
"Kamu Alisya kan" ucap seorang perempuan sambil menepuk bahu Alisya dari belakang.
Alisya menoleh karena merasa ada yang memanggilnya dari belakang.
Alisya langsung merubah mimik raut wajahnya.
Dia adalah Nessa anak dari pamannya yang dulu pernah menjadi wali nikahnya. Paman Alisya tak pernah mengakui dirinya dan juga mediang orang tuanya sebagai saudara, karena keluarga Alisya miskin jadi mereka merasa malu mengakui mediang orang tuanya sebagai keluarga.
Dan sepupunya ini juga dari dulu tidak pernah menganggap dirinya.
"Hmmmm...." gumam Alisya dengan wajah datar.
"Wow, aku tak menyangka sepertinya benar kata ayahku kalau kau sekarang berubah jadi cantik dan kaya" sindir Nessa dengan wajah pongahnya melirik belanjaan Alisya.
"Tentu saja, bukankah roda ini berputar nona Nessa, hati-hati...bisa saja nanti giliran kamu dan keluargamu yang ada di bawah" ucap Alisya santai dengan senyum mengejek.
"Berapa mbak" tanya Alisya kepada kasir untuk membayar semua belanjaannya.
"136jt nyonya" jawab kasir.
Alisya menyodorkan kartu black card pemberian suaminya, sejak tadi Nessa memperhatikan Alisya.
"Shitt...ternyata dia beneran kaya, bahkan dia punya black card yang hanya di miliki oleh para sultan" batin Nessa.
Setelah membayar Alisya berjalan mendekati suaminya, tanpa malu Arsen langsung merentangkan kedua tangannya dan membawa Alisya kedalam pelukannya.
"Honey, lepas ih...malu di lihatin pengunjung yang lain" pinta Alisya meronta minta di lepas.
"Biarin saja, mereka hanya iri melihat keromantisan kita baby" ucap Arsen melonggarkan pelukannya, dia menggesekkan hidungnya ke hidung Alisya.
Reva dan Reynand melirik sinis kedua orang tuanya yang asik bermesraan.
"Pelukan telus...dasal tidak tahu malu" sindir Reynand.
"Bocil syirik aja" sahut Arsen melepas pelukannya.
Reynand merotasi matanya jengah.
Nessa dari tadi tak berhenti memperhatikan Alisya, bahkan dia bisa lihat kalau Alisya sangat di manjakan oleh suaminya.
"Suami Alisya terlihat kaya dan tampan, aku harus bisa merebutnya" gumam Nessa.
Alisya tak memperdulikan sepupunya itu yang dari tadi memperhatikannya, bahkan hanya untuk melihatnya saja Alisya malas.
"Mau beli apa lagi baby" tanya Arsen sambil merangkul pinggang istrinya dan membawanya keluar dari toko tersebut.
"Mau beli dalaman,honey" bisik Alisya di telinga Arsen. "yang lama sudah mulai pada sesak" lanjutnya.
"Baiklah, baby" lirih Arsen.."Sekalian beli lingerie warna merah, baby" bisik Arsen yang mendapat cubitan di perutnya oleh Alisya.
Arsen mengaduh sakit malah tertawa kecil melihat wajah istrinya yang tersipu. Dia suka melihat wajah malu-malu istrinya yang terlihat lucu dan menggemaskan.
"Lihat Ley, meleka malah asik beldua, tidak mempelhatikan kita....sakit sekali hati Leva Ley" ucap Reva lirih sambil memegangi dadanya yang seolah merasa sesak.
Reynand merotasi malas bola matanya, "selalu saja beldlama" ketus Reynand. Reva mencebikkan bibirnya kesal.
Masuk toko underwear Alisya langsung memilih bra dan beberapa ****** *****, sedangkan Arsen diam-diam memilih banyak lingeri berbagai model dan warna untuk istrinya lalu menyuruh pegawai toko untuk membungkusnya secara terpisah.
Sedangkan dua bocil hanya duduk berdua di sofa pojokan yang ada di toko itu sambil melihat Arsen dan Alisya yang tengah asik berbelanja.
"Kalian mau beli apa, sayang" tanya Alisya kepada kedua bocil setelah selesai berbelanja.
"Telnyata mama masih ingat anaknya" ketus Reva dengan wajah juteknya.
"Tentu saja mama mengingatmu, bagaimana mungkin mama lupa sama anak mama yang suka bikin rusuh" ejek Alisya. Reva bergeming tak menyahuti ucapan Alisya lagi.
"Ley mau beli mainan boleh nda onty" tanya Rey mengutarakan keinginannya.
Alisya menoleh mengalihkan pandangan ke arah Reynand. "Boleh sayang, Ayo kita tinggal saja yang lagi ngambek" ucap Alisya melirih ke arah putrinya yang sedang merajuk.
"Kenapa baby" tanya Arsen dari belakang setelah membayar semua belanjaan istrinya.
Alisya menatap Arsen lalu melirik ke arah putrinya, Arsen mengikuti lirikan mata istrinya.
"Anak gadis tidak boleh cemberut" ucap Arsen sambil mengangkat tubuh kecil Reva kedalam gendongannya. "Putri cantiknya papa mau minta apa hmm" tanya Arsen sambil menciumi pipi chubby Reva.
Reva tergelak karena geli, dia terus meronta ddi gendongan papanya. "sudah papa...geli Leva na" pekik Reva.
"Janji dulu ngga bakal ngambek, baru papa lepasin" ucap Arsen.
"Iya Leva janji nda ngambek lagi" jawab Reva cepat.
Akhirnya Arsen berhenti mengecupi pipi Reva. Reva memandang wajah papanya. "Reva mau beli es klim sama mainan boleh nda" pinta Reva dengan puppy eyes nya.
Arsen diam sejenak pura-pura berpikir untuk menggoda putrinya.
"Boleh ngga ya" goda Arsen.
"Papa pliss..." mohon Reva sambil menelungkupkan tanganya.
"Baiklah, sekarang cium papa dulu"jawab Arsen.
Cup
Cup
Cup
Reva mencium semua wajah papanya dengan girang.
Mereka berempat akhirnya menuju ke toko mainan, Reva dan Reynand sudah lebih dulu sampai di toko mainan, mereka memilih satu mainan yang mereka suka, karena Alisya tidak pernah memperbolehkan putrinya beli banyak mainan. Tapi tetap saja tiap kali suaminya ada perjalanan bisnis ke luar kota pasti akan membelikan banyak mainan untuk putrinya dan juga Reynand.
Usai membeli mainan mereka pergi dari mall lalu menuju ke restoran Alisya, karena sedari tadi mereka belum makan dan sekalian Alisya mengecek pekerjaan karyawannya, karena semenjak hamil Alisya sudah jarang ke restoran.
"Onty Dewi, Leva cantik datang ini" teriak Reva sambil mencari Dewi ke ruangannya, semenjak Alisya hamil, Dewi lah yang di percaya Alisya untuk di tugaskan mengelola restoran sementara, namun masih di bantu oleh Alisya.
"Jangan teriak-teriak sayang, onty Dewi ngga budek ini" sahut Dewi membuat Reva cengengesan dengan wajah imutnya.
"Onty kangen Leva nda? Halus kangen, kalau ngga Leva nda mau belmain sama onty lagi" tanya Reva sambil mengancam Dewi.
"Hai nona muda, kamu ini tanya atau sedang mengancam onty" ucap dewi tidak terima.
"Dua-duanya onty." shut Reva. "Onty Dewi sudah punya pacal belum" tanya nya lirih supaya tidak di dengar mamanya.
Dewi mengerutkan dahinya tak mengerti.
"Memangnya kenapa" tanya Dewi.
"Mau nda Leva comblangin sama om Nino? hihihihi" tanya Reva setelah itu lari meninggalkan Dewi yang menganga.
Dewi menggeleng kepalanya. "Tuh anak ada aja klakuannya, sok-sokan mau nyomblangin orang, kek ngerti aja" gerutu Dewi.
Singkat cerita, setelah selesai makan mereka pulang ke rumah, karena langit juga sudah gelap...Reva dan Reynand ketiduran di mobil karena kelelahan.
Arsen mengangkat Reva lalu membawanya masuk kedalam kamar putrinya, sedangkan Reynand di angkat oleh sopirnya dan membawa nya ke kamar Reynand, karena terlalu sering menginap akhirnya Arsen membuatkan kamar khusus untuk keponakannya itu, Arsen membaringkan Reva di ranjang lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh putrinya.
"Good night sayang, semoga tidur nyenyak" ucap Arsen sambil mencium kening putrinya sayang.
Bersambung
Jangan lupa
Like
Koment
Vote
Gift
Follow
Happy reading guys🙏