
Di sekolahan Reva terlihat Erik sedang menunggu Reva sambil bersandar di badan mobilnya, kebetulan hari ini Max sedang ijin tiba bisa menjaga Reva di sekolahnya.
Mungkin karena selama ini aman Arsen tak mempermasalahkan hal ini. Dan peraturan di sekolah Reva juga cukup ketat jadi Alisya dan Arsen tak terlalu khawatir.
Kelas sudah selesai, Reva dan teman-temannya keluar dari ruang kelas, Reva clingukan mencari mamanya namun yang di cari belum juga terlihat.
"Hai sayang, kamu mencari mama kamu ya" sapa Erik mendekati Reva.
Reva mundur dua langkah ke belakang.
"Om siapa?" tanya Reva.
"Om teman mama kamu sayang" jawab Erik seraya mengelus rambut panjang Reva, ada perasaan aneh di dalam hati Erik. Reva mangut-mangut tanda mengerti.
"Nama kamu siapa girl" tanya Erik lembut.
"Nama atu Leva om" jawab Reva dengan suara cadelnya.
"Mau ngga Reva ikut om beli es krim" tawar Erik mencoba membujuk Reva supaya ikut dengannya.
"Nda om, Leva mau nunggu mama" tolak Reva.
Alisya selalu mengajarkan putrinya untuk tidka ikut dengan orang asing yang tidak dia kenal.
"Mama tadi sudah menyuruh om untuk menjemputmu, mama kamu terjebak macet di jalan" bohong Erik.
Erik masih berusaha sabar karena dia tidak ingin menimbulkan kecurigaan dari pihak sekolah.
"Nda mau, talau mama nda bisa jemput Leva pasti papa yang atan jemput Leva" kekeuh Reva menolak ajakan Erik.sambil berusaha menarik tangan Reva namun di tepis langsung oleh Reva.
"Memangnya siapa papa kamu" tanya Erik sambil mengerutkan dahinya.
Sebelun Reva menjawab tiba-tiba dari arah belakang ada suara wanita yang berteriak adan meneriaki nama Erik.
"Berhenti Erik.!!
Erik menoleh melihat Alisya yang memanggil dirinya dengan nafas ngos-ngosan seperti habis lari.
"Mama....Leva tatut" panggil Reva langsung berlari memeluk mamanya.
"Masuklah ke mobil dulu sayang" titah Alisya, Reva pun patuh mengikuti ucapan mamanya maauk ke dalam mobil terlebih dahulu.
"Menjauhlah dari anakku Erik, pertahankan omonganmu yang dulu yang tidak akan mengakui anakmu sendiri" tegas Alisya dengan wajah dingin.
"Bagaimanapun juga Reva putriku dan darah dagingku, aku mempunyai hak untuk bertemu dengannya" balas Erik tak mau kalah
"Dalam mimpimu tuan, sampai kapanpun aku tak akan mengijinkanmu untuk menemuinya" tolak Alisya.
"Al, kita perbaiki semuanya dari awal, aku akan menikahimu dan kita akan membesarkan putri kita bersama-sama" mohon Erik. Alisya tersenyum sinis mendengar ucapan Erik.
"Kau sangat percaya diri sekali rupanya, bukankah keluargamu sudah mendatangiku untuk tidak mengganggu keluarga Dinata hmm, lalu apa sekarang? Kau bilang ingin menikahi. Jangan pernah menjilat ludah kalian sendiri, dan jika itu terjadi akulah orang pertama yang akan menertawakan kalian" ucap Alisya mengejek Erik. Kemudian ia berbalik meninggalkan Erik yang masih berdiri melihat punggung Alisya.
"Sial, ternyata dia benar-benar berubah, tak hanya wajahnya saja yang berubah jadi cantik, sifatnya juga berbanding balik dengan Alisya yang dulu aku kenal." gumam Erik kesal.
"Bagaimana cara nya mengambil hati gadis kecil itu, dia seperti selalu waspada terhadap orang asing yang mendekatinya. Alisya benar-benar mendidiknya dengan baik" imbuhnya.
*
*
*
Di dalam mobil.
"Reva, lain kali jangan pernah berbicara sama orang asing lagi ya sayang" Alisya memperingati putrinya.
"Iya mama, tadi om itu bilangna teman mama" adu Reva.
Alisya membawa Reva ke kantor Arsen, tadi suaminya minta Alisya untuk makan siang bersama.
Kantor Global Group.
"Permisi mbak, tuan Arsen nya ada" tanya Alisya ramah.
"Ada nyonya, tinggal naik ke atas saja langsung ke ruangannya, tuan sudah menunggu anda di ruangannya" jawab resepsionist yang sudah mendapat pesan dari Arsen.
"Terima kasih mbak" ucap Alisya tersenyum ramah.
Alisya membawa Reva naik ke ruangan Arsen melalui lift khusus CEO.
Ceklek....Alisya membuka pintu ruangan Arsen.
Terlihat Arsen yang sedang duduk fokus mengerjakan pekerjaanya sambil menatap laptop yang ada di depannya.
"Honey" panggil Alisya dengan suara lembutnya.
Arsen mengangkat wajahnya alalu tersenyum penuh kasih sayang kepada Alisya, Arsen beranjak dari tempat duduk nya lalu menghampiri istrinya.
"Kamu sudah datang baby" sapa Arsen
Arsen mengecup kening serta bibir istrinya setelah itu membawa Alisya ke sofa.
"Mana putriku baby, kenapa dia tak ikut kesini" tanya Arsen yang tak melihat Reva bersama istrinya.
"Dia langsung ke ruangan Nino" jawab Alisya sambil memeluk tubuh Arsen. Arsen mendengus kesal, bisa-bisanya putrinya tidak langsung ke ruangannya malah masuk ke ruangan Nino terlebih dahulu.
"Biarin saja honey, ada yang ingin aku bicarakan" ucap Alisya kemudian menegakkan duduknya sambil melihat wajah Arsen.
"Ada apa hmm" tanya Arsen lembut.
"Tadi Erik datang ke sekolah menemui Reva. Aku takut dia akan mencelakai Reva" adunya.
Arsen menghembuskan nafas kasar, kali ini dia sudah tak bisa main-main lagi, dia harus secepatnya membereskan keluarga Dinata.
"Persiapkan dirimu baby, kamu harus datang ke perusahaan Dinata.... Sepertinya dalam waktu dekat ini mereka akan melakukan rapat pemegang saham"
"Kita harus ambil langkah cepat sebelum Erik berani melangkah terlalu jauh" tegas Arsen menatap manik istrinya yang terlihat ada kekhawatiran.
"Tapi honey..."
"Jangan takut, aku akan menemanimu nanti, aku juga punya saham 20% di perusahaan itu, jika saham kita di satukan maka akan menjadi saham mayoritas di perusahaan itu, dan kamu bisa ambil alih kepemimpinan perusahaan itu" ucap Arsen sambil mengusap tangan Alisya.
Alisya bingung, pasalnya dia tidak ada pengalaman bekerja di satu perusahaan. Dan dengan seenaknya saja suaminya menyuruh dirinya untuk ambil alih perusahaan itu.
"Tak masalah, bukankah aku mempunyai suami Ceo, aku harus bisa memanfaatkannya bukan" ucap Alisya sambil tersenyum menggoda Arsen.
"Ini namanya azas pemanfaatan nyonya, dan kamu harus membayar mahal memperkerjakan Ceo handal sepertiku" balas Arsen sambil mencubit hidung Alisya gemas.
"Sebutkan angkamu tuan, aku akan membayarnya...Jangan lupakan blackcard yang tertata rapih di dompetku" sahut Alisya.
"Cukup kasih aku dengan dua anak yang lucu-lucu nyonya" ucap Arsen sambil tersenyum manis menatap wajah istrinya.
"Siapa takut, empat juga boleh" tantang Alisya membuat Arsen tertawa keras.
Arsen langsung menghujani Alisya dengan kecupan-kecupan singkat di seluruh wajahnya. Istrinya ini selain menggemaskan juga bisa membuat dirinya selalu berga*rah.
"Baby kenapa dadamu semakin membesar" ucap Arsen sambil mer*mas dada istrinya.
"Jangan mesum honey, kalaupun benar itu karena ulahmu yang tiap hari mer*masnya" balas Alisya.
"Tapi kamu selalu suka jika aku giniin" goda Arsen sambil terus memijitnya.
Bersambung