
"Sudah ya, lebih baik kita ajak anak-anak untuk pergi dari sini" saran Arsen setelah melepaskan pelukan nya. Alisya mengangguk patuh, ia tak mau kalau Erik melihat keberadaan Reva, Alisya takut akan membahayakan Reva, mengingat Erik yang masih membenci dirinya.
"Tapi bagaimana kalau Erik mengetahui kalau Reva putrinya" ucap Alisya.
"Kau tak mungkin bisa menyembunyikan ini selama nya Al, suatu saat pasti semua nya akan terbongkar, Reva semakin besar juga pasti bakal menanyakan sosok ayah nya. Jadi mulai sekarang kuatkan mentalmu untuk menghadapi kemungkinan buruk yang akan terjadi nanti, jangan merasa sendiri karena aku akan selalu di belakangmu" tutur Arsen sambil mengusap pipi lembut Alisya.
Benar kata Arsen, bangkai yang kau simpan pasti suatu saat akan tercium juga baunya, lebih baik menguatkan diri untuk menghadapi masalah yang akan terjadi, Karena tak mungkin selamanya kau akan terus bersembunyi.
"Ini minum dulu, aku akan memangil anak-anak dulu" ucap Arsen memberikan minuman yang tadi ia titipkan kepada pengawalnya.
Alisya duduk sambil meminum minuman yang di berikan Arsen, sedangkan Arsen menghampiri kedua bocah itu.
"Reva, Rey ayo kita pulang sayang" ajak Arsen kepada mereka berdua.
Arsen memberikan air minum kepada Reva dan juga Rrynand, mereka terlihat haus langsung saja meminum nya hingga tandas.
"Tenapa pulang cekalang om, tan tita balu belmain sebental, ya tan Ley" protes Reva yang dapat anggukan dari Rey. Setelah mereka selesai mnghabiskan air yang di berikan Arsen tadi.
"Mama lagi pusing sayang" terpaksa Arsen berbohong kepada mereka. Kalau tidak dia akan sulit membujuk kedua bocah itu.
"Hah, tenapa om Alsen nda bilang dali tadi talau mama Leva cedang satit, awas caja talau teljadi apa-apa denan mama Leva, Leva atan menyalahtan om Alsen" omel Reva kepada Arsen sambil melangkahkan kaki kecil nya menghampiri mama nya. Sedangkan Rey sudah berada di gendongan Arsen.
Arsen mendengus jengkel pada gadis kecil itu, enak aja dia mearahi dirinya.
"Mama cakit ya" tanya Reva kepada Mama nya, Alisya mengerutkan dahinya lalu menatap ke arah Arsen. Arsen menaik kan kedua bahunya acuh. Alisya mengerti pasti Arsen yang bilang dirinya sakit.
"Sedikit sayang" jawab Alisya, Alisya terpaksa mengiyakan alasan Arsen.
"Ayo tita pulang om, tacihan mama Leva nanti tambah satit" Ucap Reva yang terlihat panik. Alisya terharu melihat putrinya yang begitu menyayangi nya. Tak jarang Alisya menyalahkan dirinya ketika melihat putrinya yang dewasa sebelum umur nya, mungkin putrinya itu di dewasakan oleh keadaan.
"Ayo mama gendong sayang" tawar Alisya.
"No mama, Leva jalan cendili caja, mama ladhi satit jadhi nda boleh dendong Leva dulu" sahut Reva sok dewasa. Alisya memeluk sayang putrinya.
"Putri mama sudah besar" lirih Alisya sambil mengecupi pipi chuby Reva.
"Kalau gitu om Arsen saja yang gendong Reva mau?" tanya Arsen. Reva sontak berpikir memdengar tawaran dari Arsen.
"Gak usah terlalu berpikir, nanti otak kecilmu itu pusing girl" ucap Arsen gemas langsung mengangkat tubuh kecil Reva, membuat Reva terkikik.
"Ley tamu lapal nda" tanya Reva yang berada di gendongan Arsen.
"Iya, Ley lapal om, cacing di pelut Ley cudah minta di tacih matan ucap Reynand mengelus perutnya.
"Ok, sebelum kita pulang kita akan makan terlebih dahulu" ucap Arsen.
Arsen memutuskan mengajak semua nya makan di restoran yang ada di mall itu.
*
*
*
Ketiga pria itu memilih menjemput wanitanya yang sedang berada di salon. Andra malas meladeni tempramen Erik yang susah di kontrol itu.
"Lebih baik kita ke salon menyusul mereka" ajak Andra.
"Ayo Rik, dari pada kau terus emosi, aku heran kenapa kau emosi ketika melihat Alisya yang pura-pura tidak mengenalimu, bukankah dari dulu dia memang tidak akrab dengan kita" ucap Irfan heran dengan tingkah Erik, apa sebenarnya sahabatnya itu menyukai Alisya tapi gengsi atau gimana sih, heran.
"Sudah Fan, jangan bahas Alisya dulu nanti ada yang ngamokkk" ceplos Andra.
Mereka naik satu lantai menuju salon dengan menggunakan eskalator. Mereka terlalu malas menunggu lift.
"Sudah honey" tanya Erik ketika sudah berada di salon, Erik mencoba menetralkan emosinya dia tidak mau membuat Viona marah, bisa gagal rencana dia yang sudah tersusun rapih selama ini.
"Sudah sayang, setelah ini kita harus ke toko perhiasan untuk membeli cincin pertunangan kita, yang sebentar lagi akan di langsungkan" ucap Viona sambil menatap ke arah Erik dengan tatapan mendamba
"Kalau begitu langsung saja, mumpung kita ada di sini" sahut Erik mengulurkan tangan nya kepada Viona, Viona menerima uluran tangan tersebut.
"Semoga acara pertunangan kalian lancar sampai hari H" ucap Irfan, membuat Erik merotasi bola matanya malas, bukankah sahabatnya itu tahu jika dirinya tidak menyukai pertunangan ini. Kenapa mereka seolah mengejek nya.
"Hmmm" gumam Erik malas
"Bye, kita duluan" pamit Viona ramah sambil mengandeng lengan Erik.
Mereka turun ke lantai dasar sambil bergandengan mesra, banyak para pengunjung yang iri dengan keromantisan pasangan itu. Erik sesekali melepaskan gengaman tangan Viona yang berada di lengan ny, dia merasa risih dengan pandangan semua orang terhadap dirinya.
"Kenapa sayang, semua orang pasti iri melihat kita yang terus bermesraan" ucap Viona dengan penuh percaya diri. Sedangkan Erik merasa jijik mendengar ocehan Viona.
Tiba di toko perhiasan Viona langsung memilih beberapa model.
"Ada yang bisa kami bantu nona" tanya penjual
"Saya mau mencari cincin pertunangan mbak" jawab Viona. Penjual mengambilkan sebuah cincin yang terlihat elegan.
"Ini nona, koleksi terbaru dari kami, nona dan tuan boleh mencobanya terlebih dahulu" ucap Penjual.
"Bagaimana sayang" tanya Viona sambil menunjukkan jarinya yang sudah terpasang dengan cincin tadi.
"Terserah kau saja, kalau kau suka tinggal ambil saja" Erik tak mau pusing dengan pertanyaan Viona.
"Mbak saya bisa melihat cincin yang itu gak" pinta Viona menunjuk salah satu cincin pesanan seseorang.
"Tidak bisa nona, cincin itu sudah ada pemilik nya" jawab penjual.
Penjual tidak bisa mengambilkan cincin yang di tunjuk Viona, karena cincin tersebut cuma ada satu, dan pesanan khusus seseorang.
"Kenapa tidak boleh, saya akan bayar berapapun" kekeuh Viona.
"Tidak bisa nona, itu pesanan khusus seseorang, berapapun anda membayar kami, kami tetap tidak akan menjual cincin ini," penjual bersikukuh mempertahankan cincin tersebut.
"Apa kau tidak tahu, kalau calon suami saya adalah seorang pewaris dari keluarga Dinata, bahkan aku bisa membeli tokomu jika aku mau" ucap Viona jumawa.
"Apa pesananku sudah jadi" tanya seorang pria secara tiba-tiba.
"Sudah tuan, ini cincin pesanan anda" jawab penjual sambil memberika cincin yang di inginkan Viona kepada pria tersebut.
"Terima kasih" ucap pria iti sambil menyodorkan blackcard nya.
"Sial, sepertinya dia bukan pria sembarangan" gerutu seseorang.
**Bersambung
Happy reading guys🙏
Jangan lupa
Like
Koment
Vote
Rate**
Terima kasih guys🙏