
"Bukankah kita sudah biasa melakukannya di mana saja hmm" sahut Viona dengan suara yang di buat mendesah. Sedangkan tangan nya sudah mengusap bagian bawah milik Erik.
Erik yang sudah tidak tahan langsung saja menarik tubuh Viona dan membawanya ke atas pangkuannya. Erik langsung mencumbu Viona dengan begitu liar.
Erik menaikan dress yang di pakai Viona hingga ke pinggang, Erik langsung melepas kain segitiga milik Viona, Dia langsung melakukan penyatuan.
Blesshh
"Ahhhhh.." de sah mereka berdua setelah mi lik Erik masuk sepenuhnya ke mi lik Viona.
"Tahan suaramu Viona, jangan sampai orang di luar mendengar suara de sahan mu" ucap Erik tersegal-segal karena terus menghentak hentakan mi lik nya dari bawah.
"Ahhh....ini terlalu nikmat sayang" racau Viona membuat Erik langsung membungkam bibir Viona dengan menggunakan bibirnya.
Viona ikut menggoyangkan pinggulnya seirama dengan gerakan yang Erik lakukan, tangan Erik tak tinggal diam, kedua tangan Erik sudah bertengger di gundukan kenyal mi lik Viona, ia terus mer*mas nya dan sesekali memelintir ujungnya.
Erik semakin mempercepat ritme permainannya, ia ingin bermain cepat karena situasi nya yang tak memungkinkan.
Tak berapa lama akhirnya terdengar jeritan dari mereka berdua ketika cairan mi lik Erik masuk sepenuhnya ke rahim Viona.
"Akhhhhhh...." pekik mereka berdua setelah mencapai puncaknya.
Viona ambruk di dada kekar Erik, dengan nafas keduanya yang masih tersenggal senggal.
"Kau gila Viona, kau melakukannya di tempat umum" ucap Erik dengan nafas yang sudah mulai teratur.
"Bukankah kau juga menikmatinya sayang" sahut Viona dengan senyum seperti mengejek serasa membenarkan pakaian nya yang berantakan akibat kegiatanya dengan Erik, begitu juga dengan Erik ia mulai merapihkan kembali celanannya.
"Makanlah, setelah itu kita kembali aku masih ada pekerjaan di kantor" ucap Erik. Viona mengangguk perut dia juga sudah sangat lapar, kegiatan yang tadi benar-benar menguras tenaga Viona.
Mereka mulai menyantap makanan yang sudah ia anggurkan dari tadi. Setelah selesai mereka akhirnya pergi dari restoran tersebut.
...****************...
Sedangkan di bogor Alisya mempercepat pekerjaanya, sehingga hari ini juga akan pulang ke jakarta, ia mengemas seluruh bawaannya yanga da di hotel.
Alisya memutuskan pulang hari ini, karena dia tak tenang meninggalkan putrinya terlalu lama, apa lagi setelah mendengar kejadian kemarin.
Setelah selesai semua Alisya dan Dewi memasuki mobilnya. Mobil yang Alisya tumpangi mulai melaju dan meninggalkan hotel tempat Alisya menginap. Pengawal Alisya masih setia mengikutinya dari belakang sesuai tugas yang Arsen berikan untuk menjaga Alisya.
Alisya Menempuh waktu selama satu setengah jam untuk tiba di jakarta, Alisya langsung di antar oleh sopir ke rumah Arsen.
Alisya turun dari mobil dengan di ikuti pengawalnya yang membawa barang bawaan milik Alisya. Alisya masuk ke dalam rumah Arsen ia melihat Belinda sedang duduk sambil menonton tv.
"Assalamualaikum bunda" sapa Alisya. Belinda yang mendengar orang mengucap salam pun akhirnya menengok.
"Waalaikumsalam nak" sahut Belinda dengan senyum sumringah menyambut kedatangan Alisya. Belinda mencium pipi kiri dan pipi kanan Alisya.
"Bunda sendirian, yang lain pada kemana" tanya Alisya yang tak melihat putrinya dan juga Arsen di rumah.
"Mereka belum pada pulang nak, pasti Reva masih di kantor Arsen" jawab Belinda.
"Maaf, sudah merepotkan kalian bund" ucap Alisya merasa tak enak sudah menitipkan Reva kepadanya.
"Tak masalah, bunda yang harusnya meminta maaf sama kamu, karena keteledoran bunda Reva mengalami hal yang tak menyenangkan" ucap Belinda sambil mengelus lembut lengan Alisya.
"Tak apa bund, bunda juga tak menyangka kan akan kejadian seperti itu" sahut Alisya sambil tersenyum menatap wajah teduh Belinda.
"Sudah sebaiknya kamu istirahat dulu, pasti kamu lelah nanti kalau Reva pulang bunda akan menyuruh nya masuk ke kamarmu" ucap Belinda.
"Iya bund" sahut Alisya kemudian berjalan memasuki kamar tamu yang ia tempati semalam.
...****************...
"Hai nona muda, siapa yang menyuruhmu meminum minuman seperti itu hm" tegur Arsen. Arsen tak mengijinkan Reva meminum minuman soda, karena tak baik untuk kesehatanya apa lagi dia masih terlalu kecil untuk mengonsumsi minuman seperti itu.
(Anggap saja minuman yang di pegang Reva itu minuman bersoda guys)
"Leva di tacih cama om Nino" sahut Reva dengan wajah tak bersalah.
Nino yang juga ada di ruangan itu hampir tersedak oleh ludahnya sendiri, pasalnya dia tak pernah memberikan minuman itu kepada Reva.
Arsen menatap horor ke arah Nino meminta penjelasan kepadanya.
"Tidak tuan, saya tidak memberikan minuman itu kepada nona kecil, nona kecil mengambil sendiri minuman itu di kulkas tuan" ucap Nino nona kecilnya itu tidak mau di salahkan sehingga mengambing hitamkan seseorang.
Arsen berbalik menatap Reva yang sudah berani berbohong.
"Tenapa papa liat Leva, calah cendili Leva na nda di tacih minum," ucap Reva yang tak mau di salahkan. Arsen mengangkat tubuh Reva lalu mendudukannya di atas meja kerjanya.
"Kenapa tadi gak bilang hm" ucap Arsen lembut sambil menyelipkan rambut Reva ke belakang telinganya.
"Leva cudah bilang cama papa, tapi papa na nda dengel, papa ladhi cibuk colet-colet teltas itu" sahut Reva menunjuk berkas yang Arsen tanda tangani. Arsen menghela nafas panjang ia merasa bersalah karena tidak mendengar permintaan Reva. Arsen mengambil minuman itu dari tangan Reva kemudian meletakan nya di atas meja
"Ayo sekarang pulang, kamu tidak mau tidur siang kalau sedang di kantor papa" ajak Arsen. Jika di kantor Arsen Reva akan terus bermain tak mau tidur siang.
"No besok malam kau bookingkan tempat untuk makan malam romantis" titah Arsen. Nino mengerutkan dahinya.
"Memangnya tuan mau makan malam romantis dengan siapa" tanya Nino yang seolah meremehkan tuan nya itu.
"Yang jelas dengan seorang wanita, bukan seorang pria sepertimu." ketus Arsen.
"Tadi tuan Erik memberikan undangan pertunangannya tuan," ucap Nino. Erik datang ke kantor Arsen sekalian memberikan undangan pertunangan nya yang akan di langsungkan lusa.
"Tak minat, kau saja yang datang" sahut Arsen acuh. Dia tak pernah suka menghadiri acara-acara yang tak penting, karena baginya Erik tak terlalu penting.
"Aku pulang dulu, kau selesaikan sisanya" pamit Arsen seraya menggendong Reva
"Om Nino Leva minta maap, kalena cudah belbohong, hihihi" ucap Reva cekikikan, karena dirinya ketahuan berbohong sama Arsen.
"Tak masalah nona kecil" sahut Nino tersenyum menatap kelucuan Reva.
Arsen pun membawa pergi Reva dari kantornya. Arsen langsung menancap gas mobilnya menuju rumahnya.
Tiba di rumah Reva langsung berlari masuk ke dalam rumah. Arsen menggeleng kepala melihat tingkah Reva yang tak bisa diam.
"Oma..Leva tantik cudah pulang ini" teriak Reva seperti biasa.
"Anak gadis tidak boleh teriak-teriak" tegur Belinda yang tak takut tenggorokan Reva sakit. Reva hanya menyengir kuda.
"Mama Reva sudah pulang sayang, sekarang lagi istirahat di kamar" ucap Belinda sambil mengusap lembut rambut Reva.
"Kapan Alisya pulang bund" bukan Reva yang menjawab melainkan Arsen.
Bersambung
Happy reading guys🙏