
"Selamat atas kelahiran putramu Rani, semoga jadi anak yang soleh" ucap Alisya setelah memasuki ruangan tersebut.
"Amin, terima kasih sudah mau menjenguk ku Al" balas Rani.
Alisya duduk di kursi dekat ranjang Rani.
Sedangkan Reva dan Reynand langsung melangkah cepat mendekati box bayi, mereka menatap dengan binar bayi Rani yang ada di dalam box. Sesekali Reva menoel noel pipi lembut bayi tersebut.
"Liat Ley adik bayina telsenyum" pekik Reva kegirangan ketika melihat anak Rani tersenyum dengan mata terpejam.
"Iya Leva, adik bayina lucu" sahut Reynand antusias. "
Mereka berdua terus menempel di box bayi tersebut, seolah enggan untuk beranjak dari sana.
"Onty dedek bayina lucu, boleh nda Leva kalungin, mau Leva bawa pulang" ceplos Reva tertawa cekikikan.
Gilang dan Rani tercengang mendengarnya. Sedangkan David terkekeh, cucunya agak lain memang.
"Enak saja, itu anak onty manusia bukan barang bekas" sahut Rani.
Alisya meringis mendengar ucapan putrinya.
"Maaf Rani, dia kalau ngomong memang suka asal" ucap Alisya tak enak.
"Kamu ini kenapa Al, aku tahu kalau putrimu hanya bercanda" balas Rani tersenyum sambil mengelus lengan Alisya.
Alisya belum terbiasa dengan keluarga Dinata, jadi dia takut kalau ucapan putrinya menyinggung perasaan mereka.
"Onty nama dedek bayina siapa" tanya Reynand.
"Barra zayyan Prawira," bukan Rani yang menjawab melainkan Gilang. Mereka mengangguk puas mendengar nama bayi tersebut.
"Dedek Balla" ucap mereka bersamaan.
Gilang menepuk keningnya, nama bayinya berubah di mulut mereka.
Anak Rani mengikuti marga keluarga Gilang, bukan ikut keluarga Dinata.
"Bagaimana kandunganmu Al" tanya Rani sambil mengelus perut Alisya.
Alisya tersenyum. "Tak ada masalah, mereka tumbuh dengan baik" jawab Alisya.
"Syukurlah kalau begitu, kamu pasti kesulitan ya mengandung triplet, aku satu saja rasanya nano-nano" ucap Rani.
"Untuk sementara sih masih belum kerasa, mungkin nanti kalau sudah besar baru terasa, apa lagi nanti akan jauh lebih besar dari kandungan normal" ujar Alisya.
Rani bisa merasakan kecanggungan Alisya di tengah-tengah keluarganya. Makanya dia berinisiatif mengajaknya ngobrol terlebih dahulu. Rani memakluminya karena Alisya masih asing dengan keluarganya.
Tiba-tiba pintu ruang rawat Rani terbuka, dan ternyata Arsen yang datang ingin menjemput keluarganya.
Kedatangan Arsen menarik perhatian semua orang yang ada di ruangan tersebut.
"Honey, kamu sudah datang" tanya Alisya.
"Iya baby" jawab Arsen mencium kening istrinya tanpa menghiraukan semua orang yang ada di situ, membuat wajah Alisya merona malu.
"Papa liat, Leva bakal dapat pasukan balu, iya kan Ley" ucap Reva menunjukkan bayi Rani kepada Arsen.
"Iya, kita dapat pasukan balu untuk menyelang om Alsen" timpal Reynand.
"Nanti papa juga akan dapat pasukan baru dari mama, bahkan tiga sekaligus" ucap Arsen tak mau kalah.
"Tidak, nanti dedek bayi yang ada di pelut mama akan jadi pasukan Leva sama Ley juga" protes Reva sambil melipat tangannya di depan dada.
"Oh tidak bisa, itu anak papa jadi akan jadi pasukan papa" goda Arsen.
Reva sama Reynand langsung mendekati Alisya, lalu berucap di perut Alisya.
"Adikna kak Leva, nanti halus jadi pasukan kita ya...jangan jadi pasukan papa, kalna papa itu kejam suka hukum kak Leva sama kak Ley" ucap Reva pada perut mamanya sambil melirik Arsen tajam.
"Iya, om Alsen suka nyiksa olang" sahut Reynand.
"Sayang, kalian jangan mengajari yang tidak benar kepada adiknya ya" tegur Alisya.
"Iya mama/onty" sahut mereka berdua.
Arsen menatap mereka dengan tatapan mengejek, membuat mereka berdua geram.
"Awas saja nanti kalau sudah di lumah, Leva balas" gumam Reva.
Alisya menggelengkan kepalanya, suaminya ini tidak tahu tempat.
"Honey sudah, malu di lihatin orang....anakmu itu kalau di ladenin gak akan pernah selesai" tegur Alisya.
Arsen menoleh sambil nyengir melihat Alisya sambil garuk-garuk kepala.
Arsen membiarkan kedua perusuh itu main dengan anak Rani, Alisya melanjutkan ngobrolnya dengan Rani, dan Arsen ikut gabung dengan Gilang dan juga David membicarakan masalah bisnis.
Setengah jam kemudian Arsen mengajak keluarganya pulang, dia tak enak terlalu lama di situ, takut menganggu istirahat Rani yang baru saja melahirkan.
"Semuana Leva pulang dulu ya, nanti kalau Leva nda sibuk....Leva akan main ke lumah Onty lani" pamit Reva, lalu satu persatu dia salami.
"Hati-hati sayang" ucap David.
"Mari semua, kami pulang dulu" Pamit Alisya kepada semuanya.
...----------------...
"Kita mau kemana dulu ini" tanya Arsen setelah berada di dalam mobil.
"Ke mall honey, aku ingin beli baju hamil" jawab Alisya sambil menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
"Apa kamu tidak lelah hmm" tanya Arsen lembut sambil menciumi puncak kepala istrinya.
"Tidak, aku jenuh di rumah terus" sahut Alisya cemberut.
Arsen menunduk melihat wajah istrinya yang cemberut. "jangan cemberut baby, baiklah kita akan ke mall.....Nanti kalau sudah lelah bilang ya" ujar Arsen merangkul bahu istrinya.
Reva dan Reynand sedang sibuk dengan ipad nya, mereka tidak memperdulikan orang taunya yang sedang bermesaraan.
"Pak, kita ke mall dulu ya" ucap Arsen kepada sopirnya.
"Baik tuan" jawab sopir.
Sang sopir memutar arah laju mobilnya menuju mall sesuai permintaan tuannya. Sedangkan Max sudah ia suruh pulang lebih dulu.
Arsen bermesraan sambil mengobrol ngalor ngidul, sesekali mereka saling ledek dan tertawa. Arsen merasa hidupnya menjadi sempurna setelah menikahi Alisya, terlebih dia langsung mempunyai Reva yang sudah di anggap putrinya sendiri.
Bersyukur dia mempunyai istri yang cantik, mandiri, dan mudah di atur. Setelah menikah dengan dirinya sikap Alisya juga tetap sama, tdiak berubah menjadi wanita yang sombong dan arogan karena kekuasaan suaminya.
Tak terasa kini mereka sudah sampai di mall.
Alisya langsung mengajak suami serta anaknya memasuki toko pakaian tujuan awal Alisya.
"Pilihlah baby, aku sama anak-anak akan menunggumu di sini" ucap Arsen duduk di kursi yang di sediakan oleh toko tersebut.
"Jangan kemana-mana ya, aku hanya sebentar saja, honey" tutur Alisya. Arsen mengangguk.
Alisya mengitari setiap sudut toko tersebut untuk mencari baju yang dia inginkan. Alisya mengambil beberapa baju lalu membawanya ke kamar pas untuk ia coba.
"Honey" panggil Alisya menyembulkan kepalanya.
Arsen menoleh ke asal suara. "Kenapa hmm" tanya Arsen.
"Kesini" pinta Alisya. Arsen mengangguk.
"Kalian jangan kemana-mana ya, papa mau bantu mama dulu sebentar" peringatnya.
"Baik papa/om" sahut mereka berdua.
Arsen masuk kedalam kamar pas.
"Ada apa baby? Apa kau mau mengajakku begituan di sini hmm" tanya Arsen sambil memeluk tubuh istrinya dari belakang sambil menghadap ke kaca.
Alisya menyikut perut suaminya kesal. "pilihin honey, menurutmu mana yang bagus" ucap Alisya.
"Astaga baby, ngapain kamu pusing-pusing sih, kalau kamu mau kan tinggal ambil saja semua, uang suamimu ini tak akan habis kalau hanya untuk membelikan mu baju. bahkan toko ini saja aku bisa membelikannya untuk mu." ucap Arsen.
"Jangan sombong, di kutuk sama tuhan baru tahu rasa" ketus Alisya langsung keluar dari kamar pas meninggalkan Arsen.
Alisya membawa semua baju yang ia coba tadi ke kasir, sesuai ucapan suaminya dia akan membeli semuanya.
"Kamu Alisya kan" ucap seorang perempuan sambil menepuk bahu Alisya dari belakang.
Bersambung
Happy reading guys🙏