
Hari Senin adalah hari yang paling banyak tidak disukai oleh orang, apalagi oleh para pelajar.
Termasuk Rista, dia juga tak menyukai hari Senin, entahlah mengapa bisa begitu hanya saja menurut nya hari Senin itu sangat lah menyebalkan.
Hal yang membuat dia sedikit kesal di hari Senin, kini bertambah saat ada dua orang yang kini sedang berada di depan rumah nya.
Mereka adalah Melviano dan juga Jeremy. Keduanya sibuk berdebat seakan tak mempedulikan Rista yang kini berdiri menatap jengah ke arah keduanya yang juga belum selesai.
Jeremy lah yang lebih tepatnya selalu mengajak ribut pada Melviano. Pria itu tak mau kalah dan berbicara tak sopan pada Melviano membuat Melviano geram dan malah menanggapi kalimat - kalimat tak berfaedah itu.
Jujur, Rista cukup terkejut dengan kehadiran keduanya yang tak memberi tahu diri nya terlebih dahulu. Apalagi Jeremy, pria itu berani datang kerumahnya setelah sekian lama tak kesana.
Beruntung nya, Eve pergi bekerja lebih lagi tadi. Jeremy jelas aman akan hal itu.
"Aishh, menyebalkan," sungut Rista tanpa memperdulikan kedua nya lagi kini berjalan ke arah gerbang untuk menunggu taksi yang sudah dia pesan.
Setelah taksi nya datang, Rista menyempatkan menoleh pada Melviano dan Jeremy yang masih belum menyadari kepergian nya. Rista mengedikkan bahu lalu menaiki taksi untuk segera ke kampus..
"Jaga bicara kamu, saya ini lebih tua dari kamu, dasar bocah," sentak Melviano pada Jeremy.
"Iya kau sudah tua, pak tua," ejek Jeremy.
"Jauhi pacarku," tekan Jeremy seraya memperjelas kalimat pacar pada Melviano.
"Kau hanya pacar nya saja, bukan suami nya, jadi kau tak berhak untuk menyuruhku menjauh dari calon istriku," Melviano juga ikut - ikutan mempertegas.
"Sadarlah, She is mine," desis Jeremy.
"Saya tidak peduli, selagi kalian belu sah, ya saya masih bisa tetap berjuang dong," balas Melviano dengan enteng.
"Cih, Rista mana amu sama situ. Iya kan sayang," ucap Jeremy melihat kesamping untuk menanyakan Rista.
Namun keterkejutan lah yang dia dapatkan, karena Rista sudah tak berada disana.
"Rista kemana?" tanya Jeremy pada Melviano.
Melviano ikut dibuat mencari-cari namun rumah gadis itu sudah dikunci.
"Dia meninggal kan kita, ini semua karena mu, seharusnya dia berangkat bersamaku tadi," keluh Melviano.
"Hahaha rasain," ucap Jeremy yang senang. Meski dia tak bisa jalan bersama dengan Rista dia senang karena Melviano juga tidak bisa. Dia tak sendiri bukan.
"Aku yang akan menjemput pacarku nanti pulang kuliah, dah pak tua," ucap Jeremy melambaikan tangan nya dan segera menuju ke mobil nya.
Tanpa berlama-lama lagi, Melviano akhirnya ikut meninggalkan kawasan rumah Rista.
Melviano tidak merasa menyesal datang kerumah Rista sama sekali, padahal jarak rumah yang jauh karena berbeda arah seharusnya membuat Melviano malas. Namun tidak untuk Rista, dia sangat senang melakukan nya.
***
"Cit, tau nggak pak Melviano kayak nya naksir sama gue deh," ucap Rista sambil mengaduk minuman yang berada didepan nya.
Karena kelas belum dimulai, Rista memang menyempatkan untuk kekantin terlebih dahulu. Rutinitas yang selalu dia lakukan bersama dengan Citra sebelum ke kelas.
"Haha masa iya sih, pak Melviano yang cuek bebek gitu, Lo tua dari mana nya dia suka sama lu," ucap Citra.
"Ih gue bener Cit, semalam aja nih ya dia kerumah terus tadi pagi juga," cerita Rista.
"Yang bener coy, pak Melvin kerumah lu. Busett gercep Amat dia," heboh Citra.
"Nah itu makanya, tapi gue takut deh Cit entar banyak omongan dari anak-anak yang pasti gak enak. Apalagi fans nya pak Melvin kan banyak banget tuh, bisa-bisa diserang gue Cit," Rista merinding membayang kan nya.
"Tenang aja, ada gue. Gue gak bakal biarin itu. Gua yang jadi garda terdepan entar," sahut Citra.
"Terus gimana hubungan Lo sama Dendy?" tanya Rista penasaran.
Rista sudah tau lama jika Dendy menyukai sahabat nya itu. Hanya saja Citra pura-pura tak peka.
"Apa dah, gak usah bahas dia deh," elak Citra yang tak menyukai topik kali ini.
"Emang kenapa sih Cit, coba cerita deh, kayak sama siapa aja sih lu, cuma gue doang juga yang denger," balas Rista yang sudah memiliki tingkat kepo yang tinggi.
"Ya gitu si, kayak biasa,'
"Lu tau kan yah dia suka sama lu. Jujur gak lu," tambah Rista.
Citra mengangguk tentu saja. Dari perlakuan dan tatapan mata pria itu pada nya pun citra sudah tau jika pria itu sedang mendekati nya.
Hanya saja Citra belum siap,karena selama ini mereka berteman baik. Menurut nya hubungan mereka jauh lebih baik jika hanya sebatas teman saja. Dia takut saat mereka pacaran rasa nya menjadi berbeda dan bagaimana jika tiba-tiba putus, pasti akan menjadi asing bukan.
Citra tak mau hal itu terjadi, dia ingin tetap bersama tanpa ada status itu.
TBC