
Ceklek
Pintu kamar terbuka. Arsen melihat istrinya sedang duduk sambil bersandar di ranjang tempat tidur sambil meluruskan kakinya.
Arsen mendekati Alisya dengan membawa segelas susu hamil yang dia buat sendiri oleh kedua tangannya.
Arsen mengelus surai panjang istrinya."Capek hmmm" tanya Arsen penuh kasih sayang.
Alisya mendongakkan wajahnya ke atas."Iya honey, kakinya pegel" adunya sambil memijat kakinya.
Arsen mengecup kening istrinya lalu menyodorkan segelas susu kepada istrinya. "Minum susunya dulu baby, setelah itu aku akan memijat kakimu" pinta Arsen.
Alisya menerima segelas susu dari tangan suaminya, lalu meneguknya hingga tandas. "Terima kasih honey" ucap Alisya sambil mengembalikan gelasnya kepada Arsen.
Arsen meletakkan gelasnya di atas nakas. "Tidurlah baby, aku akan memijat kakimu" titah Arsen lalu merangkak naik ke atas ranjang.
Arsen membantu Alisya merebahkan dirinya. Dia menyusun bantal untuk istrinya, supaya istrinya itu merasa nyaman.
Alisya terharu di perlakukan begitu lembut oleh suaminya, berbeda dengan kehamilan nya dulu yang harus berjuang sendiri demi sang buah hati.
Jangankan ingin di perhatikan, bahkan sosok pria yang seharusnya bertanggung jawab dengan kehamilannya saja malah dengan tega menghancurkan nya hingga ke dasar.
Beruntung Alisya kuat, hingga dia bisa bangkit dan membuktikan pada semua orang yang dulu pernah menghinanya. Kini dia sukses dan mempunyai suami yang sangat menyayanginya.
Arsen mulai memijat kaki istrinya, Alisya merasa tak enak hati di perlakukan seperti itu, dia merasa kurang ajar pada suaminya. "Tidak usah sayang, ini hal biasa sering di alami oleh ibu hamil, nanti juga baik sendiri" cegah Alisya.
Arsen melihat wajah Alisy lalu tersenyum tulus kepadanya. "Tidak apa baby, kamu seperti ini kan juga karena aku, kadi biarkan aku membantumu ya" ucap Arsen lembut. "Sekarang, pejamkan matamu...ini sudah terlalu larut, kasihan baby nya" sambungnya.
Alisya mengangguk, kemudian mencoba memejamkan matanya, Arsen melanjutkan kegiatanya memijat kaki Alisya.
Hanya butuh waktu sepuluh menit sudah terdengar dengkuran halus dari istrinya, mungkin istrinya lelah selepas menghadiri acara pesta perusahaan tadi.
Arsen menghentikan pijatannya di kaki Alisya, dia menarik selimut menutupi tubuh istrinya hingga sebatas dada.
Arsen mendekatkan wajahnya ke perut Alisya. "Selamat malam anak-anak papa, jangan nakal ya kasihan mamanya mau istirahat" bisik Arsen lalu mencium perut istrinya.
Usia mencium perut Alisya kini Arsen beralih mencium kening istrinya. Setelah itu dia ikut membaringkan tubuhnya di sebelah istrinya, Arsen membawa Alisya ke dalam pelukannya sambil mengusap usap punggung istrinya supaya istrinya tidur nyenyak, tak butuh waktu lama Arsen sudah menyusul istrinya yang lebih dulu mengarungi mimpinya.
Pagi hari Alisya bergegas bangkit dari tempat tidurnya, dia merasakan gejolak di dari dalam perutnya, dengan langkah cepat Alisya masuk kedalam kamar mandi dan langsung saja memuntahkan isi perutnya.
Hoeekkk
Hoekkkk
Arsen meraba-raba mencari istrinya namun sudah tak ada di sampingnya. Arsen samar-samar mendengar suara istrinya yang sedang muntah.
Langsung saja Arsen loncat dari atas ranjangnya, dia berlari ke kamar mandi menyusul istrinya.
"Ya tuhan baby..."pekik Arsen yang melihat istrinya lemas sambil bersandar di dinding kamar mandi sambil mengelap mulutnya.
Arsen langsung menggendong istrinya dan membawanya ke tempat tidur. "Baby, kita ke dokter ya...aku tak bisa melihatmu setiap pagi seperti ini. Hatiku sakit melihatnya...andai semuanya bisa aku pindahkan, aku akan rela menggantikan penderitaanmu ini baby."ucap Arsen sambil menangis memeluk istrinya.
Arsen akhir-akhir terlihat lemah jika sudah menyangkut keluarganya, dia tak bisa melihat orang yang di sayanginya menderita.
Alisya mengusap kepala suaminya yang ada di dadanya."Aku tak apa honey, bahkan dulu lebih parah dari ini saat hamil Reva," ucap Alisya.
Bukannya berhenti mennagis, tangis Arsen justru makin pecah...dia tak bisa membayangkan penderitaan istrinya dulu, berjuang hidup sendiri dengan posisi Aisya berbadan dua tanpa ada sanak saudara di dekatnya.
"Andai dari dulu aku sudah mengenalmu baby, aku pasti akan selalu menemanimu" lirih Arsen yang sesegukan.
Alisya tersenyum melihat suaminya yang sensitif. "Semua sudah berlalu honey, sekarang aku sudah bahagia mempunyai suami seperti kamu" sahut Alisya. "Jangan menangis, lebih baik kamu segera mandi karena pasti Reva sudah menunggumu di bawah" lanjut Alisya.
Dengan berat hati Arsen meninggalkan istrinya, dia ke kamar mandi untuk membersihakn tubuhnya. Lalu Arsen memakai pakaianya dan turun ke bawah untuk sarapan.
*
*
Usai lima menit berlalu Reva keluar dari kelasnya bersama Reynand.
Siska yang melihat penjaga sekolah lengah pun langsung saja mengajak Erik untuk masuk ke dalam.
"Sayang, Reva..."panggil Siska yang sudah lumayan dekat dengan Reva.
Reva dan Reynand menoleh karena merasa ada yang memanggilnya. "Kenapa nenek lampil itu ada di sini Ley" bisik Reva supaya Siska tidak mendengarnya.
"Aku tidak tahu, Kemana om Max? Kenapa lama sekali" ucap Reynand.
Siska dan Erik mendekati mereka berdua yang sedang berbisik. "Kalian mau pulang ya, ayo biar nenek antar kamu sama Daddy Erik" tawar Siska.
"Telima kasih, kita sedang menunggu papa" tolak Reva lembut.
"Papa kamu tak akan menjemputmu, dia sudah tidak sayang lagi sama kamu karena sebentar lagi dia akan mempunyai anak baru dari mama kamu" ucap Siska mencoba menghasut Reva.
Erik menegur mamanya, dia tidak suka mamanya berbicara seperti itu. "Mom" panggil Erik.
Siska menatap putranya tajam. "Ini cara satu-satunya untuk menyelamatkan perusahaan kita yang kian menurun Erik" hardik Siska.
"Ayo kita pelgi dali sini Leva" ajak Reynand ketika melihat Erik dan Siska sedang berdebat.
Dengan diam-diam Reynand membawa Reva keluar sekolah meninggalkan mereka. Erik dan Siska belum menyadari kalau kedua bocah itu sudah keluar dari sekolah.
Beruntung ketika sampai di luar sekolah Reynand melihat mobil Max yang baru saja tiba.
Max keluar dari mobil menemui kedua bocah itu.
"Kenapa kalian di luar, nanti kalau di culik bagaimana" tegur Max.
Reynand mengangkat wajahnya. "Kita halus segela pelgi dali sini om, sebelum nenek lampil itu mendekati Leva lagi" jawab Reynand.
Karena sejak tadi Reva hanya terdiam. Tanpa banyak kata Max langsung membawa kedua bocah itu masuk kedalam mobil meninggalkan area sekolah
Di dalam sekolah Siska dan Erik baru tersadar Kalau Reva sudah pergi.
Siska clingak clinguk mencari Reynand dan Reva."kemana mereka Rik" tanya Siska.
Erik juga mengedarkan pandangannya. "Erik tidak tahu mom, mungkin mereka keluar dari area sekolah" jawab Erik.
Bersambung
Jangan lupa masukkan ke favorit guys, supaya dapat notif tiap kali up bab baru.
**Happy reading
Jangan lupa
Like
Koment
Vote
Followππππ
Love sekebon dari othorπππππ**