opa" sahut Cia girang.
"Hah opa?" Kaget Reagan.
"Iya dad, kak Reva sedang hamil sekarang" jelas Cia memberitahu daddy.
Reagan tersenyum, lalu berjalan menghampiri putranya dan memeluknya.
"Selamat boy, sebentar lagi kamu akan jadi seorang ayah" ucap Reagan.
"Terima kasih dad" sahut Reynand tersenyum sambil membalas pelukan sang daddy.
Kini Reagan giliran memberi selamat kepada Reva. Dia senang karena sebentar lagi akan menjadi opa.
"Terima kasih sayang sudah mau mengandung keturunan Addison, dan selamat sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu" ucap Reagan sambil memeluk menantunya dengan sayang.
"Iya dad sama-sama" sahut Reva.
Mereka berdua mengurai pelukannya.
"Kita harus kerumah Arsen untuk memberikan kabar bahagia ini" ucap Reagan.
"Iya kita harus kasih tahu kabar gembira ini, mommy akan menghubungi Viona juga untuk datang ke rumah Alisya" sahut Renata.
Sebelum pergi ke rumah Arsen, Renata menyempatkan untuk menghubungi Viona terlebih dahulu.
🌹
Tiba di rumah Arsen mereka berlima langsung saja masuk kedalam, terlihat di sana sudah ada Viona dan Erik juga.
"Ada apa kamu menyuruhku datang kesini Ren" tanya Viona saat melihat mereka masuk ke rumaj Arsen.
"Tau nih, pagi-pagi sudah bikin rumahku ramai aja" kesal Arsen.
Reagan berdecak kesal dengan sepupunya itu, memangnya apa salahnya kalau rumahnya ramai, bukannya malah menyenangkan pikirnya.
"Aku ada kabar bahagia untuk kalian" ucap Renata.
"Apaan? Jangan bikin kita penasaran" sahut Alisya tak sabaran.
"Sebentar lagi kita akan jadi oma" ucap Renata tersenyum.
"WHAT!" pekik Arsen dan Erik secara bersamaan.
Berbeda dengan respon istrinya yang bahagia kedua ayah Reva itu justru menatap Reynand tajam
Gluk.
Reynand menelan salivanya kasar melihat tatapan tajam dari kedua mertuanya itu.
"Matilah aku" batin Reynand.
"Kau menghamilinya Rey" ucap Arsen menatap tajam menantunya.
"Iya pah" sahut Reynand.
"Kenapa kamu menghamilinya, kamu kan sudah janji sama papah kalau tidak akan membuat anak terlebih dahulu" ucap Arsen tak terima.
"Memang salah Rey apa, kan Rey menghamili istri Rey sendiri, lagian Rey tidak pernah janji seperti itu" ujar Reynand tak mau di salahkan.
Arsen hanya diam tak berani protes lagi karena istrinya menatapnya tajam.
"Lalu kalau sudah begini bagaimana, Reva masih terlalu kecil untuk hamil Rey" ucap Erik yang dari tadi diam akhirnya buka suara.
"Reva sudah besar pi, buktinya Reva sudah bisa bikin dedek bayi" sahut Reva membuat Erik menghela nafas, semenjak hamil putrinya itu makin vulgar bicaranya.
"Ada apa ini, kenapa libut-libut" tanya Gavin yang baru saja datang.
"Ada kabar bahagia Gav, sebentar lagi kamu akan jadi om kecil" jawab Reva.
Gavin menatap Reva sambil mengeryitkan dahinya, dia tidak tahu apa yang di maksud dengan dirinya yang akan menjadi om kecil.
Bersambung
Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏