Baby Girl

Baby Girl
BAB 104



Reva memiringkan kepalanya sambil menatap wajah Viona. "Onty namanya siapa? Kenapa onty kelumah Leva? onty temannya mama sama papa na Leva ya?" Reva membrondong Viona dengan banyak pertanyaan.


Viona tertawa kecil mendengar celotehan Reva dengan suara cadelnya.


"Kenapa onty malah teltawa, kenapa nda jawab peltanyaan Leva" cecar Reva.


Berbeda dengan Viona yang senang dengan tingkah lucu Reva, Alisya justru ingin menenggelamkan wajahnya ke bak mandi, dia frustasi dengan tingkah putrinya.


"Nama Aunty Viona sayang, onty teman mama" jawab Viona ketika sudah bisa menghentikan tawanya.


Reva mengetuk ngetuk dahinya. "Memangna mama na Leva punya teman ya, Leva gak pelnah liat mama ngblol sama teman na, teman mama itu cuma onty Dewi" sahut Reva.


"Diam Reva, kamu ini lama-lama mama masukin karung ya" kesal Alisya.


"Yee...memangna Leva botol bekas mau di masukin ke kalung," sahut Reva sinis. "malang sekali nasib Leva, cantik begini mau di masukin ke kalung" drama Reva.


Arsen pusing, Reva selalu bisa menjawab ucapan orang dan pandai mendramatisir keadaan.


Viona tertawa melihat tingkah lucu Reva, Hendrawan dan istrinya merasa lega melihat putrinya ceria kembali setelah bertemu Reva.


"Onty memang teman mama sayang, dulu onty satu kampus sama mama" jelas Viona lembut. Reva mengangguk mengerti.


Viona mengelus rambut panjang Reva. "Boleh aunty minta sesuatu sayang" tanya Viona.


Reva menatap Viona dengan mata berkedip kedip lucu. "minta apa onty, Leva nda puna uang...soalna Leva belum bekelja" jawab Reva


"Bukan itu sayang. Aunty minta di panggil mami sama Reva" ucap Viona pelan biar Reva mengerti.


"Oh...Leva kilain onty minta pinjam uang sama Leva" ucap Reva polos. "Nda masalah onty, belalti Leva puna mama banak." ujarnya dengan wajah berbinar.


Arsen menatap curiga apa yang sedang di pikirkan otak kecil putrinya itu. "Memangnay apa yang sedang kau rencanakan girl" tanya Arsen penuh selidik.


"Nda ada lencana papa, Leva hanya senang saja belalti mama Leva sekalang ada tiga, ada mama, ada mommy Lenata, sekalang ada mami Viona, belalti uang jajan Leva makin banyak" sorak Reva sambil menggoyangkan pinggulnya ke kanan dan ke kiri. Hendrawan dan sang istri tergelak.


Arsen tercengang mendengarnya.


Alisya menduselkan wajahnya ke punggung suaminya malu, "Honey...sungguh dia bukan putriku, apa kita perlu ke rumah sakit ya, siapa tahu dia tertukar dulu pas aku melahirkan" bisik Alisya di telinga Arsen.


Arsen mencubit pipi istrinya lembut. "Kamu ini ada-ada aja." sahut Arsen.


"Dia membuatku malu honey" lirih Alisya.


"Kenapa kamu malu, anaknya saja malah bersorak kek gtu, lihatlah" ucap Arsen menyuruh Alisya untuk melihat putrinya.


"Maaf Viona, tuan, nyonya, maaf ya jika kalian terganggu dengan tingkah putriku, dia agak lain memang" ucap Alisya merasa tak enak.


Viona menggelengkan kepalanya. "Tidak ada yang terganggu, justru dia lucu dan menggemaskan, pasti rumah mu ramai karena keberadaanya" ujar Viona.


Dia bisa membayangkan tiap hari di rumah Alisya akan terdengar celotehan Reva yang selalu membuat suasan jadi ramai.


Belinda tidak ada di rumah, dia sedang kembali ke eropa untuk memantau bisnisnya.


"Ramai apanya, yang ada dia selalu membuatku dan papanya jengkel" batin Alisya.


"Ya begitulah" jawab Alisya


Karena sudah merasa terlalu lama di rumah Arsen, Hendrawan mengajak keluarganya pulang, dia tak enak menggnggu istirahat mereka.


Viona pamitan dengan Alisya. "Saya pulang dulu, terima kasih sudah mengijinkanku dekat dengan Reva" ucap Viona tulus.


"Tak masalah, yang terpenting kamu harus mempunyai banyak stock kesabaran untuk menghadapinya, terkadang dia suka ngeyel" ujar Alisya memberi tahu Viona.


Viona tersenyum mengerti. Setelah itu dia beralih pamit sama Reva. "Sayang, onty pulang dulu ya, nanti kita main lagi" pamit Viona.


"Iya tuan putri" jawab Viona


Setelah itu mereka langsung beranjak meninggalkan rumah Arsen.


*


*


Keesokan harinya setelah selesai meeting dari luar dan sekalian makan siang di sebuah restoran Arsen langsung kembali ke kantornya. Hari ini dia harus pulang cepet karena ada janji sama putrinya untuk mengajari beladiri bersama Reynand.


Arsen turun dari mobil langsung saja masuk kedalam kantor lalu naik ke lift menuju ke ruangannya.


Ting


Lift tiba di lantai atas ruangan Arsen. Arsen melangkahkan kakinya keluar lift lalu berjalan menuju ke ruangannya.


Setelah masuk ke ruangannya Arsen langsung mendudukan bokong di kursi kebesarannya. Kemudian Arsen langsung membuka laptopnya, dia bisa melihat segudang pekerjaan yang harus segera di kerjakan. Arsen langsung saja memfokuskan matanya melihat ke layar sambil menggerakan jari-jarinya di atas keyboard dengan sangat lincah. Hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul 3 sore.


Arsen mengemasi berkas-berkasnya, lalu mematikan laptopnya, sebenarnya dia sudah telat karena saking fokusnya kerja sampai lupa kalau dia janjian jam 2siang. Sampai rumah pasti putri serta keponakannya akan mengomelinya.


Arsen bergegas meninggalkan kantornya dengan tergesa, membutuhkan waktu yang lumayan lama hingga akhirnya Arsen tiba di rumahnya.


Arsen keluar dari mobil, lalu berlari kecil memasuki rumahnya. Dia cepat masuk kedalam kamarnya untuk mengganti pakaiannya.


Setelah selesai dia menuruni tangga mencari keberadaan putrinya ke taman belakang, dia bisa menebak pasti putrinya akan menunggu di situ.


Reva dan Reynand yang melihat kedatangan Arsen langsung saja berkacak pinggang sambil melototkan matanya ke arah Arsen dengan wajah galaknya.


Gluk


"Matilah aku, pasti dua anak singa itu akan mengamuk" batin Arsen.


Arsen menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil membalas tatapan mata mereka.


"Maaf sayang, tadi papa ada meeting" ucap Arsen.


"Papa alasan, papa kan udah janji sama Leva sama Ley jam dua papa, kenapa sekalang papa balu pulang" omel Reva.


"Ya, yang di bilang Leva benal om, om Alsen nda boleh ingkal janji" timpal Reynand, Reva mengangguk setuju.


Alisya melipat bibirnya kedalam menahan tawa, dia bisa melihat suaminya yang tak bisa berkutik di depan perusuh itu.


"Tapi kan papa sekarang sudah pulang" sahut Arsen tak mau kalah.


"Tetap saja papa salah, coba papa hitung...sudah belapa jam Leva dan Ley menunggu papa di sini" kekeuh Reva mempertahankan argumennya.


Arsen melihat benda mahal yang melangkah di lengan kirinya, dia bisa melihat kalau sekarang hampir jam 5, berarti mereka sudah menunggu dirinya selama 3jam.


"Sepeltinya om Alsen sudah tidak peduli lagi sama kita Leva, bagaimana kalau kamu minta di caliin papa balu saja" Ucap Reynand mengompori Reva.


"Emmmm....memang halus ya Ley, nanti kalau nda kaya kek papa Alsen gimana, nanti Leva nda puna uang banak dong" sahut Reva polos membuat Reynand kesal.


"Halusnya Leva bilang ,iya, gitu" kesal Reynand.


"Makana halus blifing dulu bial Leva tau" ucap Reva ngga mau di salahkan.


Arsen menahan tawanya melihat kedua perusuh itu malah berdebat.


Bersambung.