
Setelah perdebatan Rista dengan Jeremy, keduanya tak kunjung mendapat kan penyelesaian dan malah berakhir adu mulut.
Tak ada yang mengalah, Jeremy yang tetap bertahan dengan kekesalan nya serta kecemburuan nya pada Melviano sedangkan Rista yang sibuk menjelaskan dan membela dirinya namun tak dihiraukan oleh Jeremy.
Karena Jeremy pusing dengan perdebatan mereka, Jeremy menyuruh Rista untuk turun dari mobil nya.
"Kamu turun aja deh Ris, aku cape. Aku pusing dan kepala aku sakit banget sekarang. Please," mohon Jeremy sambil memijit keningnya.
"Kamu beneran nyuruh aku turun Jer, Really,"
"Ya kamu kan bisa pesan grab atau apalah, gojek dan yang lainnya. Gak usah manja jadi cewe," sentak Jeremy yang mulai tersulut kembali.
"Fine, lagian aku bisa pulang sendiri dan oh yah Pak Melviano juga belum pulang kan, aku bisa nebeng sama dia. Semarah-marahanya dia sama aku, gak pernah tuh dia nyuruh aku tuh diusir dari mobil," ucap Rista yang ikut kesal.
"Oh gitu, yaudah sana,.sama dosen kamu. Ngapain masih disini?" ucap Jeremy.
Rista pun akhirnya menurut dan langsung turun. Wanita itu membanting pintu mobil milik Jeremy dengan keras.
"Buset, santai dong," ucap Jeremy dari dalam. Lalu setelah nya Jeremy benar-benar menancap gas dan meninggalkan Rista diparkiran.
"Dia gak ada ngejer gue gitu, balik kem gitu, tega banget biarin gue sendiri," kesal Rista yang kini tengah menunggu taksi yang sedang dia pesan.
Dia mana mau Kembali ke Melviano untuk mengantarnya pulang. Mau ditaruh dimana mukanya. Padahal tadi dia sudah menolak pria itu dengan mentah-mentah.
"Jeremy, i hate you," geram Rista mengepalkan tangannya diudara. Setidaknya pria itu kan memastikan dia untuk pulang kerumahnya tapi pria itu sama sekali tak peduli dan malah aduk tak acuh.
Jeremy dengan teganya membiarkan dia pulang sendiri dengan dalih butuh waktu untuk sendiri. Jujur saja Jeremy tak suka, padahal kan masih bisa dibicarakan dengan baik - baik.
Rista tak ingin pulang terlebih dahulu dia ingin menyegarkan pikiran nya. Sepertinya mengelilingi mall adalah ide yang cukup bagus. Sebelumnya dia mengirimkan pesan pada sang mama agar Eve tak khwatir jika dia pulang telat.
Dan masalah Melviano yang tadi meminta untuk pulang bersama akan dia tanya kan dirumah.
Taksi yang dipesan oleh Rista pun akhirnya tiba dan langsung menuju ke mall yang ingin dia kunjungi.
Kali ini Rista ingin ke Senayan city, sudah lama dia tak pergi kesana.
Tempat yang pertama kali dia kunjungi setelah sampai adalah Skywalk Senayan park. Tempat itu menjadi salah satu pilihan warga Jakarta lantaran pemasangan nya yang Instagramble.
Beramai - ramai orang datang untuk berburu foto di spot spot Skywalk Senayan.
Harga tiketnya cukup murah dan tak menguras dompet.
"Rista,"
Merasa namanya dipanggil Rista menoleh ke asal suara. Entah suatu kebetulan dia bertemu kembali dengan Rafael. Dan orang yang memanggil nya ternyata adalah Devina dengan Gabriel yang tengah berada digandengan nya.
"Ayok kita samperin Rista, bener kan kata ibu itu Rista, keras kepala sih kamu," ucap Devina pada Rafael.
Wanita paruh baya itu memang sudah memperhatikan Rista tadi dari jauh saat hendak membayar tiket masuk .
"Buat apa sih Bu, Gabriel juga pasti gak mau. Udahlah gak usah," bantah Rafael yang malas. Lagipula tak ada gunanya dan malah membuang waktu untuk menyapa nya.
"Sayang, bentar kita temuin Tante Rista ya," ucap Devina pada Gabriel yang tengah memegang sebuah robot.
"Gak mau," Gabriel menggeleng kan kepalanya. Anak itu menoleh ada Rafael.
"Tuh, apa Rafael bilang. Udah langsung keatas aja," ucap Rafael yang kini mengambil alih Gabriel. Menggendong anaknya tersebut dengan kedua tangan nya.
"Yaudah kalian duluan aja, nanti ibu nyusul, gak enak sama Rista ibu tadi udah manggil dia," ucap Devina yang diangguki oleh Rafael.
Itu lebih baik daripada dia ikut untuk menghampiri wanita itu. Rafael yakin sekali apa maksud dari ibunya. Padahal sudah jelas-jelas sekali perjodohan mereka batal saat Eve sendiri yang membatalkan nya karena ketidak setujuan dari Rista.
Rafael tentu saja senang saat itu, akhirnya dia tak perlu merasa terpaksa untuk menikah kembali. Karena sejujurnya dia masih belum bisa lupa sepenuhnya dengan mendiang istrinya.
Dan Rafael sebenarnya berencana untuk tidak menikah dalam waktu yang dekat. Dia masih berpikir karena Gabriel juga memerlukan sosok ibu dan Rafael harus benar-benar bijak dalam menyeleksi nya.
"Sayang, apa kabar. Sudah lama kita gak ketemu," ucap Devina sambil memeluk dan cipika cepiki pada Rista.
"Hehe aku baik Bu, ibu gimana."
"Seperti yang kamu lihat, hanya saja ibu terkadang repot sama Gabriel. Dia tuh keras kepala sama kayak Rafael. Pusing ibu tuh dibuat nya, gak tau deh si Rafa kapan mau nikah nya," curhat Devina.
Rista tak tau bagaimana mau menanggapi dan akhirnya dia hanya tersenyum canggung. Rista tak perlu tau tentang hal itu bukan.
"Kamu sendiri aja kesini,"
"Iya Tan, kepengen jalan-jalan aja sebentar," balas Rista.
"Yaudah kamu ikut Tante aja sama Gabriel dan Rafael. Kita keatas yuk," ajak Devina.
"Eh, gak usah Bu, gak enak sama Rafael dan Gabriel. Lagian kan Gabriel gak suka sama aku bu. Takut ngeganggu waktu nya juga nanti," ucap Rista.
Dalam hati dia berdoa agar Devina segera pergi. Astaga dia kesini untuk me time dan dia tak ingin bersama degan orang lain saat ini.
"Udah gapapa, ayok. Temani Tante ya, merkea kadang sibuk sendiri, Tante gak tau mau ngapain," sendu Deviana dengan wajah yang memelas.
Rista menghela nafas nya, seharusnya tak begini akhirnya.
Rista tak tega menolak apalagi melihat pandangan Devina yang terlihat sekali berharap untuk dirinya ikut.
Tapi masalah nya adalah dia pasti tidak akan merasa nyaman disana. Apalagi disekitar Rafael dan Gabriel yang secara terang-terangan tak menyukai dirinya.
"Baiklah," ucap Rista pelan dan pasrah.
"Nah gitu dong, yuk lah,"
Devina ternyata membawanya ke Skywalk dan Rista tau tempat itu
Dari sana mereka akan bisa melihat pemandangan Jakarta yang dikelilingi oleh gedung - gedung yang tinggi.
Di Skywalk Senayan park memang disediakan dua buah teropong permanen untuk memberikan pengalaman lebih kepada masyarakat yang ingin melihat DKI dari ketinggian.
Namun sayangnya teropong tersebut belum bisa digunakan karena menurut petugas keamanan di Skywalk, tempat itu awal nya dibuka untuk kompetisi fotografi yang diadakan oleh manajemen Senayan Park.
"Itu mereka," rujuk Devina saat melihat Gabriel dan Rafael yang tengah menikmati keindahan gedung Jakarta.
Apalagi Gabriel, anak itu terlihat sangat antusias sekali.
TBC