
"Memangnya apa yang ingin kamu bicarakan dengannya" tanya Nino penasaran sekaligus cemburu.
Pasalnya istrinya ini jarang sekali terlibat obrolan dengan Arsen, dan kini istrinya tiba-tiba malah ingin menemuinya, dan terlihat begitu serius.
"Jangan banyak tanya sayang, lebih baik kita segera menemui tuan Arsen" desak Dewi tak ingin meladeni kecemburuan suaminya itu.
Nino menghela nafas pasrah, karena tidak mendapat jawaban dari istrinya.
"Yasudah, kebetulan tuan Arsen ada di ruangannya" sahut Nino.
Nino mengajak istrinya keluar dari ruangannya, lalu menuju ke ruangan Arsen.
Terlihat Arsen sedang serius mengerjakan banyak pekerjaannya yang nampak menggunung di meja kerjanya.
Ini alsannya mengapa Arsen tidak bisa mengabaikan perusahaannya terlalu lama, di tambah lagi perusahaan Dinata yang ia akuisisi dulu kini sudah berkembang pesat, membuat pekerjaan Arsen semakin bertambah.
Ceklek.....
Pintu ruangan Arsen di buka oleh Nino dan Dewi.
Arsen menghentikan pekerjaanya lalu melihat ke arah mereka.
"Ada apa No? tumben Dewi kemarin, apa kalian ingin berkencan" tanya Arsen ketika melihat sepasang suami istri itu memasuki ruangannya.
"Tidak tuan, hanya saja ada yang ingin Dewi bicarakan dengan anda" sahut Nino sambil mengajak Dewi duduk di sofa yang ada di ruangan Arsen
Dewi langsung mengeluarkan laptopnya dari dalam tas, lalu menyalankannya.
Arsen memicingkan matanya penasaran, tumben sekali Dewi ingin bicara dengannya pikir Arsen.
Arsen beranjak dari kursi kebesarannya dan berjalan menghampiri mereka. Arsen duduk di sofa yang masih kosong.
"Ada apa Dew?" tanya Arsen.
Dewi tidak menjawabnya, justru Dewi langsung menyodorkan laptopnya ke hadapan Arsen yang sedang menayangkan adegan Rachel memukuli Brian.
Arsen melihat video itu dengan begitu serius, terkadang ekpresi wajah Arsen berubah ubah, kadang marah, kadang juga dia tersenyum.
Arsen cukup puas melihat putrinya menghajar Brian dengan membabi buta,
Lalu Arsen kembali menegakkan duduknya dan melihat kearah Dewi.
"Apa maksudnya kamu memperlihatkan rekaman ini kepada saya, Dew" tanya Arsen yang masih tak mengerti.
"Lelaki yang di video itu meminta ke pihak restoran untuk memberikan rekaman tersebut, akan tetapi saya sudah bilang ke mereka jangan lebih dulu memberikannya, dan saya menyuruh mereka untuk kembali ke restoran besok pagi" jelas Dewi yang memang tidak tahu nama Brian, dia hanya pernah melihat Reva jalan dengannya, tapi Dewi tidak tahu namanya.
"Saya hanya takut lelaki yang ada di vieo tersebut melaporkan Rachel ke polisi, dan video itu bisa memberatkan Rachel nantinya" imbuhnya.
Arsen tersenyum smirk mendengar penuturan Dewi, apa ia kira akan semudah itu memenjarakan putrinya.
"Aku sudah lama mencium hal yang tak beres pada Brian, tapi melihat Reva begitu menyayanginya membuatku enggan untuk membeberkan sosok Brian ini, tapi kali ini lain cerita.
"Kau hapus semua video itu, No, aku tak akan membiarkan anak bau kencur itu bertindak semaunya. Apa di pikir setelah menyakiti putriku lalu dia bisa menghancurkan putriku yang lain, apa dia itu bodoh sudah berani mengajakku bermain." tegas Arsen dengan sorot mata berubah tajam seperti pisau yang siap mengujam lawannya.
"Baik tuan" sahut Nino patuh, setelah itu ia menarik laptop dari hadapan Arsen, ia akan menghancurkan rekaman tersebut.
Arsen merogoh sakunya dan mengambil poselnya, ia menghubungi Max sambil melihat Nino yang tengah sibuk menghapus rekaman itu.
"Hallo Max" sapa Arsen setelah panggilannya tersambung.
"Hmmm" gumam Max dari sebrang telpon, membuat Arsen mendegus kesal.
"Cari semua informasi tentang perusahaan orang tua Brian, aku tunggu secepatnya" perintah Arsen kepada Max.
"Apa dia penting, sampai kamu menyuruhku mencari informasinya" sahut Max malas.
"Tentu saja penting bod*h, dia sudah menghianati Reva, lalu sekarang Reva sedang terbaring di rumah sakit" pekik Arsen kesal dengan mantan anak buahnya itu.
"Shitttt...., kenapa tidak bilang dari tadi, kau masih berhutang penjelasan kepadaku" umpat Max dan langsung mematikan panggilannya begitu saja.
Sedangkan di ruangan Arsen sibuk mengumpati Max yang sudah tidak ada hormatnya sama sekali kepadanya.
Setelah Reva memasuki umur 10th, Max tak algi mengawal Reva, tapi meskipun begitu Max masih setia dengan Arsen, ia selalu siap kapan aja jika Arsen membutuhkannya.
Semenjak itu hubungan Max sama Arsen tak lagi seperti dulu yang kaku, Max yang dulu berbeda sama Max yang sekarang yang sudah berani membuat Arsen jengkel.
"Sudah tuan" Kata Ninl setelah menyelesaikan tugasnya menghapus rekamannya.
"Bagus, kau memang selalu bisa aku andalkan No," puji Arsen.
"Dan kamu Dew, besok kamu dampingi Alisya menemui si cecunguk itu di restoran, aku ingin mereka tahu sedang berhadapan dengan siapa" titah Arsen.
Dewi megangguk patuh.
"Kalau begitu kaliam boleh kembali" ujar Arsen.
Nino merapihkan laptopnya lalu pergi meninggalkan Arsen yang sendirian di kantornya.
Arsen kembali ke tempat duduknya.
"Hufff... lebih baik aku segera menyelesaikan berkas sialan ini, setelah itu pulang kerumah bertemu dengan istri cantiku itu" ucap Arsen sambil senyum-senyum sendidi mengingat wajah cantik sang istri.
Bersambunh