
Sedangkan di restoran Alisya di buat kesal oleh Brian dan Listy yang tidak datang-datang ke restorannya.
Sudah ia bela-belain pagi-pagi langsung ke restoran sampai tidak menjemput anaknya, tapi yang di tunggu malah tak kunjung datang.
"Mereka jadi datang tidak sih mbak? aku mau jemput Gavin ini" ucap Alisya kesal.
"Ngga tahu Al, sepertinya mereka tidak akan datang," sahut Dewi.
"Kau mau jemput Gavin dimana Al?" tanya Dewi kepada Alisya.
"Di rumah sakit, dari semalam dia bersama Reynand menjaga Reva" jawab Alisya.
"Yasudah sana, kasihan Reva nanti kalau Gavin nya rewel. Urusan Brian biar aku yang tangani, kalau dia datang kemari aku akan mengabarimu" kata Dewi.
Pasalnya Mereka sudah menunggu hingga satu jam lebih. tapi sampai sekarang batang hidungnya tak juga kelihatan.
"Kalau begitu aku pergi sekarang, nanti kalau ada yang penting mbak Dewi bisa langsung hubungi aku" ujar Alisya seraya mengambil tasnya dari atas nakas.
Dewi mengangguk mengiyakan.
Alisya beranjak dari restorannya dan menuju ke rumah sakit bersama sopirnya. Ia khawatir kalau Gavin rewel, apa lagi anak itu dari semalam jauh darinya.
"Pak tunggu ya, saya hanya sebentar di dalam" ucap Alisya kepada sopirnya ketika mobil yang ia tumpangi sudah berhenti di lobby rumah sakit.
"Baik nyonya" sahut Sang sopir.
Alisya keluar dari mobil dan berjalan memasuki rumah sakit, Alisya mempercepat langkahnya khawatir Reynand akan pergi ke kantornya.
Bugh...
"Maaf bu, saya tak sengaja" ucap Alisya ketika tak sengaja menyenggol bahu seseorang.
"Kalau jalan itu pakai mata, jangan pakai kaki" sentak seorang wanita paruh baya yang Alisya senggol.
"Kan saya sudah minta maaf bu" sahut Alisya.
"Apa kamu kira minta maaf saja cukup hah" sentak orang tersebut angkuh dengan wajah memerah sambil menatap mata Alisya.
"Lalu ibu mau apa? apa bahu ibu bergeser gara-gara saya senggol, atau bahu itu mengalami patah tulang?, mumpung di rumah sakit saya akan mengantar anda untuk berobat sekalian" sahut Alisya yang mulai terpancing emosinya.
Membuat wanita paruh baya itu berdecak dengan tatapan merendahkan Alisya.
Wanita paruh baya itu Debora, yang baru saja kembali dari meja resepsionis dan ingin kembali ke ruang rawat putranya.
Debora yang masih dalam suasana hati yang buruk, otomatis langsung tersulut ketika Alisya tanpa sengaja menyenggolnya.
Apalagi Debora tahu kalau Alisya istri Arsen sekaligus ibu dari Reva mantan kekasih putranya, dan juga ibu dari Rachel yang memukuli anaknya. membuat amarah Debora langsung meradang.
"Ibu sama anak sama saja, sama-sama tidak tahu diri, yang satu anak haram, yang satu lagi kek preman" makinya kepada Alisya.
"Maksud anda apa? apa hubungannya dengan anak saya? apa sebelumnya saya mengenal anda, hingga anda bisa mengatai anak saya seperti itu?" Sahut Alisya dengan gaya elegannya.
"Kamu memang tidak mengenal saya, tapi saya mengenal kamu, istri tuan Arsen yang hamil di luar nikah," ucap Debora merendahkan Alisya.
Tangan Alisya mengepal erat, sekuta tenaga ia menahan emosinya, ia tak mau membuat keributan di rumah sakit.
"Anakmu sudah memukili anak saya, apa selama ini kamu sebagai ibu tidak bisa mendidik anakmu itu hah, hingga membuat anak perempuanmu itu berlaku seperti preman" lanjutnya Debora dengan nada tinggi, membuat mereka menjadi tontonan oleh para pengunjung rumah sakit.
Setelah mencerna ucapan Debora, Alisya baru paham kalau wanita paruh baya yang ada di hadapannya ini merupaka. orang tua dari mantan kekasih putrinya.
"Oh, ternyata kamu ini orang tua Brian?, pantas saja kelakuannya tak beda jauh dengan anaknya, orang ibunya aja mulutnya kek comberan" ejek Alisya bersedekap dada sambil menatap sinis ke arah Debora.
"Kau... " marah Debora sambil mengangkat tangan ingin menampar Alisya.
"Jaga ucapanmu itu nyonya, anda boleh marah karena putri saya memukuli putra anda, tapi bukan berarti anda bisa menghina saya dengan mulut busuk anda itu" ucap Alisya dengan penuh penekanan sambil menghempas tangan Debora.
"Harusnya anda malu, anak anda itu seorang pria tapi di pukul putri saya saja kalah" ledek Alisya dan meninggalkan Debora yang masih marah karena merasa di rendahkan Alisya.
Sedangkan di kamar Reva, Reynand baru saja selesai menyuapi Reva, sedangkan Gavin sedang santai sambil bermain game di ponsel Reynand.
"Kamu tidak kekantor Rey" tanya Reva.
"Tidak, hari ini aku akan menemanimu di sini" jawab Reynand sambil membersihkan bibir Reva menggunakan tissu.
"Nanti kalau kamu di pecat sama om Reagan bagaimana" ucap Reva yang terdengar konyol di telinga Reynand.
Mana mungkin Daddynya berani memecatnya, yang ada nanti tidak ada yang membantunya di perusahaan.
"Pikiranmu itu konyol sekali, memangnya kau pikir Daddy berani memecatku, yang ada mah dia yang aku keluaran dari perusahaan" sahut Reynand tak habis pikir.
"Kenapa bisa begitu, kan om Regan pemiliknya, bisa-bisanya kamu mau mendepak om Reagan dari perusahaan" seru Reva.
"Daddy memang pemiliknya, tapi aku pewarisnya jika kau lupa" ucap Reynand.
"Jangan lupakan Cia, dia juga anak om Reagan juga" ketus Reva.
"Cia mah di kasih alat lukis juga usah seneng" sahut Reynand.
Cia lebih tertarik melukis ketimbang terjun kedunia bisnis, karena sampai sekarang dia tak pernah mau kalau di suruh belajar tentang bisnis.
Ceklek
Pintu di buka oleh Alisya, ia masuk ke ruangan putrinya dengan wajah di tekuk.
"Muka Aunty kenapa di tekuk seperti itu" tanya Reynand sambil megerutkan keningnya.
"Aunty habis ketemu orang gila Rey, makanya aunty kesel" sahut Alisya sambil menghempaskan tubuhnya di sofa.
"Hah? memangnya aunty habis dari mana? kenapa bisa sampai ketemu orang gila?" tanya Reynand bingung.
"Aunty ketemu orang gila di rumah sakit ini Rey" kata Alisya yang masih tak mau menyebutkan namanya.
"Mungkin saja mama ketemu pasien gila di rumah sakit ini Rey" sahut Reva.
Alisya malah tertawa terbahak mendengar ucapan putrinya, sama saja putrinya itu mengatai mama Brian pasien gila di rumah sakit ini.
"Kenapa mama ketawa? apa mama juga mulai ikutan gila" tanya Reva aneh.
"Reva, ngadi-ngadi kamu ya, mamanya sendiri di katai orang gila" ucap Alisya sambil mendelik menatap Reva.
Reva hanya mengendikan bahunya acuh.
"Reva kan tidak tahu, lagian mama tau-tau tertawa sendiri, membuat Reva bingung" ucapnya santai.
"Orang tertawa bukan berarti gila kan, kamu ini lama-lama kurang ajar ya" kesal Alisya.
Reva nyengir kuda sambil mengangkat jarinya membentuk huruf V.
Alisya mendengus, lalu mengalihkan pandangannya kearah Gavin.
"Gabin ayo pulang, kamu tidak kangen sama mama apa" ajak Alisya, sejak tadi putranya itu belum juga menyapanya.
Gavin mengalihkan wajahnya sesaat lalu kembali menatap ke layar ponselnya.
"Tidak mau, Gavin mau di sini saja sama kak Leva" ucap Gavin menolak di ajak pulang.
"Kenapa kamu jadi betah di rumah sakit, kak Reva itu sedang sakit bukan sedang piknik" sahut Alisya menatap putranya heran.
"Tapi Gavin betah di sini, keljaan Gavin cuma makan sama tidul, tidak pelu sekolah" balas Gavin.
Bersambung.
Happy reading guys 🙏