
"Ho-ney" gumam Reva dalam tidurnya.
Reynand menatap istrinya, ia seperti mendengar suara istrinya memanggilnya, tapi Reynand mencoba menepis pikirannya, ia mengira dirinya hanya halusinasi.
"Sayang.. " lirih Reva.
Kali ini Reynand yakin kalau dirinya tidak salah dengar. Lantas Reynand menunduk dan menempelkan kuping nya ke dekat bibir istrinya, ia ingin meyakinkan sekali lagi kalau pendengarannya tidak salah.
"Sayang" ucap Reva membuka matanya.
"Sayang kamu bangun" ucap Reynand memeluk tubuh istrinya dan mengecupi wajah pucat Reva.
"Baby mana, hikss.... " tanya Reva menangis.
"Baby nya ada di rumah mamah sayang, nanti di bawa kemari sama Rachel" jawab Reynand sambil mengusap air mata istrinya.
"Aku mohon jangan seperti ini lagi sayang, aku takut kamu meninggalkanku sendirian di Dunia ini" lirih Reynand di ceruk leher istrinya.
"Maaf sayang, maaf sudah membuatmu takut" ucap Reva mengelus rambut suaminya sayang.
Reva bisa merasakan bahu suaminya yang bergetar, sepertinya suaminya sedang menangis. dia merasa bersalah karena sudah membuat khawatir semua orang, terutama suaminya.
Reynand melerai pelukannya dan menatap dalam wajah istrinya, wanita di hadapannya ini selalu saja membuat hidupnya seperti naik roller coaster.
tapi saat ini dia sudah bisa bernafas lega melihat istrinya sudah sadar.
"Kangen honey" rengek Reva sambil merentangkan tangannya minta di peluk.
"Makanya tidurnya jangan lama-lama, jadi kangen kan" ucap Reynand memeluk istrinya.
"Masih ada yang sakit ngga" lanjut Reynand menanyakan keadaan istrinya.
"Tidak honey, cuma masih lemas saja" sahut Reva yang masih ada di dekapan suaminya.
Reynand menempelkan bibirnya ke bibir pucat Reva, dan me lu mat nya dengan lembut, setelah cukup lama melepas kangen Reynand akhirnya melepas tautan bibirnya.
"Haus" ucap Reva manja.
Reynand mengambilkan minuman untuk Reva dan memberikannya. Setelah Reva minum Reynand menaruh kembali gelasnya diatas nakas.
"Anak kita laki-laki atau perempuan, honey" tanya Reva.
"Perempuan sayang, dia cantik seperti kamu" jawab Reynand sambil merapihkan rambut istrinya yang berantakan.
"Siapa namanya" tanya Reva lagi.
Namun Reynand tak menjawabnya, dia bingung mau jawab apa, karena dia belum memberikan nama pada putrinya itu.
"Kenapa diam, jangan bilang kamu belum memberikan putriku nama" desak Reva menatap Reynand tajam.
Reynand menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Aku belum sempet memberikannya nama sayang" ucap Reynand alasan.
"Alasan, atau jangan-jangan mimpiku itu benar, tadi seperti ada yang mengatakan sesuatu di telingaku, katanya kamu mengabaikan putriku dan tak mau melihat putriku" cerocos Reva.
Kedua mata Reynand membulat, ternyata yang di bisikan adik iparnya itu sampai ke otak istrinya, dia merutuki Rachel yang sudah menjelekan dirinya kepada istrinya
"Tidak sayang, itu hanya alam bawah sadar saja, mungkin karena terlalu lama koma" ucap Reynand di balas anggukan oleh Reva.
Dia percaya saja, nyatanya memang dirinya koma dan tak ingat apa-apa.
"Lalu ini kenapa? kenapa wajahmu babak belur seperti ini" tanya Reva yang baru memperhatikan wajah memar suaminya.
"Tadi habis berantem sama copet di depan rumah sakit" jawab Reynand bohong, bisa panjang urusannya kalau dia bilang habis di gebukin Rachel.
Reva mengangguk percaya, dia seperti orang yang sedang terkena hipnotis, hanya mengangguk-angguk saja.
"Mana putriku, kenapa mereka lama sekali sampai kesini nya honey" rengek Reva tak sabaran, ia ingin segera melihat putrinya.
"Sabar sayang, mungkin sedang di perjalanan" sahut Reynand.
🌹🌹🌹
"Mamah... papah... " teriak Rachel memanggil orang tuanya.
"Kak Lachel belisik, nanti bayi Chelly" Gavin bangun" tegur Gavin.
"Ini lihat, muka adek bayina melah sepelti Cherry" sahut Gavin sambil menunjuk bayi Reva.
"Kamu bisa ngomong Cherry Gav" ucap Rachel tercengang.
Gavin menghiraukan kakaknya. dia malas kakak nya selalu saja mempermasalahkan dirinya yang tidak bisa mengucap huruf R dengan benar.
"Tadi kak Lachel ngapain manggil mamah" tanya Gavin mengalihkan pembicaraan.
Rachel menepuk keningnya, dia lupa mau memberitahu mamahnya tentang keadaan Reva.
"Terus dimana mamahnya" tanya Rachel.
"Di dapul, sedang membuat kopi untuk papah, kalau papah di luang ..," belum juga Gavin menyelesaikan ucapannya Rachel sudah lebih dulu lari ke dapur mencari mamahnya.
Gavin hanya menggelengkan kepalanya dan kembali menjaga keponakannya, dari tadi tidak sedikit pun Gavin beranjak dari samping keponakannya, bocah kecil itu seperti mendapatkan mainan baru.
"Mamah" panggil Rachel dengan nafas ngos-ngosan seperti habis lari marathon.
"Ada apa Chel" tanya Alisya heran.
"Cepat mah kita ke rumah sakit, tadi kata dokter kak Reva sudah melewati masa kritisnya, dan sebentar lagi akan sadar, bisa saja saat ini kak Reva sudah sadar" ucap Rachel heboh.
Alisya langsung meninggalkan kopinya begitu saja, dia menarik tangan putrinya dan berteriak memanggil suaminya.
"Pah...papah"
"Mamah percuma teriak-teriak, ruang kerja papah kan kedap suara" ucap Rachel.
"Oh iya mamah lupa, ayo kita keruang Kerja papah" ajak Alisya kembali menarik tangan putrinya menaiki tangga menuju ke ruang kerja suaminya.
Rachel pusing di tarik kesana kemari sama mamahnya. mamahnya itu antusias sekali mendengar kabar kakaknya.
Ceklek....
Tanpa permisi Alisya langsung membuka pintu ruang kerja suaminya.
"Pah cepat kita ke rumah sakit pah, Reva sudah sadar kata Rachel, cepat pah cepat" Ucap Alisya heboh.
Arsen melongo, dia loading sebentar.
"Mamah ini ngomong apa" tanya Arsen bingung.
"Reva sadar pah, cepat kita ke rumah sakit" ucap Alisya.
"Hah, Reva sadar" pekik Arsen terkejut.
"Ayo cepat mah kita ke rumah sakit" ucap Arsen tak kalah heboh dari istrinya.
Arsen menggandeng tangan istrinya dan berjalan keluar dari ruangannya.
Rachel sampai berlari kecil untuk menyamakan langkah kedua orang tuanya.
"Bawa baby nya sayang" titah Arsen.
Alisya mengangguk langsung menggendong bagi tersebut.
"Bayi Chelly na Gavin mau di bawa kemana" tanya Gavin tidak terima keponakannya di bawa pergi sama mamahnya.
"Jangan berisik Gav, kita mau ke rumah sakit sekarang" tegas Arsen membuat Gavin bungkam tak berani protes lagi.
Ravin dan Revan yang mendengar kegaduhan di lantai bawah pun langsung menghampiri mereka.
"Kalian mau kemana" tanya Revan.
"Mau ke rumah sakit" jawab Rachel.
"Kami ikut" ucap Revan.
Akhirnya Arsen mengajak seluruh anaknya menuju ke rumah sakit untuk melihat putrinya itu, Tak lupa Rachel juga memberi tahu kabar gembira ini kepada Erik dan juga Reagan.
Bersambung
Jangan lupa like, komen, vote, gift🙏
Happy reading guys🙏