
Pagi hari dari jendela kamar yang baru saja Alisya buka, hawa sejuk dari luar Villa berhembus menyergap masuk.
Untuk sesaat Alisya menikmati kesejukan itu dengan menutup mata dan merentangkan kedua tangan nya sambil menghirup udara segar.
Sedangkan di atas sana sinar mentari yang warnanya yang kekuningan menerangi seluruh alam semesta dengan kehangatan dan kehidupan.
Sinar mentari telah datang membawa harapan baru bagi semua makhluk yang ada di bumi ini.
Alisya keluar kamar menuju ke tepi kolam meninggalkan Arsen yang masih terlelap dengan begitu nyenyak.
Sebuah menu sarapan pagi sudah tersaji di tepi kolam yang di sajikan oleh koki di Villa tersebut. Alisya menikmati sarapannya sendiri dengan bermain air, dia memasukkan kakinya ke dalam kolam.
Sedangkan di kamar, Arsen merasa tidurnya terusik karena sinar mentari yang masuk dari celah jendela kamarnya yang sudah di buka oleh sang istri.
Arsen mulai mengerjabkan matanya, ia membuka matanya mencari keberadaan istrinya, yang ternyata sudah tidak ada lagi di kamarnya. Arsen menyibak selimutnya lalu mendudukan tubuhnya di tepi ranjang, setelah di rasa nyawa nya sudah terkumpul dia berjalan keluar kamar mencari keberadaan istrinya.
Arsen terperangah melihat penampilan seksi istrinya yang sedang menikmati sarapannya di tepi kolam dengan kaki menjuntai ke bawah masuk ke dalam air.
Tanpa berpikir panjang Arsen langsung menghampiri istrinya yang hanya memakai bikini yang terlihat semakin seksi dengan perut buncitnya. Beruntung itu privat pool jadi tidak akan ada satu orang pun yang melihat penampilan seksi istrinya, Villa pun sudah sepi dan koki akan kembali menjelang waktu makan siang tiba.
"Baby, masih pagi kenapa kamu sudah menggodaku hmm" ucap Arsen dengan suara seraknya, sambil memeluk tubuh Alisya dari belakang dan mengecup bahu istrinya yang terekspose.
"Honey, kamu sudah bangun" ucap Alisya kaget.
"Tentu saja, memangnya siapa yang berani memelukmu selain aku hmm" sahut Arsen sambil mengecupi bahu Alisya, sedangkan tangannya mengelus perut besar istrinya.
"Tentu saja tidak ada yang berani, bisa-bisa tangan orang itu lepas dari tubuhnya sebelum menyentuhku" ketus Alisya.
Arsen tergelak, ternyata istrinya menyadari kalau dirinya posesif.
"Karena aku tidak suka milikku di sentuh orang lain, terutama yang ini" ucap Arsen sambil mer*mas dada Alisya.
"Akhh..." pekik Alisya
Plakk....
Alisya memukul paha suaminya kesal.
"Masih pagi sudah mesum" gerutu Alisya.
Arsen menahan tawa mendengar gerutuan Alisya.
"Uhhh...bumilku galak sekali" goda Arsen sambil membawa tubuh Alisya bersandar di tubuhnya, Alisya menyandarkan kepalanya di dada suaminya.
Arsen minta disuapi istrinya, karena perutnya sudah keroncongan minta di isi, sesekali Arsen mencium pelipis istrinya.
"Honey, Reva sudah sampai belum ya" tanya Alisya.
"Pasti sudah baby, nanti siang kita hubungi dia, anak itu kalau sudah sama Reynand pasti lupa dengan kita, baby" ucap Arsen kesal.
"Aku juga heran, ternyata wajah tampanmu kalah dengan pesona keponakan mu itu, honey" ucap Alisya mengejek Arsen.
"Apa kamu bilang, baby? Apa kamu masih meragukan pesonaku hmm" tanya Arsen tak terima.
Alisya tertawa keras, suaminya ini mudah merajuk, pantas saja Reynand suka sekali menggoda suaminya.
Arsen melepaskan pelukannya di tubuh istrinya, lalu masuk ke kolam renang. Arsen berdiri di depan sela-sela kedua paha Alisya sambil tersenyum nakal memandang wajah istrinya.
Alisya merinding melihat senyum mesum suaminya. "Jangan macam-macam, honey" panik Alisya.
"Tidak akan macam-macam baby, tapi hanya satu macam saja" sahut Arsen. "selamat pagi babies, papa akan menjengukmu sekarang" ucap Arsen pada perut Alisya lalu menciumnya. Sambil menarik tali bra istrinya yang ada di lehernya.
"Angkat sedikit, baby" Titah Arsen sambil menepuk pelan bokong istrinya.
Alisya menuruti perintah suaminya, ia mengangkat bokongnya lalu Arsen melepas segitiga yang di kenakan Alisya. Kini istrinya sudah telanjang bulat, tanpa satu kain pun yang menempel di tubuh seksinya.
"Tubuhmu selalu indah baby, membuat pagiku begitu bergai*ah" ucap Arsen langsung menyumpal bi bir ranum istrinya dengan bi birnya. Sedangkan tangannya sudah berkeliaran kemana mana, menyentuh titik sensitif istrinya.
"Honey" rengek Alisya di sela-sela ciumannya, namun Arsen tidak memperdulikan rnegekan istrinya, ia sudah di selimuti kabut gai*ah, ingin rasanya Alisya melarikan diri dari cengkraman suaminya, akan tetapi tubuhnya bereaksi lain tidak sinkron dengan pikirannya.
Arsen naik ke atas, lalu mengangkat tubuh istrinya ala bridal, dan merebahkannya di kursi santai yang ada di tepi kolam renang.
Arsen berjongkok tepat didepan bagian bawah tubuh Alisya. Arsen melebarkam kedua paha istrinya. Dia bisa melihat mi lik istrinya yang berwarna pink kemerahan yang membuat jakunnya naik turun.
Arsen menenggelamkan wajahnya ke inti Alisya, ia menj*lati mi lik istrinya dan memainkan klit*ris nya.
"Akhhh...." Alisya mulai mende sah, membuat Arsen tersenyum menyeringai.
Dia terus bermain di bawah sana hingga membuat Alisya tak tahan lagi karena merasakan sesuatu yang mendesak ingin keluar dari inti tubuhnya.
"Honey...." panggil Alisya.
"keluarkan saja baby" ucap Arsen di sela-sela kegiatannya.
Mereka melewati pagi panas mereka dengan begitu berga*rah dan begitu menggebu gebu, terutama Arsem yang sudah tak sabar ingin menikmati tubuh istrinya.
......................
Berbeda di Negara J, Reva dari tadi kesal karena mencoba menghubungi papa dan mamanya namun tak kunjung di angkat oleh orang tuanya.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Belinda.
"Leva kesal oma, katanya Leva suluh ngabalin papa kalau sudah sampai, tapi gililan di telpon nda di angkat-angkat," cerocos Reva.
"Mungkin mama sama papa belum bangun sayang" ucap Belinda mencoba menenangkan cucunya agar tak merajuk.
"Dasal pemalas, sudah jam belapa ini...kenapa meleka malah belum bangun, kalah sama ayam tetangga....nanti lejekinya di patok ayam balu tahu lasa" omel Reva dengan bibir manyun.
"*Dasar Arsen, pas*ti dia lagi menggempur istrinya. Biarin saja nanti kena omel anaknya" batin Belinda.
Reva duduk di sofa yang ada di kamar hotel dengan posisi setengah berbaring sambil memegang ponsel.
Tak lama Reynand masuk kedalam kamar Reva dengan pakaian yang sudah rapih.
"Leva kenapa oma" tanya Reynand.
"Tanya saja anaknya Rey" suruh Belinda.
Reynand mendudukan bokongnya di sisi Reva.
"Kamu kenapa" tanya Reynand perhatian.
"Leva lagi sedih Ley, dali tadi telpon papa tapi nda di angkat-angkat" jawab Reva lesu.
"Nda usah sedih, nanti kalau om Alsen telpon bialin saja nda usah di angkat, bial gantian dia yang kesal" ucap Rey mengompori Reva.
Bersambung.
Happy reading guys🙏