
Sementara di rumah Arsen, Alisya sibuk mencari keberadaan putranya, karena bocah kecil itu pergi tanpa pamit dengannya.
"Cari siapa mah?" tanya Rachel yang baru saja pulang sekolah.
"Nyari adik kamu, mamah mau suruh dia makan siang, tapi dari tadi mamah cari tidak ada" jawab Alisya.
"Paling juga main mah" ucap Rachel.
"Main kemana? mamah sudah mengelilingi rumah ini tapi tidak menemukan keberadaan adikmu itu" sahut Alisya pusing.
"Mamah, sudah tanya penjaga depan belum, siapa tahu ada yang melihatnya" ucap Rachel memberikan saran kepada sang mamah.
"Kalau begitu mamah ke depan dulu, anak itu selali saja membuatku pusing" gerutu Alisya sambil berjalan menuju ke depan rumah, dia ingin menemui penjaga di depan.
"Pak lihat Gavin gak?" tanya Alisya pada sang penjaga gerbang.
"Tadi pergi naik mobil sama sopirnya den Gavin" sahut penjaga rumah.
"Lalu sopirnya Gavin sudah pulang belum?" tanya Alisya lagi.
"Sudah Nya, lagi ngopi di belakang" jawab sang penjaga.
"Tolong panggilkan dia suruh nemuin saya di dalam" titah Alisya di balas anggukan oleh penjaga.
Alisya masuk kembali kedalam rumahnya, anak bontot nya itu benar-benar menguji kesabarannya. Alisya duduk di sofa sambil mengurut keningnya yang terasa pusing.
"Maaf, ada apa nyonya Alisya panggil saya kemari" tanya sopir Gavin membuat Alisya mengangkat kepalanya.
"Tadi kata penjaga depan Gavin pergi sama bapak, lalu Gavin nya mana pak" tanya Alisya sopan, Meskipun lawan bicaranya hanya seorang sopir, tapi Alisya tetap menghormatinya karena umurnya lebih tua darinya.
Sopir Gavin mengerutkan dahinya heran, ia berfikir tadi Gavin bilang sudah ijin sama mamahnya, lalu kenapa sekarang mamahnya mencarinya.
"Tadi saya antar ke rumah tuan Reagan, katanya den Gavin sudah ijin sama nyonya, makanya saya antar kesana" jawab sopir Gavin jujur
"Anak itu. bisa-bisanya dia membohongi orang tua, tidak ijin bilang nya sudah ijin" Alisya di buat geram sama anak bontotnya.
"Terima kasih pak, bapak boleh kembali ke belakang melanjutkan pekerjaan bapak" ucap Alisya.
Alisya menuju ke kamarnya ingin mengambil ponselnya.
Setelah mendapatkan ponselnya Alisya menghubungi suaminya.
"Iya sayang, ada apa hmm" terdengar suara lembut Arsen menyapanya saat panggilannya sudah terhubung.
"Honey, nanti pulang kerja kamu mampir kerumah kak Reagan jemput Gavin, tadi dia kabir kesana sama sopirnya tidak bilang-bilang" Alisya mengadu kepada suaminya, dia meminta suaminya menjemput putranya.
Arsen menghela nafas pelan, tiap hari ada aja dia dapat aduan tentang tingkah laku Gavin dari istrinya.
"Iya sayang, nanti aku akan menjemputnya, kamu tidak usah pusing, mungkin dia hanya kangen sama kakaknya, makanya dia kesana" sahut Arsen.
"Iya honey" ujar Alisya.
"I love you" ucap Arsen.
"I love you more" balas Alisya lalu mengakhiri panggilanya.
Arsen tak pernah lelah mengucapkan kata cinta kepada sang istri.
🌹🌹🌹🌹
Di rumah Ragan Gavin sedang bermain bola bersama Cia di halaman belakang, bocah kecil itu seolah melupakan sang mamah yang tengah mencarinya.
Renata menegok halaman belakang karena mendengar suara orang yang sedang bermain, dia melihat Gavin yang sedang bermain bersama Cia.
"Kapan tuh bocah datang kesini, tau-tau sudah bermain bola aja" gumam Renata heran.
Renata menghampiri mereka berdua. Cia yang melihat mommy nya menghampirinya pun menghentikan permainanya.
"Gav, kamu kesini sama siapa" tanya Renata.
"Sendili, tadi di antal sama sopil" jawab Gavin sambil duduk berselonjoran di rumput.
"Kami sudah bilang sama mamah belum kalau mau kesini" tanya Renata.
"Gavin nda bilang mamah, kalau bilang nanti Gavin nda di bolehin kesini" jawab Gavin membuat Renata menepuk keningnya.
"Yasudah, lanjut lagi mainnya mommy mau kedalam dulu" ucap Renata.
Gavin dan Cia menganggukkan kepalanya.
Renata masuk kedalam meninggalkan keduanya, Dia mengirim pesan ke Alisya memberi tahunya kalau putranya ada di rumahnya.
Sore hari Reva dan Reynand pulang dari kantor, wanita hamil itu ternyata menemani suaminya hingga selesai jam kerja.
Semenjak menikah dengan Reynand, Reva tidak lagi bekerja di perusahaan Dinata, saat ini perusahaan itu jadi di kelola oleh Erik, karena Arsen terus memaksanya untuk mengambil alih.
"Kak Leva... " teriak Gavin sambil berlari kencang menghampiri Kakaknya.
Namun belum sempat Gavin menyentuh tubuh kakaknya, Reynand sudah menagngkatnya lebih dulu.
"Hati-hati Gav. jangan kencang-kencang larinya nanti kalau nabrak kak Reva, terus kak Revanya jatuh gimana, kasihan dedek bayinya nanti" ucap Reynand lembut agar tak membuat bocah kecil itu menangis.
"Solly kak Ley, Gavin cuma kangen sama kak Leva, makana Gavin senang lihat kak Leva sudah pulang" sahut Gavin mengucapkan maaf kepada sang kakak ipar.
"It's okay, kak Rey maafin. tapi lain kali jangan di ulangi lagi ya" ucap Reynand sambil menurunkan Gavin dari gendongannya.
Bocah kecil itu beralih mendekati kakaknya.
"Dari kapan Gavin datang kesini" tanya Reva kepada adiknya.
"Dali siang, tapi telnyata kak Leva na nda ada di lumah" jawab Gavin.
"Kenapa kamu tidak bilang sama kaka Reva kalau kamu mau kesini" ucap Reva.
"Gavin bilangna pakai apa, kan Gavin nda boleh pegang hp sama mamah" sewot Gavin.
"Gaya elit beli hp sulit" ejek Reva.
"Bukan nda bisa beli, tapi nda di bolehin sama mamah pegang hp, paham tidak sih" kesal Gavin.
Reva menahan tawa melihat adiknya merajuk, wanita hamil itu tak pernah bosan menggoda adiknya.
Tak lama Arsen datang kerumah Regaan, bersamaan dengan Reagan yang juga baru pulang dari kantornya.
"Ngapain kamu kesini Ar" tanya Reagan.
"Jemput si bontot, tadi siang dia kabur kesini kata mamahnya" sahut Arsen di sambut gelak tawa sama Reagan.
"Makanya jangan kebanyakan anak, pusing kan lo" ledek Reagan.
"Kata orang banyak anak banyak rejeki" balas Arsen santai.
Untung anak Reagan cuma dua dan sudah besar semua, kalau masih punya anak kecil apalagi cowok pasti nasibnya kurang lebih akan sama dengan sepupunya itu.
Mereka berdua masuk kedalam mencari keberadaan keluarganya.
"Assaalamualaikum" ucap Arsen dan juga Reagan secara bersamaan.
Membuat anak-anak nya menoleh mendengar suara keduanya.
"Waalaikum salam" jawab mereka kompak.
Regan dan Arsen duduk di sofa yang maiah kosong, mereka ikut bergabung bersama anak-anaknya.
"Papa mau ngapain kesini" tanya Gavin mengerutkan dahinya.
"Jemput kamu. memangnya kamu tidak mau pulang" sahut Arsen jengkel.
"Gavin nda mau pulang, Gavin mau tidul sama kak Leva aja" Gavin menolak dia ajak pulang sama papahnya.
Reva dan Reynand tercengang mendengar ucapan Gavin. bagaimana bisa bocah kecil itu ingin tidur bersama.
Bersambung.
jangan lupa like, koment, vote, gift🙏
Happy reading guys 🙏