
"JADI BEGINI KELAKUAN KALIAN DI BELAKANGKU HAH!!" teriak Brian membuat Reno dan Listy menoleh.
Deg
Mereka berdua terkejut melihat Brian yang memergokinya, Reno tak menyangka kalau hubungannya dengan Listy sangat cepat di ketahui oleh putranya.
Reno mendorong begitu saja tubuh Listy dari atas tubuhnya hingga membuat Listy terjungkal kebelakang.
Lalu Reno segera menarik selimut dan langsung menutupi tubuhnya yang masih polos.
"Bri, Daddy bisa jelaskan Bri" ucap Reno.
"Jelaskan apa Dad?, semua sudah jelas , bahkan Brian sudah melihatnya sendiri dengan kedua mata Brian".
"Sejak kapan kalian berhubungan hah?" sentak Brian yang sudah di liputi oleh amarah.
Ia tak menyangka, kekasih yang ia sayangi dan ia bela selama ini malah menghianatinya, yang lebih gilanya lagi dia berselingkuh dengan daddy nya.
"JAWAB DAD!!" bentak Brian karena tidak ada jawaban dari keduanya.
"Sejak kamu masih koma Bri, aku mencintai om Reno dan sekarang aku hamil anaknya"
JDERRR....
Brian Shock, hamir saja tubuh Brian limbung kalau tidak segera berpegangan dengan dinding, ia kaget mendengar jawaban dari kekasihnya.
"Ha-mil" ucap Brian dengan bibir bergetar, dia menatap keduanya dengan penuh kekecawaan.
"Maafkan daddy Bri" hanya itu yang keluar dari mulut Reno, dia tidak tahu harus ngomong apa lagi, hubungan yang ia tutupi selama ini sudah terbongkar oleh putranya sendiri.
"Kalian berdua benar-benar menjijikan" ucap Brian setelah itu berjalan menuju kearah pintu.
BRAKKKK..
Brian keluar dari kamar Listy dengan membanting pintu kamarnya.
Dia menuju ke kamarnya. Dengan kasar Brian membuka pintu kamarnya.
Sampai di dalam kamarnya Brian langsung mengamuk, dia membanting semua yang ada di dalam kamarnya.
Ia begitu kecewa dengan kekasih sekaligus daddynya yang tega menusuknya dari belakang.
"Akhhhh....Brengsek!!"
Prakkkk....
Pyarr....
Brian memukul kaca yang ada di kamarnya, hingga membuat kacanya pecah dan berserakan dimana-mana.
Selain kecewa dia juga merasa bodoh karena beberapa hari ini mempercayai keduanya, ia.berpikir kalau selama ini Listy hanya membantu mengurus daddy nya yang sudah cacat, tapi nyatanya mereka bermain api dei belakagnya higga membuat sang kekasih hamil.
Sementara di kamar Listy, Reno menyalahkan Listy karena jujur tentang kehamilannya kepada Brian.
"Kenapa kamu bilang tentang kehamilanmu kepada Brian hah? Aku sudah bilang sama kamu untuk menyimpannya dulu, hingga keadaannya memungkinkan untuk kita berbicara jujur kepadanya" sentak Reno yang sudah memakai bajunya begitu juga dengan Listy.
"Nunggu waktu yang tepat kapan hah? Bukankah ini waktu yang tepat untuk mengatakannya kepada Brian, kita sudah tertangkap basah oleh Brian, jadi untuk apa kita menutupinya lagi, kita tak bisa terus-terusan menutupinya dari Brian om, karena semakin lama perutku akan semakin membesar" sahut Listy tak terima.
Menurut Listy ini waktu yang tepat untuk mengungkapkan semuanya, percuma saja di tutupi kalau hubungannya dengan Reno sudah ketahuan sama Brian.
Reno keluar dari kamar Listy dengan mendorong kursi rodanya sendiri.
"Bri, kamu mau kemana Bri" tanya Reno ketika melihat Brian membawa kopernya.
"Brian akan pergi, dan tolong jangan pernah mencari Brian Dad, Brian sangat kecewa dengan Daddy!" ucap Bria sambil menatap wajah sang daddy dengan penuh kekecewaan.
Untuk saat ini Brian hanya butuh tempat untuk menenangkan diri.
Lalu Brian pergi begiti saja dari hadapan daddy nya, Reno menatap nanar punggu putranya yang kian menjauh dari pandangannya.
Dia sangat menyesal telah menghianati putranya, tapi penyesalan itu rasanya percuma, karena semua sudah terjadi dan tidak bisa dirubah lagi.
Reno tak lagi mengejar Brian, dia samping dia ingin memberika. Ruang untuk sang pitra, dia juga tidak bisa mengejar putranya dengan keterbatasan dirinya.
Di luar Brian sudah masuk kedalam mobilnya, tak lupa dia juha sudah memasukkan kopernya kedalam bagasi mobilnya.
Brian melajukan mobilnya tanpa tujuan.
"Apakah ini yang kamu rasakan Reva ,saat kamu mengetahui aku hanya mempermainkanmu dan juga menghianatimu , hiksss...hikss...Maafkan aku Reva" ucap Brian sambil menangis dan tersenyum secara bersamaan.
🌹🌹🌹🌹
Keesokan harinya di rumah Arsen.
Berbeda dengan apa yang sedang di rasakan Brian, Reva justru merasa bahagia. Karena calon suaminya menghubunginya lewat ponsel sang papa.
"Hallo honey, aku kangen sama kamu" Sapa Reva ketika melihat layar ponselnya di penuhi dengan wajah Reynand.
"Aku sudah merindukanmu sayang, tapi kita harus sabar karena sebentar lagi kita akan menikah dan akan tinggal bersama, dan nanti tidak akan ada yang bisa memisahkan kita lagi" sahut Reynand.
"Iya honey, karena aku tak akan membiarkan siapapun memisahkan kita" ucap Reva.
Mereka terus berbincanh hingga tak lama Alisya datang dan mengambil ponselnya lalu mematikan panggilan mereka.
"Waktunya sudah habis" ucap Alisya memberi tahu putrinya.
"Mama ini kenapa jahat sekali, tidak tahu apa kalau Reva masih kangen sama Reynand" protes Reva sambil memanyunkan bibirnya.
"Tahanlah, masih ada tiga hari lagi kalian akan tinggal bersama nanti" ucap Alisya menyemangati putrinya.
Reva merebahkan tubuhnya dan menjadikan kedua paha papanya untuk alas kepalanya.
Arsen terkekeh sambil mengelus kepala putrinya.
Pikir Arsen istrinya memang aneh, beruntung dulu saat menikahi Alisya tidak ada acara di pingit segala oleh bundanya.
"Sabar kak, nanti juga bisa ketemu Reynand lagi" ucap Arsen lembut.
Reva hanya membalasnya dengan menganggukkan kepalanya saja.
"Kamu mau kemana Van" tanya Arsen mengerutkan dahinya ketika melihat putranya menenteng helm mahalnya.
"Keluar pah" sahut Revan.
"Keluar kemana? Apa kamu sudah mempunyai kekasih hmm" tanya Arsen ingin tahu.
"Tidak, Revan masih ingin fokus sekolah" sahut Revan.
"Kamu kalah sama Gavin, Van, bahkan Gavin saja sudah punya dua" timpal Reva.
"Biarin saja, nanti kalau Gavin naik kelas satu dia juga akan lupa dengan cewek-ceweknya itu" ucap Revan yang menarik perhatian Gavin yang baru saja dan keruangan tersebut.
"Ada apa ini, kenapa kak Levan nyebut-nyebut nama Gavin, Gavin tahu kalau Gavin emmang tampan, makana kak Levan ili kan sama Gavin" ucap Gavin penuh percaya diri.
Membuat Revan merotasi bola matanya malas.
"Revan pergi dulu pah," pamit Revan di balas anggukan oleh Arsen.
Berbeda dengan Gavin yang mengira Reva pergi karena menghindarinya.
"Kalah saing sama Gavin makana kabul" cibir Gavin.
"Siapa yang kalah saing, Kak Revan dari tadi memang mau pergi" sahut Reva membuat Gavin melengoskan wajahnya kesamping.
"Gav, tolong ambilin kur di kulkas yang di buat mamah itu Gav, kayaknya enak" Ucap Reva yang tak tahu kalau kue itu milik Gavin yang dibuat khusus untuk Aruna, dia terlalu mager karena sudah terlalu nyaman tidur di pangkuan papanya.
"Itu kue puna Gavin kak Leva, Gavin yang suluh mamah buat kue untuk Aluna, kak Leva kalau mau kue beli sendili aja jangan minta puna Gavin"
Bersambung
Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏
Happy reading guys🙏