
"Masuk " terdengar suara dari dalam yang menyuruhnya masuk.
Ceklek....Sekretaris Nino membukakan pintu untuk Erik.
"Masuklah tuan, beliau sudah menunggu anda di dalam" titah sekretaris Nino.
Erik masuk ke dalam, dan terlihat Nino sedang duduk di kursinya dengan tumpukan berkas di atas mejanya.
"Permisi tuan, Saya Erik utusan dari perusahaan Dinata" sapa Erik lalu memperkenalkan diri.
Nino menegakkan wajahnya menatap siapa yang datang, lalu di bangkit dari tempat duduk nya menghampiri Erik yang sedang berdiri.
"Silahkan duduk tuan, Saya Nino asisten tuan Arsen" ucap Nino.
"Oh, maaf, apa saya bisa bertemu dengan CEO nya langsung" tanya Erik yang sangat penasaran dengan sosok pemilik perusahaan Global Group.
"Tidak ! Karena beliau sedang tidak ada di negara ini, " tegas Nino dengan wajah dingin, ia sengaja tak memberi tahu keberadaan Arsen kepada Erik. Sesuai perintah Arsen kepadanya kalau identitas dirinya belum mau di publis.
"Asistennya saja serem begini, apa lagi atasannya" batin Erik yang melihat wajah dingin Nino.
Nino memang tak beda jauh dengan Arsen, ia selalu dingin dan datar jika berhadapan dengan rekan bisnisnya. Karena itu sudah menjadi ciri khas petinggi perusahaan Global Group yang terkenal sulit di dekati.
"Baiklah tuan, saya kesini ingin mengajukan kerja sama dengan perusahaan Dinata" ucap Erik sambil menyodorkan proposal yang sudah ia siapkan.
Nino menerimanya, ia membaca dengan begitu teliti, ia tak mau ada yang terlewat yang nantinya akan membuat perusahaanya merugi.
Setelah beberapa lama mereka pun selesai dengan pembahasannya. Wajah Erik terlihat berbinar dan tersenyum puas karena penawaranya telah di setujui oleh perusahaaan Global Group.
"Baiklah kita akhiri pembahasan ini, lusa anda kesini lagi untuk tanda tangan kontrak" ucap Nino lalu mejabat tangan Erik.
"saya permisi tuan" pamit Erik.
Kebetulan waktu juga udah menunjukan jam makan siang, Erik ada janji makan siang dengan Viona.
Sedangkan di bawah seorang gadis kecil memasuki gedung perusahaan Global Group dengan terus mengomel, karena Arsen tak menjemputnya dia di jemput oleh sopir yang sudah di tugaskan oleh Arsen.
"Cepat pak, Leva halus tetemu papa" ucap Reva sambil menarik tangan sang sopir.
Sang sopir mengelus dada nya sabar, dari tadi di sepanjang jalan nona kecilnya terus saja mengomel, padahal dia sudah bilang kalau tuannya sedang banyak kerjaan.
Sebenarnya bukan sibuk, Arsen malas saja nanti pas dia turun malah ketemu Erik di bawah. Makanya dia menyuruh sopir untuk menjemput Reva.
Bugh
Tubuh Reva jatuh terduduk karena di tabrak seseorang, orang itu adalah Erik yang baru saja keluar dari lift sambil menerima telpon dari Viona, sehingga dia tidak terlalu memperhatikan jalannya.
Erik menghentikan jalannya karena merasa menabrak seseorang. Erik mematung menatap anak kecil yang ia tabrak, wajahnya begitu mirip dengannya.
"Aduhhhh..." ringis Reva sambil berusaha berdiri lalu menepuk nepuk bokongnya yang sedikit sakit.
"Non Reva tidak apa-apa kan non" panik sang sopir, namun tidak dapat jawaban dari Reva. Reva mengangkat wajahnya melihat siapa yang menabrak nya.
Wajah juteknya mode on.
"Om talau dalan patai mata, janan cambil telpon bial nda nablak Leva, nda tau apa Leva lagi tesel malah di tablak-tablak" omel Reva kepada Erik. Erik masih menatap Reva tanpa menyahuti omelan Reva kepada dirinya.
"Apa liat-liat, mau matana di tolok cama Leva" sentak Reva yang menyadarkan Erik.
Karyawan yang di situ menahan tawa karena melihat Erik yang di omeli anak kecil, mereka merasa gemes dengan wajah Reva yang terus mengomel.
"Eh maaf girl, om gak sengaja" ucap Erik menundukan tubunya mendekati Reva, Reva yang merasa di dekati oleh orang asing pun langsung mundur beberapa langkah ke belakang.
"Aku seperti merasa dekat dengan gadis kecil ini, hatiku merasa menghangat ketika melihat tatapan matanya, tapi aku tak mengerti perasaan apa yang aku rasakan." batin Erik
Erik ingin mengelus puncak kepala Reva namun tangan nya langsung di tepis Reva.
"Janan pedang-pedang" tolak Reva dengan wajah juteknya.
Lalu Reva menarik kembali tangan sopirnya.
"Ayo pak tita halus segela temui papa" ajak Reva kepada sopirnya, Akhirnya mereka berdua memasuki lift dan meninggalkan Erik yang masih di tempatnya.
"Dia bilang papa, memangnya siapa papanya" tanya Erik dalam hatinya.
Tak mau terus bertanya-tanya Erik memilih keluar dari perusahaan tersebut dan bergegas menemui Viona.
Tapi di dalam mobil Erik terus memikirkan pertemuannya dengan Reva. Ada rasa yang berbeda di dalam hatinya.
Brakkk
Arsen yang sedang rebahan di sofa pun terlonjak kaget karena suara dobrakan pintu dari luar.
"Maaf pak" ucap sopir yang merasa tak enak, Arsen pun mengangkat tangan nya tanda tak apa-apa, kemudian sopir itu pamit dari ruangan itu.
"Katana Cibuk, telnyata malah enak tidul-tidulan di cini. Tenapa papa nda jemput Leva" omel Reva sambil berkacak pinggang.
Arsen bangkit dari sofa, kemudian menyandarkan tubuhnya di meja sambil tersenyum lebar menatap Reva yang sedang mengomel, sebelum nya Arsen sudah menebak kalau putrinya pasti akan ngomel.
"Tenapa papa teltawa, papa sedang ejek Leva ya" ucap Reva sambil memicingkan matanya.
Arsen mencoba menghentikan tawanya, hidup Arsen berwarna semenjak kenal dengan Reva, sebelumnya tidak ada yang berani memarahi dirinya kecuali bundanya, tapi sekarang bertambah orang yang berani memarahi dirinya.
"Kamu masuk ke ruang papa bukannya salam malah marah-marah" tegur Arsen dengan wajah galak yang di buat-buat. Reva cengegesan karena merasa salah.
"Maap papa Alsen yang danteng, Leva cedang sebel jadina Leva lupa" ucap Reva beralasan.
"Alasan saja kamu, sini peluk papa" ucap Arsen. Reva pun berlari menghambur ke pelukan Arsen.
...****************...
Sedangkan di ruang ViP di sebuah restoran Erik dan Viona sedang terlibat pembicaraan yang serius, lusa mereka akan melangsungkan acara pertunangan nya yang akan di gelar di hotel mewah.
"Kapan perusahaanmu akan berinvestasi ke perusahaan Dinata" tanya Erik to the point.
"Kau datang saja besok ke kantorku, sekalian membawa proposal kerja sama, tetap harus ada prosedurnya bukan" jawab Viona.
Bisnis tetaplah bisnis, Viona tidak mau menginvestasikan uangnya ke perusahaan Erik secara cuma-cuma.
"Ternyata dia bukan cewek yang bodoh, dia tetap memperhitungkan semuanya" batin Erik.
"Baik besok aku akan menemuimu di kantor" ucap Erik.
Tiba-tiba Viona merapatkan tubunya ke tubuh Erik, Viona menempelkan gundukannya di lengan Erik, Erik menelan salinvanya karena merasakan daging kenyal yang menempel di lengannya.
Sedangkan tangan Viona sibuk memainkan kancing kemeja Erik, dan sesekali mengusap dadanya.
"Jangan di sini Viona, ini masih di restoran" ucap Erik dengan suara beratnya yang sudah menahan gaejolak gairah di tubuhnya.
"Bukankah kita sudah biasa melakukannya di mana saja hmm" sahut Viona dengan suara yang di buat mendesah. Sedangkan tangan nya sudah mengusap bagian bawah milik Erik.
Erik yang sudah tidak tahan langsung saja menarik tubuh Viona dan membawanya ke atas pangkuannya. Erik langsung mencumbu Viona dengan begitu liar.
Dan terjadilah adegan iya iya.😂
Bersambung
Happy reading guys🙏
Jangan lupa
Like
Koment
Vote