Baby Girl

Baby Girl
BAB 133



Setelah sampai di depan restoran mamanya, dengan semangat Reva turun dari mobil dan berjalan masuk kedalam restoran di susul oleh Nino di belakangnya.


Reva langsung ke ruangan Dewi untuk mencari keberadaanya.


Tok


Tok


Tok


"Masuk" ucap seseorang dari dalam.


Ceklek


Reva membuka pintu, lalu masuk ke dalam ruangan Dewi. Membuat perhatian Dewi teralihkan.


"Kamu kesini sama siapa sayang" tanya Dewi sambil menghentikan pekerjaannya.


"Leva kesini sama om Nino, mau ajak onty Dewi temani Leva belmain di taman hibulan onty" jawab Reva sambil melangkah mendekati Dewi.


Sedangkan Nino langsung duduk di sofa, tanpa menunggu di persilahkan oleh pemilik ruangan tersebut sambil memperhatikan interaksi mereka.


Kurang sopan memang, tapi begitu lah Nino.


"Hah? Ngpain? Mana bisa Aunty meninggalkan pekerjaan Aunty" tanya Dewi bingung.


Pasalnya ini weekend, sudah pasti Restoran ramai dan tak mungkin dia meninggalkannya.


"Onty nda usah khawatil, tadi Leva sudah bilang sama mama,mau ajak onty pelgi ke taman hibulan." bohong Reva.


"Biar aunty yang ijin sendiri sama mama kamu ya, aunty takut di pecat, nanti kalau aunty di pecat siapa yang mau kasih makan aunty" ucap Dewi takut.


"Onty tidak pelu bilang mama lagi, mama sedang sibuk jaga kembal, kalau nanti di pecat ada om Nino yang akan kasih makan onty" bujuk Reva asal.


"Ck, anak ini ternyata licik juga" batin Nino.


Dewi melongo mendengar kalimat terkahir Reva.


Dia pikir memang dirinya siapanya Nino, sampai Nino mau ngasih makan dia.


"Sudah cepat, nda usah banyak belpikil, nanti kebulu siang onty" desak Reva tak sabaran.


"Ok, tunggu sebentar....onty mau bereskan ini terlebih dahulu" sahut Dewi seraya menghela nafas berat merapihkan berkas laporan keuangan yang sedang dia kerjakan.


Anak bos nya ini memang pemaksa, dia akan terus membujuknya sampai orang itu mau memenuhi keinginanya.


Reva menatap Nino sembari memberikan kode kalau dirinya tengah berhasil membujuk Dewi.


Nino tersenyum tipis melihat kode yang di berikan oleh Reva, gadis kecil itu memang cerdik dalam hal merayu orang.


"Sudah?" tanya Nino.


"Sudah tuan" jawab Dewi yang sudah menenteng tas nya.


"Panggil Nino saja, jangan terlalu formal" pinta Nino.


"Baiklah, Nino" ucap Dewi gagap, Nino mengangguk sembari tersenyum menatap wajah malu-malu Dewi.


Dewi menggandeng lengan Reva keluar dari ruangannya, Nino dengan setia mengekori keduanya.


Mereka berjalan menuju ke parkiran dimana mobil Nino berada.


Nino membukakan pintu mobil untuk Dewi.


"Onty Dewi depan ya, Leva mau duduk di belakang" pinta Reva.


Reva ingin memberikan kesempatan buat Nino untuk bisa mengobrol dengan Dewi.


"Tapi sayang" protes Dewi.


"Nda ada tapi-tapian onty, badan Leva sekalang belat, kasihan onty kalau halus memangku Leva" ucap Reva beralasan.


Dewi tampak memcebik, duduk di bangku sebelah kemudi. Sedangkan Nino memutari mobil nya lalu duduk di kursi kemudi.


Dewi tahu kalau Reva hanya alasan saja, akan tetapi dia belum tahu maksud gadis kecil itu membawanya pergi jalan-jalan.


Sedangkan di belakang Reva dengan santainya bermain ipad sambil memakan permen yupi kesukaannya.


Nino menyalakan mesin mobilnya dan mulai menginjak pedal gas untuk menjalankan mobilnya.


Mobil mulai beranjak meninggalkan retoran milik Alisya, di sepanjang perjalanan menuju ke taman hiburan mereka tidak ada yang terlibat obrolan sama sekali, membuat Reva kesal karena di dalam mobil terasa sepi.


"Kenapa Onty sama om Nino hanya diam saja, ngoblol kek bial Leva nda bosan, kalian sepelti patung saja" omel Reva memecah keheningan.


"Sepertinya aunty Dewi sedang sariawan sayang, makanya dia hanya diam saja" ledek Nino.


Plakk


Dewi memukul lengan Nino.


"Kau ini kenapa kasar sekali" keluh Nino.


"Siapa suruh asal bicara" ketus Dewi dengan wajah juteknya.


"Onty Dewi jangan kasal, ntal susah dapat pacalnya." timpal Reva.


Dewi merotasi bola matanya jengah, memangnya gadis kecil itu tahu apa tentang pacaran.


"Ngomong huruf "R" aja belum bisa, sok-sokan bilang pacaran, kek ngerti aja artinya" ejek Dewi.


"Onty Dewi jangan ejek-ejek Leva, nanti Leva pecat balu tahu lasa" sengit Reva.


Nino terkekeh melihat pertengkaran mereka.


"kamu seperti anak kecil saja" cibir Nino.


Dewi mengerucutkan bibirnya, enak saja dirinya di katai anak kecil.


Nino mencapit bibir Dewi yang sedang mengerucut menggunakan tangannya, sambil tetap fokus menyetir.


Dewi menepis tangan Nino, lalu membuang wajahnya kesamping. Ia menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah bak kepiting rebus.


Mobil yang di kendarai Nino sampai di salah satu taman hiburan yang ada di Jakarta.



"Ayo keluar" ajak Nino setelah mematikan mesin mobilnya.


"Cepat onty, Leva sudah nda sabal ingin belmain" ajak Reva antusias.


"Sabar sayang, nanti kamu jatuh" Dewi memperingati Reva yang mau keluar mobil begitu saja.


"Om Nino...tolong bantu Leva tulun" teriak Reva.


Nino dengan sabar membantu Reva turun dari mobil, jangan sampai anak bos nya itu jatuh, kalau lalu lecet...bisa murka bapaknya nanti.


Reva menarik tangan Nino dan Dewi secara bersamaan.


"Tunggu sayang, om Nino beli tiket masuknya dulu, kamu sama Aunty Dewi tunggu di sini dulu" Ucap Nino.


Mereka bertiga benar-benar seperti keluarga kecil yang bahagia, keberadaan Reva di tengah mereka membuat mereka berdua seperti orang tua yang sesungguhnya.


Nino berlari kecil menuju ke loket penjualan tiket. Nino membeli tiga tiket untuk mereka dan juga dirinya.


Setelah membeli tiket, Nino mengajak Reva dan Dewi masuk kedalam.


"Onty, leva mau naik itu boleh nda?" tanya nya sambil menunjuk ke arah komedi putar.


"Boleh sayang, ayo Aunty Dewi temani" jawab Dewi seraya membawa Reva naik ke komedi putar yang Reva mau


Nino membeli tiket Vip, jadi mereka bebas dari antrian.


Puas bermain komedi putar Reva mengajak Dewi dan Nino masuk ke rumah jahil.


Rumah jahil merupakan salah satu wahana yang cocok untuk bonding dengan keluarga.


Di sini pengunjung akan masuk kedalam ruangan yang seluruh sisinya adalah cermin dan harus mencari jalan keluar dari ruangan tersebut.


Mereka bertiga masuk ke dalam rumah jahil, ruangan yang di penuhi cermin membuat Reva pusing dan sedikit takut.


"On Nino ini luangan apa? kenapa banyak sekali celminnya? telus bagaimana calanya kita kelual dali sini" tanya Reva.


"Lah, om Nino juga tidak tahu sayang, tadi kan kamu yang ajak kita masuk kesini" jawab Nino.


Mereka bertiga mencari jalan keluar, taoi sejak tadi belum menemukannya.


Dewi mulai panik, dan tanpa sadar dia merangkul lengan Nino.


Nino melirik ke arah lengannya yang di rangkul Dewi, Nino mengelus punggung tangan Dewi lembut.


"Tenanglah, kita pasti akan menemukan jalan keluarnya." ucap Nino menenangkan Dewi.


"Tenang-tenang, dari tadi kita sudah berputar putar tapi tak ketemu juga pintu keluarnya" kesal Dewi.


"Onty Dewi belisik, kita halus fokus supaya bisa kelual dali tempat ini" omel Reva yang sedang mencoba berpikir menganalisa ruangan tersebut.


Reva seperti tahu sesuatu, lalu mengajak mereka mengikutinya.


"Ayo, sekalang om Nino sama onty Dewi ikutin Leva, Leva sudah tau ini jalan kelualnya" ajak Reva sok tahu.


"Kamu jangan sok tahu ya Reva, nanti kalau kita semakin tersesat gimana" ucap Dewi.


"Ontu Dewi tenang saja, pelcaya sama Leva, kita pasti bisa kelual dali sini" sahut Reva sambil berjalan membuka satu persatu pintu yang semuanya terbuat dari cermin.


Nino hanya mengikutinya saja, semakin lama tersesat berarti semakin lama pula Dewi merangkul lengannya.


Akhirnya pintu terakhir membawa mereka keluar dari rumah jahil tersebut.


"Tuh kan kita bisa kelual, makanya onty Dewi halus pelcaya sama Leva" ucap Reva jumawa.


Dewi mendengus dengan tingkat kesombongan Reva yang lumayan akut.


"Eh"


Dewi melepaskan tangannya yang merangkul lengan Nino.


Nino tersenyum kecil melihat Dewi yang salah tingkah.


"Cie...cie... Om Dewi pegang-pegang tangan om Nino" goda Reva sambil tertawa cekikikan.


Dewi melengoskan wajahnya malu.


"nda usah malu Onty, om Nino sekalang sedang nda puna pacal katanya" ucap Reva masih menggoda Dewi.


"Sudah sayang, nanti wajah aunty nya tambah merah" timpal Nino.


Bersambung.


Happy reading guys🙏