
Pukul 10 pagi Arsen yang sedang di kantor mendapatkan ponselnya berbunyi dan ternyata dari sekolah Gavin yang menghubunginya.
"Ya, ada apa pak?" tanya Arsen kepada kepala sekolah Gavin.
"Maaf tuan, kami hanya ingin memberitahukan kalau Gavin berkelahi, memukuli teman-temannya hingga memar" Sahut kepala sekolah.
"Baik saya akan segera kesana pak" ucap Arsen tak terlalu pusing, bukan ini saja dia di panggil ke sekolah. Dulu waktu Reva kecil juga dia beberapa kali di panggil oleh kepala sekolah.
Untuk Triplet Arsen tak sampai di panggil oleh pihak sekolah, karena mereka bertiga tidak suka berulah seperti Gavin dan Reva ketika masih kecil dulu.
Arsen tak ingin membuat istrinya pusing, jadi dia memutuskan datang sendiri ke sekolahan Gavin.
"Tolong handle pekerjaanku No, aku hasrus ke sekolah Gavin" ucap Arsep kepada sang asisten.
"Memangnya Gavin kenapa tuan?" tanya Nino.
"Biasa, dia berkelahi dengan temannya" ucap Arsen.
Nino menggelengkan kepalanya heran dengan tingkah anak bosnya itu.
Arsen langsung pergi melajukan mobilnya menuju ke sekolahan Gavin.
*
Arsen tiba di sekolahan Gavin, dia langsung mencari ruang kepala sekolah.
Setelah mendapatkannya Arsen masuk kedalam ruang kepala sekolah, Arsen melihatnya putranya berdiri dri sambil gadis kecil dan di sudut ruangan terlihat ada tiga anak laki-laki dengan penampilan yang sudah berantakan.
"Gavn tidak salah papa, Gavin cuma menolong Dhea kalena di ganggu sama meleka" ucap Gavin seolah tahu dengan tatapan sang papa.
Arsen mengalihkan pandangannya ke gadis kecil yang berdiri di samping sang putra.
"Apa benar yang di ucapkan Gavin, girl" tanya Arsen kepada sang gadis, dia percaya kalau putranya tak akan berulah kalau tidak ada yang memulainya.
"Iya uncle, tadi Dhea minta tolong sama Gavin, kalena meleka telus gangguin Dhea" ucap Dhe memberikan laporan.
Arsen mengangguk, lalu menatap ke arah kepala sekolah.
"Saya percaya dengan anak saya dan juga gadis kecil ini, tolong anda selalu awasi murid-murid anda. Kalau hal semacam ini masih terulang maka saya akan berhenti menjadi donatur di sekolahan ini" tegas Arsen.
"Tapi tuan.. "
"Ini bukan masalah biasa, apa wajar tiga anak laki-laki menganggu seorang gadis hah, anda sebagai guru harusnya mengawasi mereka dan membimbingnya ke hal yang lebih baik. Kalau ada yang tidak terima dengan ucapan saya maka suruh mereka untuk menemui saya." tegas Arsen, setelah itu membawa Gavin dan Dhea keluar dari ruangan kepala sekolah.
Tak selamanya yang babak belur itu korban, bisa saja korban membela diri dan justru membuat seorang tersangka yang babak belur.
Arsen menatap putranya bangga, ternyata cinta putrnya ke Dhea tidak main-main, bahkan ia berani melawan tiga orang sekaligus.
"Telima kasih Gavin, sudah menolong Dhea" ucap Dhea ketika mereka sudah keluar dari ruang kepala sekolah.
"No ploblem, Gavin akan selalu menjadi supel helonya Dhea." sahut Gavin sok hebat. Arsen hanya berdecih mendengar ucapan putranya itu.
Dhea mengangguk sambil tersenyum senang.
"Gavin pulang dulu ya," ucap Gavin pamit sama Dhea.
Arsen membawa Gavin pulang terlebih dahulu, setelah itu baru dia akan kembali kekantornya.
"Sayang, tadi kepala sekolah menghubungiku" ucap Alisya ketika Arsen dan putranya masuk kedalam rumah.
"Kamu tak perlu khawatir, karena aku sudah membereskanya" ucap Arsen menenangkan istrinya.
Alisya selalu khawatir ketika mendapat telpon dari pihak sekolah, ia takut anaknya kena bully seperti yang di alami Reva dulu.
"Aku kembali ke kantornya, aku masih banyak pekerjaan" ucap Arsen kepada sang istri.
"Yasudah, kamu hati-hati" ujar Alisya.
Arsen mencium kening sang istri, setelah itu baru ia kembali mengemudikan mobilnya munuju ke kantornya.
🍀🍀
Klek
Pintu di buka oleh Erik, dia langsung masuk kedalam ruangan sang putri.
"Tumben papi siang-siang kekantor Reva, ada apa?" tanya Reva kepada sang papi.
"Papi ingin mengajakmu menemui seseorang" ucap Erik dengan tatapan sendu.
"Ada apa pi? kenapa wajah papi terlihat sedih" tanya Reva sambil berjalan menghampiri sang papi.
"Ikutlah papi sayang, nanti papi akan jelaskan sama kamu" ucap Erik membuat Reva mengangguk setuju.
Reva mengambil tasnya di atas meja dan mengikuti papinya keluar dari ruangannya.
Erik membawa Reva pergi menuju ke suatu rumah sakit khusus orang-orang yang mengalami gangguan mental.
*
Mereka berdua tiba di rumah sakit tersebut, Erik langsung mengajak Reva masuk kedalam rumah sakit, sepanjang perjalanan Reva terus memegangi lengan sang papi karena takut ada beberapa pasien gangguan jiwa yang menatapnya.
"Kenapa kita kesini sih pi? papi tidak akan memasukkan Reva kesini kan" tanya Reva.
"Sembarangan kalau ngomong, mana mungkin papi mau masukin putri papi kesini" seru Erik.
Putrinya memang terkadang suka berpikir konyol, mana mungkin Erik tega memasukkan putri kandungnya ke rumah sakit jiwa.
Erik membawa Reva kesebuah ruangan.
Klek...
Erik membuka pintu terlihat semua keluarga Erik sudah ada di situ, termasuk David.
Reva melihat satu pasien yang seumuran dengan sang kakek sedang berbaring di brankar dengan posisi tak sadarkan diri, entah koma atau sedang tidur Reva tidak tahu.
"Dia siapa pi" tanya Reva penasaran.
"Kemarilah sayang" pinta David menarik lengan Reva pelan. Hingga kini Reva sudah berdiri di sisi ranjang.
"Dia nenekmu sayang, dia mantan istri kakek dia di nyatakan mengalami gangguan jiwa setelah keluarga kami mengalami bangkrut" ujar David menceritakan semuanya ke Reva.
Pagi tadi keluarga Erik mendapat kabar dari rumah sakit, mereka mengatakan kalau sakit yang di derita Siska semakin parah.
Erik langsung mendatangi putrinya dan mengajaknya ke rumah sakit, memang selama ini mereka belum memperkenalkan Siska kepada Reva.
"Maafkan papa sama mama Kek, sudah membuat nenek mengalami gangguan jiwa" ucap Reva sambil mengusap sisa air matanya yang menetes di pipinya.
"Orang tuamu tidak salah sayang, ini murni kesalahan kami yang terlalu tamak akan harta" sahut David, dia tak mau Reva salah paham dan menyalahkan kedua orang tuanya.
"Apa sekarang nenek sedang tertidur?" tanya Reva penasaran.
"Tidak, nenekmu mengalami koma, sudah dua hari ini dia tak sadarkan diri" Sahut david.
Reva mendudukan tubuhnya di sisi ranjang, ia mengusap wajah sang nenek yang sudah terlihat tirus dan keriput.
"Nenek, Reva sudah datang" ucap Reva dengan bibir bergetar menahan tangis.
Ia sedih karena baru sekarang dia mengetahui keberadaan neneknya, apalagi kondisi sang nenek yang sudah tak sadarkan diri.
"Kenapa baru sekarang papi? kenapa papi baru memberitahu Reva sekarang dengan kondisi nenek yang sudah tak sadarkan diri seperti ini, bahkan untuk menegenali Reva saja sudah tidak bisa" tanya Reva kepada sang papi sambil meneteskan air matanya.
Erik maju mendekati putrinya, lalu memeluk putrinya sambil memejamkan matanya agar air matanya tak menetes.
Bukan tak mau memperkenalkannya kepada sang putri, Erik hanya bingung karena kondisi mommynya masih belum sembuh seperti dulu.
Bersambung
Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏